
Suasana kota Wuhan | Foto via CNN.com
Suasana kota Wuhan | Foto via CNN.com
Cyberthreat.id - Situs statistik real-time Worldometers.info mencatat adanya 1.290 kematian baru di China akibat pandemi virus corona. Penambahan itu bikin kaget lantaran sebelumnya China mengumumkan negaranya telah pulih. Bahkan kebijakan lockdown di kota Wuhan yang merupakan tempat virus itu bermula, telah dicabut sejak 8 April lalu.
Apa sesungguhnya yang terjadi? Usut punya usut, rupanya penambahan itu terjadi setelah pemerintah Wuhan merevisi jumlah kematian pada 17 April kemarin.
Mengutip keterangan otoritas Wuhan, kantor berita China, Xinhua melaporkan penambahan 1.290 orang yang meninggal terjadi karena sebelumnya jumlah kematian yang dilaporkan tidak akurat. Setelah pandemi bisa diatasi dan angka kematin dihitung ulang, barulah diketahui ada 1.290 kematian yang belum dilaporkan. Sebelumnya, Wuhan melaporkan angka kematian di kota itu 2.579 orang.
Selain itu, ada penambahan 325 kasus positif Covid-19 sehingga jumlah mereka yang terinfeksi di ibukota Provinsi Hubei itu menjadi 50.333 orang.
Data 17 April di situs Worldometers.info. Setelah Wuhan mengoreksi angka kematian, total kematian di China bertambah 1.290 orang
Dalam keterangannya, Markas Besar Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 Wuhan menyebut empat alasan terjadinya penambahan angka kematian itu, yaitu:
1. Jumlah pasien yang melonjak pada tahap awal wabah membuat tenaga medis kewalahan. Beberapa pasien meninggal dunia di rumah tanpa pernah dirawat di rumah sakit.
2. Selama puncak upaya perawatan pasien, kapasitas rumah sakit yang ada tak mampu menampung korban da para medis disibukkan dengan upaya menyelamatkan dan merawat para pasien. Akibatnya, terjadi keterlambatan pelaporan, terlewatkan, dan keliru.
3. Ada beberapa institusi medis yangg gagal melaporkan data tepat waktu, khususnya rumah sakit swasta dan rumah sakit darurat yang tidak terhubung dalam jaringan informasi wabah virus corona di kota itu.
4. Informasi terdaftar dari beberapa pasien yang meninggal dunia diketahui tidak lengkap, dan ada pengulangan dan kesalahan dalam pelaporan.
Setelah angka kematian direvisi, situs Worldometers mencatat jumlah kematian di China akibat pandemi Covid-19 menjadi 4.632 orang, dan total mereka yang positif terpapar virus itu menjadi 82.692 orang (77.994 orang dinyatakan sudah sembuh).
Hingga 17 April 2020, Worldometers mencatat total kematian akibat Covid-19 di seluruh dunia 154.266 orang dari total 2.250.790 yang terinfeksi. Sementara yang sembuh berjumlah 571.147 orang.
Organisasi Kesehatan Dunia WHO mencatat, bermula dari Wuhan, virus corona kini sudah menyerang 213 negara dengan angka kematian tertinggi terjadi di Amerika Serikat (37.158 orang), Spanyol (20.002 orang), Italia (22.745 orang), Prancis (18.681), dan Inggris sebanyak 14.576 orang.
Presiden Amerika Donald Trump Turut Berkomentar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump adalah salah satu pemimpin dunia yang ikut mengomentari revisi angka kematian di China itu.
Trump meyakini bahwa angka kematian sebenarnya di China masih jauh lebih tinggi dari revisi yang disampaikan tersebut.
"China baru saja mengumumkan dua kali lipat jumlah kematian mereka akibat Musuh yang Tak Terlihat. Itu jauh lebih tinggi dari itu dan jauh lebih tinggi dari AS, bahkan tidak mendekati," tulis Trump dalam cuitan di Twitter seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (18/4/2020).[]
Share: