
Twitter | Foto: Unsplash
Twitter | Foto: Unsplash
Cyberthreat.id – Serangan siber yang menargetkan akun Twitter bukanlah hal baru. Namun, pembajakan massal akun terverifikasi (centang biru) dari tokoh-tokoh terkemuka AS pada Rabu (15 Juli 2020) menjadi catatan terburuk sepanjang sejarah media sosial.
Sejak serangan itu, Twitter Inc memperbarui setiap penyelidikan kepada publik terkait perkembangan insiden tersebut—sesuatu yang patut dicontoh bagi organisasi mana pun ketika terjadi serangan siber.
Tim keamanan Twitter tengah menelusuri catatan (log) di server untuk mencari apa yang terjadi dan siapa yang berada di belakang intrusi tersebut.
Menurut ZDNet, diakses Minggu (19 Juli), peretas melanggar backend Twitter sehingga bisa mengakses dan mencuitkan tawaran investasi mata uang kripto (cryptocurrency) atas nama akun tersebut. Backend adalah tampilan situs web yang dibuat khusus untuk mengelola konten situs web.
Sejumlah akun yang diretas dan menawarkan investasi itu, seperti akun Barack Obama, Jeff Bezos, Joe Biden, Bill Gates, Elon Musk, Appple, Kanye Wes, Kim Kardashian, dan Michael Bloomberg.
Berita Terkait:
Sebelum tweet penipuan itu dihapus, catatan blockchain yang tersedia untuk umum menunjukkan para penipu (scammer) tersebut telah menerima cryptocurrency senilai lebih dari US$ 100.000, tulis Reuters.
Twitter juga meyakini bahwa kemungkinan besar peretas berusaha menjual nama pengguna dan kata sandi dari akun-akun yang dibajak tersebut.
Untuk memahami ini secara sederhana, berikut sejumlah fakta mengenai pembajakan massal tersebut (disarikan dari ZDNet):
Berita Terkait:
Share: