
Ilustrasi
Ilustrasi
Jakarta, Cyberthreat.id - Pandemi CoronaVirus (Covid-19) membuat pola dan tatanan baru di masyarakat global. Masyarakat sekarang menuju era New Normal yang membentuk hubungan semakin erat dengan teknologi, semua manusia semakin terkoneksi, sehingga batasan antara dunia nyata dunia Maya sudah tidak ada lagi.
Contoh sederhana pola baru terlihat dari berbagai aplikasi video telekonferensi (VTC) menjadi booming dan digunakan semua orang untuk bekerja, belajar, dan berkomunikasi.
Aplikasi Zoom, misalnya, menggunakan teknologi Cloud yang memungkinkan banyak orang terhubung real-time dan menggunakannya dalam waktu yang bersamaan. Teknologi Cloud diperkirakan bakal menjadi primadona dalam menghadapi New Normal.
Director & Chief Strategy & Innovation Officer PT. Indosat Ooredo, Arief Mustain, menyebut Cloud dan beberapa teknologi sebagai pondasi teknologi di era New Normal.
"Apa sih teknologi yang saat ini akan menjadi primadona? Ini adalah beberapa teknologi foundation yang semua orang akan ke arah sana. Seperti yang kayak kita pakai sekarang yaitu Zoom, yang menggunakan teknologi Cloud sehingga walaupun di-hit ratusan juta user sehari dalam waktu yang sama, mereka enggak apa-apa," kata Arief Mustain dalam webinar yang diadakan Relawan TIK, Kamis (21 Mei 2020).
Arief memiliki empat poin dari segi teknologi yang akan menjadi kekuatan dan backbond di era New Normal yang sedang disambut umat manusia. Ia menyebutnya dengan "technology foundation" untuk New Normal.
1. Broadband
Arief memprediksi, dalam hal broadband, yang dimaksud adalah fiber optik dan jaringan 4G dan 5G. Kekuatan jaringan ini bakal menjadi kekuatan besar serta tetap akan menjadi tulang punggung seluruh interaksi. Apapun jenis interaksi ke depannya.
"Perubahan perilaku konsumen akhirnya bermuara di broadband. Broadband akan menjadi salah satu kebutuhan primer untuk setiap individu. Ini bukan lagi menjadi asumsi, tapi sudah menjadi default dari kehidupan kita," katanya.
Nantinya, kata Arief, di mana pun orang-orang berada akan selalu mencari broadband, supaya setiap manusia tetap bisa terus tetap terhubung (always connective).
2. Cloud
Cloud sangat dibutuhkan karena pemakaian dari konektivitas akan begitu besar. Dengan teknologi Cloud semua akan terhubung tanpa butuh server yang besar.
"Kita tidak mungkin bisa kalau tidak menghadirkan teknologi cloud, maka nanti aplikasi-aplikasi itu semua pasti akan Cloud native. Kalau misalnya masih menggunakan teknologi lama yang old school, pasti nanti butuh server yang begitu besar," ungkap Arief.
Oleh karena itu, teknologi Cloud dan apapun aplikasi di dalamnya nanti, orang-orang tidak akan pernah peduli dengan network punya siapa. Terpenting adalah mereka butuh aplikasinya.
"Nah, di teknologi Cloud, apapun aplikasinya telah menjadi ciri khas di digital. Enggak peduli network punya siapa, yang penting saya butuh aplikasinya karena end-user butuh aplikasi, enggak butuh network, enggak butuh punya siapa gitu dan gini, sudah Cloud-nya saja."
Namun, Arief memperingatkan persoalan bagi Indosat adalah sejauh mana kesiapan mereka di Indonesia untuk menyiapkan teknologi Cloud yang mampu untuk menangkap seluruh kebutuhan di Cloud native dari aplikasi.
3. Internet of Things (IoT).
Kebutuhan Internet of Things (IoT) dengan kondisi yang New Normal begitu besar. Teknologi ini dibutuhkan baik yang sifatnya untuk pendidikan seperti wearable, Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), dan sebagainya.
"Itu semuanya nanti pendidikan akan mulai betul-betul menerapkan physical distancing sehingga mereka akan membutuhkan tools edukasi yang sangat berbeda. Biasanya nanti akan diwakili oleh VR, AR, dan sebagainya. Kita tidak perlu bertemu fisik tapi bisa terhubung."
IoT juga akan merambat ke dunia industri karena ke depan pertemuan secara fisik tidak akan mudah lagi. Akibatnya, industri mengadopsi IoT sehingga semuanya akan lebih cepat dan tepat.
"Tadi pagi saya ada focus group discussion (FGD) tentang IoT, semua pelaku industri ternyata juga berpikir seperti itu. Jadi, IoT akan ada sebuah lompatan-lompatan besar begitu ya termasuk juga untuk Cloud," ujar Arief.
4. Artificial Intelligence (AI)
Artificial lntelligence (AI) atau kecerdasan buatan telah menjadi sebuah kebutuhan pokok di New Normal. AI membantu mengenali pattern atau pola dari trafik atau perilaku penggunanya yang akan membantu proses penataan kembali pattern.
Arief menuturkan, seluruh pola trafik di Indonesia itu berubah total. Jika dulu trafik terjadi di perjalanan Jakarta seperti macet dan banyaknya orang, maka sekarang macetnya trafik di seluler saat semua orang terkoneksi.
Sejak pandemi Covid-19, jalanan di Jakarta kapasitasnya kosong semua dijalan karena semua trafik pindah ke rumah. Jika salah mengenali pattern trafik seperti perilaku user-nya, maka Indonesia bisa kesulitan.
"Saya pikir kita juga merasakan beberapa persoalan tentang konektivitas ketika justru semuanya tinggal di rumah tiba-tiba rumah, maka ketersediaan BTS menjadi tantangan sendiri untuk kemudian menata kembali pattern-nya," kata dia.
Kekuatan AI, menurut Arief, adalah konstektualisasi dan kemudian yang terjadi otomasi (automation) yang disertai dengan investasi yang besar.
"Nanti hampir semua proses-proses dilakukan secara otomasi. Dan, saya pikir ini akan menjadi sebuah New Normal. Walaupun begitu, tetap ada eksesnya, apakah pengurangan karyawan dan sebagainya karena itu akan menjadi sebuah kondisi di New Normal," ujarnya. []
Redaktur: Arif Rahman
Share: