
Ilustrasi
Ilustrasi
Cyberthreat.id - Twitter mengumumkan telah melarang dan menghapus 32.242 akun yang disebut sebagai bagian dari jaringan yang beroperasi di China, Rusia, dan Turki setelah menemukan ketiga kelompok itu mendorong agenda dan narasi politik lokal, dan terkait dengan entitas yang disponsori negara.
Sebelumnya, Twitter mengatakan perusahaan berfokus pada aktor yang disponsori negara untuk mencegah mereka memanipulasi dan memutarbalikkan percakapan publik.
"Kami percaya itu harus diungkap sebagai masalah kepentingan publik. Orang-orang dan organisasi dengan keunggulan kekuatan institusional dan secara sar menyalahgunakan layanan kami tidak mengembangkan wacana yang sehat, tetapi secara aktif bekerja untuk melemahkan. Ini merupakan pelanggaran terhadap prinsip, kebijakan, dan misi perusahaan kami untuk melayani wacana publik," tulis Yoel Roth yang mengepalai divisi integritas situs dalam sebuah unggahan di blog resmi perusahaan tahun lalu, ketika Twitter memblokir ribuan akun yang terkait dengan Iran, Rusia, Spanyol dan Venezuela.
Tahun ini, Twitter kembali melakukan hal serupa. Investigasi dilakukan bersama dua lembaga peneliti: Australian Strategic Policy Institute (ASPI) Dan Stanford Internet Observatory (SIO).
Berikut penjelasannya seperti dikutip dari blog resmi perusahaan yang diunggah hari ini, Jumat (12 Juni 2020).
China (terkait jaringan protes anti-Hong Kong)
Dari ketiga jaringan itu, yang terbanyak adalahyang berbasis di China yaitu 23.750 akun yang berfungsi sebagai inti dari jaringan sebagai penggunggah konten. Selain itu, masih ada sekitar 150 ribu akun jaringan lapis kedua yang bertindak sebagai "pendengung" atau untuk tujuan amplifikasi isu yang digulirkan.
"Dari sekitar 150.000 akun pendukung, mayoritas memiliki jumlah pengikut yang kecil atau tidak sama sekali dan dirancang secara strategis untuk meningkatkan metrik tayangan secara artifisial dan terlibat dengan akun inti," kata Twitter.
Karena itu, 150 ribu akun lapis kedua ini masih perlu penelusuran lebih jauh dan tidak termasuk dalam akun yang dibekukan.
Twitter menambahkan, jaringan tersebut dalam operasinya melakukan serangkaian kegiatan manipulatif dan terkoordinasi. Sebagian besar cuitannya menggunakan bahasa China.
"Mereka berkicau terutama dalam bahasa China dan menyebarkan narasi geopolitik yang menguntungkan Partai Komunis China (PKC), sambil terus mendorong narasi menipu tentang dinamika politik di Hong Kong," tulis Twitter.
Rusia (serangan terhadap pembangkang politik)
Twitter juga menghapus 1.152 akun yang dijalankan dari Rusia dan terkait dengan situs berita Current Policy yang menurut Twitter disponsori negara untuk tujuan propaganda politik.
Beroperasi dengan menggunakan bahasa Rusia, jaringan ini menargetkan orang-orang setempat.
"Kegiatannya termasuk mempromosikan partai Rusia Bersatu (United Russia) dan menyerang para pembangkang politik," kata Twitter.
Rusia Bersatu adalah partai yang saat ini berkuasa di Rusia.
Turki (pendukung Erdogan)
Terdeteksi pertama kali pada awal 2020, jaringan Turki ini dijalankan dengan menargetkan warga Turki. Total ada 7.340 akun Turki yang diarsipkan.
"Berdasarkan analisis kami terhadap indikator tekns jaringan dan perilaku akun, pengumpulan akun palsu dan peretasan digunakan untuk memperkuat narasi politik yang menguntungkan bagi AK Party, dan menunjukkan dukungan kuat untuk Presiden Erdogan," tulis Twitter.
Disebutkan, sinyal teknis menunjukkan ke jaringan yang terkait terkait dengan sayap pemuda partai dan jaringan terpusat yang mempertahankan sejumlah besar akun yang diretas.
Akibatnya, jaringan yang kami ungkapkan hari ini mencakup beberapa akun yang disusupi yang terkait dengan organisasi yang kritis terhadap Presiden Erdogan dan Pemerintah Turki. Akun yang dikompromikan ini telah berulang kali menjadi sasaran peretasan akun dan upaya pengambilalihan oleh aktor negara yang diidentifikasi di atas. Jaringan yang lebih luas juga digunakan untuk kegiatan komersial, seperti spam terkait cryptocurrency.[]
Jaringan serupa ketiga juga dilarang di Turki, juga mendorong tweet bertema politik yang ditujukan untuk pengguna berbahasa Turki.
"Berdasarkan analisis kami terhadap indikator teknis jaringan dan perilaku akun, pengumpulan akun palsu dan kompromi digunakan untuk memperkuat narasi politik yang menguntungkan bagi AK Parti, dan menunjukkan dukungan kuat untuk Presiden Erdogan," kata Twitter.
Secara total, Twitter menghapus 7.340 akun, dan perusahaan mengatakan yakin akun itu dioperasikan oleh sayap pemuda AK Parti yang merupakan partai berkuasa di Turki saat ini.
Jaringan ini tidak hanya menggunakan bot, tetapi juga meretas akun yang dikaitkan dengan organisi yang kritis terhadap Erdogan dan pemerintah Turki. Peretasan dilakukan untuk membungkam suara mereka dan membuat narasi pro-pemerintah lebih menonjol.
"Akun yang diretas ini telah berulang kali menjadi sasaran peretasan dan upaya pengalalihan oleh aktor negara yang diidentifikasi di atas," kata Twitter.
"Jaringan yang lebih luas juga digunakan untuk kegiatan komersial, seperti spam terkait mata uang kripto."[]
Share: