
Kolonel Lek Dr. Ir. Arwin Datumaya Wahyudi Sumari
Kolonel Lek Dr. Ir. Arwin Datumaya Wahyudi Sumari
Cyberthreat.id - Ketua Cognitive Artificial Intelligence Research Group (CAIRG), Kolonel Lek Dr. Ir. Arwin Datumaya Wahyudi Sumari mengatakan saat ini belum ada konteks/situasi yang layak disebut sebagai perang siber (cyber warfare). Tetapi, ia mengingatkan bahwa cyber warfare bisa terjadi akibat serangan siber (cyber attack) yang melumpuhkan Critical Information Infrastructure Protection (CIIP) milik militer.
"Karena kalau kita bicara warfare, maka itu berkaitan dengan militer, perang antar militer antar negara," ujar Arwin dalam webinar bertajuk Artificial Intelligence in Military Industry yang diadakan oleh Bisa.Ai, Kamis (9 Juli 2020).
Terkait penerapan dan pengembangan Artificial Intelligence (AI) dunia militer, Arwin mengatakan bahwa secara organisasi, militer Indonesia belum mengimplementasikan AI dalam menghadapi cyber warfare.
"Untuk saat ini, secara organisasi, (militer) belum mengarah pada penggunaan AI untuk menghadapi cyber warfare. Dan sebenarnya, saat ini pun kita belum menghadapi cyber warfare sama sekali," ujarnya.
Arwin kemudian menjelaskan situasi yang terjadi saat ini adalah banyaknya muncul cyber attack sehingga menjadi gangguan serius terhadap cyber security.
"Bukan cyber warfare," tegas dia.
Adapun gangguan pada cyber security yang dimaksud Arwin adalah seperti kejadian akhir-akhir ini yang banyak diperbincangkan yaitu terkait kebocoran data dari berbagai instansi atau perusahaan.
"Beberapa waktu yang lalu beredar di banyak media tentang tersebarnya data-data kesehatan pasien Covid-19, itu pertama."
"Kemudian tokopedia juga di-hack, informasinya oleh orang yang tidak berwenang dan juga beberapa tempat lainnya. Bahkan bank juga banyak (cyber attack), tapi kalau bank kan juga jarang menyampaikan di media karena berkaitan dengan integritas dari isu-isu tersebut," ungkap Arwin.
Meningkatnya gangguan cyber security terjadi karena karena kemungkinan adanya kerentanan pada sistem yang lupa ditambal sehingga bisa diakses atau dimasuki secara ilegal.
"Pengambilan data atau informasi oleh orang yang tidak berhak seperti data kesehatan, kemudian data kependudukan, serta data di toko-toko online yang kemungkinan ada hole-hole yang terlupakan untuk ditutup sehingga mudah dimasuki."
Arwin juga sempat menyinggung soal penerapan dan pengembangan AI di Indonesia masih terfokus pada Machine Learning (ML) dan Deep Learning (DL) saja. Padahal, saat ini sudah berkembang AI kognitif yang berbasis Knowledge Growing System (KGS).
Kognitif, kata dia, bermain pada mekanisme cara berpikir manusia. KGS adalah teknologi baru hasil karya asli Indonesia yang ditemukan Arwin bersama alm. Prof Adang Suwandi Ahmad di laboratorium CAIRG. Berbeda dengan ML dan DL, KGS tidak memerlukan data-data diawal.
"KGS itu learning by interaction, langsung bisa digunakan, tidak butuh data banyak. Kalau AI dan Deep Learning butuh data banyak," ujarnya.[]
Redaktur: Arif Rahman
Share: