
Daniel Kelley. Foto: Mirroc.co.uk | Gavin Rodgers | Pixel 8000 Ltd
Daniel Kelley. Foto: Mirroc.co.uk | Gavin Rodgers | Pixel 8000 Ltd
London, Cyberthreat.id. – Daniel Kelly (22), peretas (hacker) yang membobol sistem jaringan perusahaan telekomunikasi Inggris, TalkTalk Telecom Group Plc, divonis empat tahun penjara.
Sidang vonis tersebut dilakukan pada Senin (10/6/2019) waktu setempat di The Central Criminal Court atau sering dikenal dengan The Old Bailey, pengadilan tinggi bidang kriminalitas di London, Inggris.
Kelly mengaku bersalah atas 11 dakwaan peretasan dan pemerasan kepada TalkTalk yang diajukan jaksa penuntut umum. Serangan siber itu yang dialami TalkTalk terjadi pada Oktober 2015 dan sekitar 20.000 akun telah dicuri.
Setelah pembobolan itu, Kelly lalu meminta uang kepada Chief Executive Officer TalkTalk, Dido Harding dan karyawan lainnya senilai 465 Bitcoin (US$ 362.000) atau sekitar Rp 5,15 miliar (kurs dolar AS Rp 14.241)
Laki-laki asal Llanelli, Carmarthenshire, Wales barat daya, itu juga terlibat dalam sejumlah peretasan perusahaan dan organisasi lain, termasuk kampusnya sendiri, Coleg Sir Gar di Wales.
Perusahaan telekomunikasi TalkTalk yang berkantor di London, Inggris. Foto: Mirro.co.uk | PA
“Kelley akan menjalani hukuman di lembaga pelanggar muda,” tulis BBC, Selasa (11/6/2019).
Dalam persidangan, ia mengaku, sengaja meretas kampusnya sendiri karena “dendam” setelah nilai ujian kursus komputernya jelek dan ia gagal naik tingkat.
Setelah ia meretas kampusnya, ia pun menargetkan serangan ke perusahaan di Kanada, Australia, dan Inggris (termasuk TalkTalk yang memiliki empat juta pelanggan).
“Kelley adalah pemeras dan penjahat siber kejam yang menyebabkan kerusakan, kesusahan, kerugian bagi korban di sejumlah negara,” kata Rob Burrows, perwira polisi di Unit Kejahatan Siber Kepolisian Metropolitan London seperti dikutip dari Bloomberg.
Sekadar diketahui, saat kejadian pembobolan itu, TalkTalk pun mengumumkan bahwa sekitar 20.000 nomor rekening bank pelanggan telah dicuri. Kerugian perusahaan diperkirakan menelan biaya US$ 44 juta atau lebih dari Rp 626 miliar.
Share: