
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Jakarta, Cyberthreat.id – Sebanyak 12.548 desa/kelurahan dari total 83.218 desa/kelurahan di Indonesia belum terjangkau jaringan telekomunikasi 4G.
Dari jumlah yang belum terjangkau itu, sekitar 9.000-an lokasi berada di daerah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal) dan sekitar 3.000-an berada di wilayah non-3T.
Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Ahmad M. Ramli dalam seminar online bertajuk “Pemerataan Jaringan Telekomunikasi Menyongsong New Normal” di Jakarta, Rabu (10 Juni 2020).
“Untuk 9.000-an desa ini akan dibangun oleh pemerintah. Karena wilayah ini sebetulnya secara ekonomi bagi operator agak kurang menarik, karena mungkin penduduknya kecil. Walaupun penduduknya sedikit desa, itu harus tetap kita kasih sinyal,” kata Ahmad.
Ahmad mengatakan, pemerintah memastikan akan membuat wilayah 3T tersebut akan mendapatkan akses internet. Tugas ini, menurut dia, menjadi tanggung jawab Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) untuk mengadakan akses internet.
“Tidak ada cerita karena penduduknya sedikit dan terpencil, kita tidak kasih sinyal. Tidak,” tutur Ahmad.
“Pemerintah harus memberi sinyal, inilah sebetulnya konsep Pak [Presiden] Jokowi [kebijakan pemerintah] ‘membangun dari pinggiran’. Saya yakin membangun dari pinggiran untuk telekomunikasi ini sangat penting,” Ahmad menambahkan.
Sementara itu, untuk wilayah non-3T, kata Ahmad, infrastruktur telekomunikasi akan dibangun oleh operator seluler.
Menurut Ahmad, dalam pemerataan jaringan internet ini kerja operator seluler tidak main-main; jumlah menara base transceiver station (BTS) di Indonesia sudah mencapai 497.125 menara.
“Bayangkan 479.125 BTS. Kita bisa membayangkan kalau ini ada di Singapura sudah nutup kota,” kata dia. Bahkan, di daerah yang sangat sulit untuk dibangun, seperti daerah pegunungan dan lembah, menara-menara BTS terus dibangun.
“Oleh karena itu, ke depan, kita ingin juga desa yang belum terjangkau itu akan kita teruskan [pembangunan infrastrukturnya],” ujar Ahmad.
Selain menara BTS, menurut Ahmad, ada bantuan teknologi satelit dan jalur kabel serat optik (fiber optic) yang bisa menghubungkan jalur-jalur internet rumahan (broadband internet).
“Di Indonesia, sekitar 348.442 kilometer kabel (serat optik) sudah digelar baik di laut maupun di darat. Ada yang dibangun operator, ada juga yang dibangun pemerintah, ini yang kita namakan Palapa Ring,” ujar Ahmad.
Redaktur: Andi Nugroho
Share: