IND | ENG
PayLater Diminati di Masa Pandemi Covid-19, Awas Risiko Siber!

PayLater Gojek | Foto: Gojek.com

PayLater Diminati di Masa Pandemi Covid-19, Awas Risiko Siber!
Tenri Gobel Diposting : Rabu, 22 April 2020 - 20:32 WIB

Jakarta, Cyberthreat.id – Fitur PayLater, yang ditawarkan oleh sejumlah dompet digital (e-wallet) dan layanan pinjaman daring, pada dasarnya tak jauh beda dengan kartu kredit.

Bahkan, PayLater lebih mudah dan cepat didapat pengguna ketimbang kartu kredit yang dikeluarkan oleh bank. Sejumlah penyedia PayLater, di antaranya OVO, GoPay, Traveloka, dan Kredivo.

Namun, perlu disadari bahwa ancaman dari fitur “bayar belakangan” ini—mulai segi finansial hingga ancaman siber—bisa menjadi “bom waktu” jika tak diantisipasi pengguna.

Dalam pandangan Pakar marketing dari Inventure Consulting, Yuswohady, masa pandemi Covid-19 memungkinkan pengguna PayLater semakin bertambah. Ini karena masyarakat cenderung mulai beralih untuk bertransaksi digital.

Dalam laporan media sejumlah penyedia juga melaporkan adanya kenaikan pengguna PayLater (sumber: 1, 2, dan 3).

Yuswohady juga memiliki keyakinan bahwa PayLater bakal makin luas dan makin dalam penetrasinya ke masyarakat usai pandemi Covid-19.

“Kartu-kartu bank itu akan semakin enggak relevan karena konsumen semakin menghindari kontak. Makanya, masyarakat akan pakai handphone, karena sudah digital,” ujar penulis buku Millenials Kill Everything itu saat berbincang dengan Cyberthreat.id, beberapa waktu lalu.


Berita Terkait:


Apalagi kemudahan dan kecepatan dalam proses administrasi dari penyedia PayLater, kata dia, menyebabkan masyarakat tertarik dengan PayLater. “Orang Indonesia kalau bisa ngutang, ngutang, gitu! Tapi, yang tidak disuka itu kan proses yang lama. Dari sisi konsumen, [berutang] itu menarik, maka yang namanya PayLater itu pasti laku,” ujar dia.

Ditambah, kata dia, di saat pandemi sekarang masyarakat juga cenderung menahan diri untuk membelanjakan uang tunai. “Karena cash is king artinya, duit itu kalau bisa, enggak keluar sekarang gitu, karena jaga-jaga untuk besok,” tutur Yuswohady.

Keunggulan lain dari PayLater, pengguna bisa membayar untuk barang apa pun meski harganya murah; berbeda dengan kartu kredit yang cenderung untuk pembelian barang bernominal besar.

Meski ada keunggulan, PayLater juga memiliki risiko yang besar. Alexander Adrianto Tjahyadi, Audit and Assurance Partner Grant Thornton Indonesia, telah mengingatkan sejumlah risiko dari penggunaan PayLater.

Setidaknya, ia memaparkan lima risiko yang bakal dihadapi pengguna PayLater yang tidak waspada. Pertama, mendorong perilaku konsumtif. “Tanpa disadari dengan kemudahan untuk beli sekarang bayar belakangan memberikan dorongan impulsif [...] yang seringkali justru jatuh kepada barang-barang yang tidak diperlukan,” kata dia.

Kedua, ada biaya yang tidak disadari. “Masyarakat terutama milenial [...] terkadang tidak menyadari adanya berbagai biaya yang langsung aktif saat mereka menggunakan fitur Paylater,” tutur Adrianto.

Risiko berikutnya, menurut dia, arus kas pengguna bisa terganggu karena dana yang tadinya untuk membayar utang justru terpakai untuk keperluan tak terduga lainnya.

Adanya risiko gagal bayar juga bisa merusak citra dan reputasi peminjam, termasuk dalam status BI Checking—informasi debitur individual historis yang mencatat kelancaran atau tidaknya pembayaran kredit (kolektibilitas).

Terakhir, yang juga ditekankan Adrianto adalah selama aktif bertraansaksi daring, potensi ancaman peretasan dari penjahat siber pasti ada.

Walaupun setiap aplikasi menyiapkan keamanan tingkat tinggi bagi penggunanya, kata dia, penjahat siber mempu menemukan cara meretas basis data akun pengguna. “Dan, menggunakannya (basis data akun pengguna, red) untuk hal-hal yang tidak bertanggung jawab,” tutur Adrianto.[]

Redaktur: Andi Nugroho

#paylater   #ovo   #gopay   #tokopedia   #yuswohady   #transaksionline   #belanjaonline   #peretasan   #kejahatansiber   #

Share:




BACA JUGA
Demokratisasi AI dan Privasi
Seni Menjaga Identitas Non-Manusia
Luncurkan Markas Aceh, Wamen Nezar Dorong Lahirnya Start Up Digital Baru
Awas, Serangan Phishing Baru Kirimkan Keylogger yang Disamarkan sebagai Bank Payment Notice
Wujudkan Visi Indonesia Digital 2045, Pemerintah Dorong Riset Ekonomi Digital