
Ilustrasi pengenalan wajah. | Foto: clarionindia.net
Ilustrasi pengenalan wajah. | Foto: clarionindia.net
Cyberthreat.id – Kepolisian Federal Australia (AFP) mengakui telah memakai alat pengenalan wajah (facial recognition) milik Clearview AI untuk memerangi kejahatan eksploitasi pada anak.
Clearview AI dikenal sebagai perusahaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI)kontroversial di Amerika Serikat. Startup ini dikecam karena mengumpulkan foto-foto wajah orang tanpa sepengetahuan pemiliknya. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya disebut-sebut lebih dari 3 miliar.
Dari foto-foto yang diambil dari situs web, seperti Faceboo, Twitter, YouTube, Venmo, dan lain-lain, Clearview AI merancang aplikasi pengenalan wajah.
Berita Terkait:
Wakil Komisioner AFP, Karl Kent, mengatakan, lembaganya tidak mengadopsi platform buatan Clearview AI, tapi hanya menggunakannya untuk uji coba. Ia menegaskan kepolisian sama sekali tidak membuat kontrak formal untuk pengadaan barang dengan perusahaan.
Menurut laporan ZDNet, Rabu (15 April 2020), Australian Centre for Counter Child Exploitation (ACCCE) yang dipimpin AFP mendaftarkan uji coba gratis alat pengenalan wajah Clearview AI. Mereka melakukan uji coba sistem pengenalan wajah mulai 2 November 2019 hingga 22 Januari 2020.
"Uji coba itu untuk menilai kemampuan sistem Clearview AI dalam konteks melawan eksploitasi anak," tutur AFP.
"Pencarian ini termasuk gambar-gambar dari orang-orang yang diketahui, dan orang-orang tidak dikenal yang terkait dengan penyelidikan saat ini atau di masa lalu yang berkaitan dengan eksploitasi anak," kata AFP.
Namun, AFP menegaskan, di luar Komando Operasional ACCCE, tidak ada percobaan tersebut telah dimulai untuk menangani kasus dengan alat Clearview AI.[]
Share: