
Ilustrasi | Foto: Action Fraud
Ilustrasi | Foto: Action Fraud
Cyberthreat.id - Penjahat cyber diperkirakan berhasil mencuri £ 17 juta (hampir Rp 300 miliar) dari skema penipuan online yang berlangsung selama pandemi Covid-19. Berdasarkan data Pusat Pelaporan Penipuan dan Kejahatan Siber Nasional Inggris (National Fraud and Cybercrime Reporting Center), setidaknya 16.352 orang melaporkan telah menjadi korban penipuan belanja online.
Dari laporan tersebut terungkap, mayoritas korban berusia 18 hingga 26 tahun (24%), dan bertempat tinggal di London, Birmingham, Manchester, Leeds, Sheffield, Liverpool, Bristol dan Nottingham. Inggris memberlakukan Lockdown sejak 23 Maret dan berakhir April. Hingga kini (Juni) Inggris masih beradaptasi dengan New Normal.
Berdasarkan data laporan yang masuk, kebanyakan korban membeli barang-barang seperti ponsel (19%), kendaraan (22%), elektronik (10%) termasuk kit permainan dan laptop, hingga alas kaki (4%).
"Tetapi barang yang telah dipesan tidak pernah tiba," tulis National Fraud and Cybercrime Reporting Center (Action Fraud) di situsnya, Jumat (19 Juni 2020).
Penjual dan pelaku tipu-tipu paling banyak ditemukan di platform eBay (18%), Facebook (18%), Gumtree (10%) dan Depop (6%).
Kepala divisi tindak penipuan Action Fraud, Pauline Smith, menyebutkan tren penipuan yang menyerang konsumen dengan berusia muda sudah ada jauh sebelum terjadinya pandemi Covid-19 atau tepatnya selama 18 bulan terakhir.
“Sangat penting untuk berbelanja di situs yang Anda kenal dan percayai. Jika Anda menggunakan situs yang belum pernah Anda gunakan sebelumnya, lakukan riset dan periksa ulasan sebelum melakukan pembelian," kata Smith.
Ia juga menyarankan pengguna untuk selalu waspada terhadap email, teks, dan postingan media sosial yang menawarkan produk dengan harga murah, jauh lebih rendah dari harga normal. Karena hal tersebut adalah taktik umum yang digunakan oleh para penjahat siber.
Pengguna juga sangat disarankan untuk menggunakan kartu kredit dalam melakukan pembelian online karena akan memberikan lebih banyak perlindungan jika terjadi kesalahan.
Manajer distrik di RSA Security UK & Ireland, Ben Tuckwell, mengatakan, penipu online akan semakin berkembang saat ada kesempatan. Menurut dia, terjadinya perubahan perilaku belanja online menggunakan platform e-commerce telah menimbulkan banyak penipu online.
Selama awal tahun 2020, RSA berhasil memulihkan rincian lebih dari lima juta kartu unik yang diretas secara global. Itulah kenapa sangat penting bagi bank - sebagai penerbit kartu dan pengecer - meningkatkan perang terhadap penipu online, baik di saat krisis maupun di masa depan masyarakat sudah belanja online begitu pun transaksinya. Inilah yang membuat berbagai teknologi pendeteksi fraud dan anomali terus berkembang dan makin berharga.
"Bisnis perintis sudah menerapkan Machine Learning untuk memprediksi dengan lebih baik apakah dalam sebuah pembayaran terjadi kemungkinan penipuan atau aktivitas kriminal lainnya," ujar Tuckwell.[]
Redaktur: Arif Rahman
Share: