
Sejumlah penumpang menunggu kereta api di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (29/5/2019). Foto: Cyberthreat.id | Andi Nugroho
Sejumlah penumpang menunggu kereta api di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (29/5/2019). Foto: Cyberthreat.id | Andi Nugroho
Jakarta, Cyberthreat.id – Ada kejadian menarik di daerah Lamasi, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Dalam sebuah unggahan di akun Instagram @palopo_info, Kamis (6/6/2019), seorang anak menangis meronta-ronta karena tak mau diajak ke rumah saudaranya.
Tangisan anak itu sampai membuat orang-orang lain berhenti di tengah jalan dan menghampiri. Ternyata anak itu menangis lantaran takut di rumah saudaranya tak ada sinyal internet. “Huhuhu…enggak ada sinyal,” teriak anak itu sembari menagis.
Hampir seluruh aktivitas seseorang kini tak terlepas dari internet. Internet kini telah dinikmati seluruh kalangan dari orangtua hingga anak-anak. Bahkan, Survei APJII 2018 menyebutkan, bahwa pengguna internet aktif paling banyak adalah kalangan remaja.
Namun, tanpa pembatasan diri, seseorang bisa terjerat kecanduan berinternet. Gejala tersebut sering dikenal dengan sebutan Internet Addiction Disorder.
Berita Terkait:
Pakar teknologi informasi, Onno W Purbo, menjelaskan, gejala kecanduan internet digambarkan sebagai gangguan kontrol impuls yang mirip dengan penyakit perjudian.
“Mirip dengan kecanduan lainnya, mereka yang menderita kecanduan internet menggunakan dunia fantasi virtual untuk terhubung dengan orang-orang nyata melalui internet, sebagai pengganti hubungan di dunia nyata, yang tidak dapat mereka capai dengan normal,” tulis Onno dalam materi “Kecanduan Internet” dalam kelas daring Onno Learning Center yang diikuti Cyberthreat.id, Sabtu (8/6/2019).
Menurut Onno, orang-orang yang mengalami kecanduan internet memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Salah satu efek dari kecanduan internet, kata Onno, adalah gangguan terhadap hubungan kehidupan nyata. Individu yang menderita kecanduan internet menghabiskan lebih banyak waktu dalam pengasingan sendirian, menghabiskan lebih sedikit waktu dengan orang-orang nyata dalam kehidupan mereka, dan sering dipandang sebagai canggung secara sosial.
“Itu kemungkinan karena volume waktu yang dihabiskan secara daring,” tutur Onno.
Yang mencemaskan lagi, kata Onno, dalam sebagian pecandu internet, bahkan “menciptakan kepribadian atau profil daring mereka” dengan berpura-pura menjadi orang lain selain dirinya sendiri.
Mereka yang memiliki risiko tertinggi untuk menciptakan kehidupan rahasia, kata Onno, adalah mereka yang menderita perasaan rendah diri karena tidak mampu, dan takut akan ketidaksetujuan.
“Konsep diri negatif semacam itu yang menyebabkan masalah depresi dan kecemasan,” kata Onno.
Sasaran Remaja
Onno menyebutkan, salah satu golongan yang paling dikhawatirkan menjadi sasaran gangguan kecemasan karena internet adalah anak-anak dan remaja. Terlebih, sesuai Survei APJII 2018, sebanyak 91 persen remaja (15–19 tahun) adalah pengguna aktif internet.
Ia pun menyarankan agar peran orangtua harus lebih aktif dalam setiap pengawasan aktivitas daring anak-anak. Ada dua langkah yang bisa dilakukan untuk menghindari atau mengurangi ketagihan akan internet.
Pertama, mengurangi waktu akses ke internet, misalnya dengan membatasi diri dalam sehari hanya mengakses internet selama dua jam.
Kedua, memperbanyak aktivitas di kehidupan nyata seperti belajar, berkumpul dengan keluarga, dan bermain dengan teman- teman.
Redaktur: Andi Nugroho
Share: