
Ilustrasi
Ilustrasi
Cyberthreat.id - Kabinet tinggi keamanan Israel mengadakan pertemuan rahasia pada hari Kamis (7 Mei 2020) pekan lalu untuk membahas serangan cyber Iran yang sangat tidak biasa terhadap infrastruktur air sipil Israel.
Serangan terjadi dua pekan sebelumnya (24-25 April) meskipun Israel menyatakan insiden tidak berdampak sama sekali terhadap infrastruktur kritis mereka.
Fox News pertama kali melaporkan pekan lalu bahwa Iran berada di balik serangan siber tersebut. Menurut laporan itu, Iran menggunakan server komputer yang berlokasi di Amerika Serikat (AS) untuk menyerang fasilitas air Israel.
"Ini adalah serangan siber yang sangat tidak biasa terhadap fasilitas air sipil yang bertentangan dengan setiap etika dan setiap kode di masa perang," kata seorang pejabat senior Israel dilansir Times of Israel, Sabtu (9 Mei 2020).
Meskipun serangan cyber Iran tidak menyebabkan kerusakan signifikan, tetapi para pejabat Israel melihat kemampuan Iran mengalami peningkatan besar. Dan, menurut Israel, serangan ini melangkahi garis merah (red line) karena targetnya adalah fasilitas air sipil yang menyerang hajat hidup orang banyak.
"Kami tidak mengharapkan (serangan) ini dari Iran," ujar pejabat tersebut.
Pemerintah Israel saat ini sedang memutuskan apakah dan bagaimana membalas serangan. Israel bisa saja melakukan balasan terhadap Iran, tetapi serangan cyber antara negara-negara bermusuhan seperti Israel dan Iran dapat meningkat dan bergerak ke perang fisik sehingga berubah menjadi serangan kinetik.
Direktorat Otoritas Air dan Direktorat Cyber Nasional Israel mengonfirmasi bahwa memang ada "percobaan pelanggaran cyber pada sistem command and control fasilitas air."
"Upaya serangan itu ditangani oleh Otoritas Air dan Direktorat Cyber Nasional. Harus ditekankan bahwa tidak ada kerusakan pada pasokan air dan layanan masih beroperasi tanpa gangguan," kata seorang pejabat Direktorat Otoritas Air Israel.
Sementara itu, seorang pejabat senior Departemen Energi AS mengatakan kepada Fox News bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump berkomitmen untuk melindungi sekutunya Israel dari serangan siber, tetapi "tidak akan mengomentari insiden khusus tersebut serta mengatakan penyelidikan sedang berlangsung".
Share: