
Telegram | Foto: Freepik.com
Telegram | Foto: Freepik.com
Cyberthreat.id – Akhirnya Telegram bisa bernapas lega. Dua tahun dilarang, kini layanan olah pesan instan terenkripsi, pesaing WhatsApp, boleh dipakai lagi di Rusia.
Pemerintah Rusia mencabut larangan dua tahun, demikian pengumuman yang disampaikan badan pengawas telekomunikasi dan media Rusia, Roskomnadzor, di situs webnya seperti dilaporkan ZDNet, Kamis (18 Juni 2020).
Roskomnadzor mencabut larangan tersebut setelah jaksa Rusia mencapai kesepakatan dengan Pendiri Telegram Pavel Durov
Roskomnadzor mengatakan Durov "menyatakan siap untuk melawan konten-konten terorisme dan ekstremisme" yang dibagikan di platform-nya.
Hingga kini belum diketahui sejauh mana bentuk-bentuk kolaborasi antara Telegram dan Rusia dalam melawan konten terorisme.
Rusia melarang Telegram setelah serangan teroris pada 2017. Rusia secara resmi melarang Telegram pada 13 April 2018. Larangan itu muncul setelah Telegram menolak untuk bekerja sama dengan dinas intelijen utama Rusia, Federal Security Service (FSB).
Pada saat itu, para penyelidik FSB mencoba untuk mendapatkan kunci enkripsi dari Telegram untuk mendekripsi percakapan antara dua tersangka yang sedang diselidiki dalam pemboman kereta bawah tanah (metro) di Sankt Peterburg—antara stasiun Sennaya Ploshchad dan Tecknologichesky Institut—pada 2017.
Telegram menolak untuk bekerja sama, dan FSB mengajukan gugatan, yang akhirnya dimenangkan di Mahkamah Agung Rusia pada awal 2018.
Roskomnadzor awalnya mendenda Telegram, tetapi pengadilan Rusia memerintahkan Roskomnadzor untuk melarang aplikasi di Rusia.
Namun, Roskomnadzor kesulitan menegakkan larangan itu selama dua tahun terakhir. Telegram terus-menerus mengubah alamat IP server-nya dan juga menggunakan teknik yang disebut "domain fronting" untuk melewati larangan dan memungkinkan pengguna Rusia untuk terus menggunakan layanannya.
Dalam upayanya untuk melarang layanan di Rusia, pada satu titik, Roskomnadzor menerapkan larangan sementara terhadap lebih dari 19 juta alamat Amazon dan Google Cloud IP, menghalangi banyak layanan sah di Rusia, seperti semua layanan Google, game online , situs perbankan, pertukaran mata uang kripto, dan aplikasi seluler.
Rusia juga melarang lebih dari 50 layanan VPN dan proxy yang digunakan Rusia untuk mengakses layanan.
Ironisnya, Telegram tetap sangat populer di Rusia, tulis ZDNet.[]
Share: