IND | ENG
Ikuti Jejak Google, Apple Deteksi Mobilitas Saat Pandemi Covid-19

Apple | Foto: Unsplash

Ikuti Jejak Google, Apple Deteksi Mobilitas Saat Pandemi Covid-19
Andi Nugroho Diposting : Rabu, 15 April 2020 - 08:05 WIB

Cyberthreat.id – Apple Inc merilis data yang dapat membantu pemerintah setempat terkait dengan pengetahuan mobilitas orang selama masa karantina wilayah (lockdown) di tengah pandemi Covid-19.

Data tersebut dikumpulkan dengan menghitung jumlah permintaan perutean dari Apple Maps yang terinstal di semua iPhone. Untuk mendeteksi perubahan mobilitas orang (mengemudi, berjalan, transportasi umum) di seluruh dunia, Apple membandingkan data terbaru dengan penggunaan sebelumnya.

Menurut Apple, informasi tersebut akan diperbarui setiap hari dan dibandingkan dengan tanggal pada pertengahan Januari 2020—masa sebelum sebagian besar karantina di AS diberlakukan.

“Data akan dikumpulkan sehingga permintaan dari pengguna individu tidak akan ditampilkan dan data tidak melacak pengguna individu atau lokasi mereka,” kata Apple seperti dikutip dari Reuters, Rabu (15 April 2020).

Publik bisa mengakses informasi tersebut di situs web www.apple.com/covid19/mobility. Dalam situs web ini akan ditampilkan perubahan untuk kota-kota besar dan 63 negara atau wilayah.

Untuk Indonesia, misalnya, pergerakan mengemudi turun hingga 58 persen pada 13 April ketimbang pada 13 Januari yang mencapai sekitar 40 persen di atas garis dasar. Sementara, mobilitas jalan kaki warga Indonesia juga turun drastis hingga 67 persen dibandingkan sebelumnya yang mencapai sekitar 30 persen.

Apple tidak memberikan jumlah absolut permintaan atau jumlah orang tertentu yang bergerak, tapi hanya data dalam persentase dari permintaan dibandingkan dengan garis dasar (baseline) pertengahan Januari-nya.

Data Apple lebih terbatas daripada yang disediakan Google yang lebih dulu merilis mobilitas warga selama karantina berdasarkan Google Maps. (Baca: Google: Aktivitas Publik di Indonesia Anjlok Drastis)

Google hampir dua pekan lalu merilis data di lebih dari 131 negara. Data Google membandingkan perjalanan dalam beberapa pekan terakhir ke tempat-tempat rekreasi, stasiun kereta dan bus, toko bahan makanan dan tempat kerja dengan periode lima pekan awal 2020.

Data Apple hanya menampilkan data untuk beberapa kota, wilayah, dan negara dan tidak menunjukkan hasil untuk seluruh negara bagian AS. Data Apple juga tidak menangkap perjalanan di mana pengguna belum meminta arahan dari Maps.

Apple mengatakan tengah bekerja sama dengan pejabat kesehatan masyarakat untuk mengidentifikasi jenis data atau tren apa yang mungkin membantu.

Menanggapi hal itu, Jason Farley, profesor Johns Hopkins University School of Nursing juga ahli epidemiologi untuk penyakit menular, mengatakan, data dari aplikasi tersebut bisa menjadi wawasan tentang pergerakan saat ini, tapi dampaknya untuk kebijakan kesehatan masyarakat masih belum jelas.[]

#apple   #applemaps   #covid-19   #viruscorona   #karantinawilayah   #google   #googlemaps

Share:




BACA JUGA
Google Mulai Blokir Sideloading Aplikasi Android yang Berpotensi Berbahaya di Singapura
Apple Keluarkan Patch untuk Zero-Day Kritis di iPhone dan Mac
Google Penuhi Gugatan Privasi Rp77,6 Triliun Atas Pelacakan Pengguna dalam Icognito Mode
Malware Menggunakan Eksploitasi MultiLogin Google untuk Pertahankan Akses Meski Kata Sandi Direset
Google Cloud Mengatasi Kelemahan Eskalasi Hak Istimewa yang Berdampak pada Layanan Kubernetes