
Ilustrasi
Ilustrasi
Jakarta, Cyberthreat.id - Laporan terbaru Trend Micro menyatakan terjadinya peningkatan ancaman siber yang signifikan dan cukup masif memanfaatkan pandemi Covid-19 di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia.
Laporan yang dihimpun sejak 1 Januari hingga 31 Maret 2020 menyebutkan terdapat lebih dari 900.000 ancaman siber melalui bermacam vektor serangan, mencakup email, domain/URL dan file jahat.
Laporan yang disusun Trend Micro Smart Protection Network menyoroti masifnya serangan melalui email. Sebanyak 94.9 persen dari data yang dikumpulkan berasal dari email jahat atau email spam. Sementara 5 persen melalui domain/URL berbahaya dan 0,1 persen menggunakan malware bertema Covid-19.
"Para ahli Trend Micro memperkirakan aktivitas penipuan mengatasnamakan Covid-19 masih terus meningkat karena masyarakat masih berada dalam karantina," kata Country Manager Trend Micro Indonesia, Laksana Budiwiyono, dalam siaran pers kepada Cyberthreat baru-baru ini.
Seiring meningkatnya jumlah korban yang menderita Covid-19, kampanye yang menggunakan pandemi ini dijadikan daya pikat untuk para calon korbannya dengan target membuka email jahat maupun domain berbahaya.
Data dari Trend Micro mengungkapkan sepuluh negara teratas di mana pengguna secara tidak sengaja mengakses Universal Resource Locator (URL) jahat bertema virus Covid, Covid-19, coronavirus atau ncov.
Negara-negara tersebut adalah:
1. Amerika Serikat - 15 persen
2. Jepang - 13,8 persen
3. Jerman - 9,8 persen
4. Perancis - 8,1 persen
5. Taiwan - 6,2 persen
6. Inggris - 5,3 persen
7. Venezuela - 5,1 persen
8. Indonesia - 4,3 persen
9. India - 2,7 persen
10. Australia - 2,6 persen.
"Banyak aspek pekerjaan sehari-hari, mulai dari rapat hingga presentasi dan tugas-tugas kolaboratif telah bergerak online karena pembatasan karantina yang mempengaruhi perkantoran di dunia."
"Karena pengguna harus beradaptasi dengan metode kerja baru, mereka harus waspada terhadap penjahat siber yang menggunakan alat online populer, berbagi perangkat lunak, dan melampirkan lampiran file dalam penipuan mereka," ujar Budiwiyono.
Trend Micro Research juga menemukan kampanye cyber espionage (operasi spionase) yang dijuluki sebagai Project Spy. Menyamar sebagai aplikasi bernama "Coronavirus Updates" di mana operator kampanye ini mampu menginfeksi perangkat Android dan iOS dengan spyware yang diidentifikasi sebagai AndroidOS_ProjectSpy.HRX dan IOS_ProjectSpy.A.
Spyware tersebut dapat mencuri pesan dari platform perpesanan populer, informasi WiFi, informasi SIM dan banyak lagi. Trend Micro mencatat URL atau domain terkait aplikasi tersebut telah diklik oleh banyak orang di sejumlah negara Asia dan Eropa, ada peningkatan sebanyak 260,1 persen dari Februari.
Untuk mencegah terjadinya insiden siber, masyarakat diharapkan menggunakan perlindungan endpoint, seperti aplikasi antivirus, perlindungan email, perlindungan khusus untuk berselancar di internet dan sebagainya. []
Redaktur: Arif Rahman
Share: