
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Cyberthreat.id – Aparat keamanan Amerika Serikat mengkhawatirkan serangan siber bisa mengacaukan pemilihan presiden Amerika Serikat pada 3 November 2020.
Salah satu kekhawatiran yang paling tinggi adalah serangan ransomware, jenis malware yang mengunci file apa pun atau akses ke data komputer. Peretas biasanya meminta tebusan jika korban ingin akses data kembali seperti semula.
“Serangan ransomware yang tepat waktu dapat melumpuhkan pelaksanaan pemungutan suara,” tulis Associated Press, diakses Senin (3 Juli 2020).
Ransomware dapat mempengaruhi sistem pemilihan secara langsung atau bahkan tidak langsung, karena menginfeksi jaringan pemerintah yang lebih luas yang mencakup basis data pemilu.
Skenario yang relatif sederhana saja, misal, peretas menanam malware di banyak jaringan yang mempengaruhi basis data pemilu dan mengaktifkan sebelum pemilihan. Bisa pula, peretas menargetkan sistem tabulasi suara perolehan.
FBI dan Departemen Keamanan Dalam Negeri telah mengeluarkan nasihat kepada pemerintah daerah, termasuk rekomendasi untuk mencegah serangan.
“Adanya Pemilu 2020, infrastruktur pemilu menjadi target,” kata Sekretaris Negara Colorado Jena Griswold. Apalagi, kata dia, pada Pemilu 2016 juga ada percobaan peretasan.
Jumlah serangan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Tahun lalu, ransomware terjadi di sejumlah kota di Texas dan paling tinggi dalam sejarah peretasan di AS.
"Kami melihat entitas negara bagian dan lokal ditargetkan dengan ransomware hampir setiap hari," kata Geoff Hale, seorang pejabat keamanan pemilu juga Badan Keamanan Siber dan Keamanan Infrastruktur di Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS.
Upaya pencegahan dan skenario pemulihan cepat jika terjadi serangan telah disiapkan oleh otoritas federal terkait. Di kantor-kantor pemlihan, pencadangan data dilakukan secara teratur.
Di Colorado, misalnya, kantor pemilihan menyimpan data registrasi pemilihnya yang di dua lokasi terpisah dan aman. Sehingga dengan mudah menggeser operasinya jika sewaktu-waktu terkena serangan siber.[]
Redaktur: Andi Nugroho
Share: