
Mutya Hafid
Mutya Hafid
Cyberthreat.id - Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Hafid mendorong pemerintah untuk meningkatkan kemampuan [skill] tenaga pendidik dalam penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
"Komisi 1 mendorong kolaborasi multi-pihak guru, murid, orang tua, sekolah, masyarakat untuk efektivitas Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang berkualitas [...] jadi kalau misalnya sesudah pertemuan ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bisa membuat program literasi digital yang menyasar guru-guru terlebih dahulu akan sangat baik karena para pendidik sekarang saat paling krusial mereka punya literasi digital yang baik," kata Meutya dalam webinar bertajuk "Menjaga Kualitas Belajar Dari Rumah di Masa New Normal" yang ditayangkan di kanal Youtube Kemkominfo TV, Jumat (10 Juli 2020).
Menurut Meutya, para pendidik perlu punya pemahaman tentang literasi digital untuk diajarkan kepada siswa, meski pun itu bukan tugas utama mereka.
"Itu mungkin tidak ada aturannya dari Kemendikbud, tapi itu perlu dilakukan oleh tenaga pendidik," ujarnya.
Menurutnya, posisi pendidik yang dekat dengan murid-muridnya menjadinya sebagai orang yang tepat untuk mengajarkan informasi digital mengingat saat ini banyak beredar informasi yang tidak benar.
"Ada hoaks di sosial media terutama, misinformasi, disinformasi, ini yang mungkin guru juga bisa mengingatkan anak didiknya,” ujar dia.
Kemudian, kata Meutya, guru bisa memberi contoh untuk berpikir ilmiah dengan mendorong anak didik untuk percaya pada sains, empiris dan masuk akal. Hal ini karena di internet banyak sekali hal-hal atau informasi terkait Covid-19 yang tergabung antara mitos dan fakta.
“Banyak sekali hal-hal terkait Covid ini adalah antara mitos dan fakta garisnya tidak jelas karena terlalu banyak informasi yang masuk tanpa tersaring, jadi menyaringnya adalah si pembacanya, oleh karena itu literasi digital sangat penting,” ujar Meutya.
Lebih lanjut, Meutya mengatakan guru juga dapat memberikan pemahaman terkait e-safety, peretasan, malware, link pengintai. Hal-hal tersebut, menurut dia, perlu dipahami oleh guru-guru dan anak didiknya. Tak hanya itu, kata Meutya, critical thinking juga penting yakni saring sebelum sharing informasinya.
“Ini saran kita jangan sampai bukan anak didiknya, tapi malah gurunya yang sering mem-forward berita atau informasi yang belum jelas tanpa melakukan saring terlebih dahulu,” ungkap dia.
Selain itu, Meutya mengatakan bahwa guru-guru harus paham bahwa PJJ melalui internet ini berbeda dengan pembelajaran langsung secara offline karena mediumnya berbeda sehingga pendidik perlu membuat konten-konten pembelajaran menarik melalui digital.
Meutya percaya bahwa TIK ini bermanfaat dalam dunia pendidikan. Seperti halnya anak murid yang perlu menyeberangi sebuah jembatan menuju ke sekolahnya, menurutnya, sekarang itu tidak perlu karena sekarang dijembatani oleh TIK. Materi pendidikan antara kota maju dengan di pelosok pun, kata dia, bisa seragam dengan adanya TIK ini.
“Jadi yang kita harapkan dengan mudahnya komunikasi saat ini, seperti saya di Jakarta, bapak ibu ada di Sumatera Utara, berarti bukan kita tidak bisa berkomunikasi dan berbagi ilmu. Jadi luar biasa sekali yang kita peroleh dengan kemajuan teknologi informasi kalau kita bijak memakainya. Ada juga sisi sisi yang tidak bijak dari internet yang harus kita waspadai,” kata dia.[]
Editor: Yuswardi A. Suud
Share: