
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Cyberthreat.id – Zoom Video Communication Inc., pengembang aplikasi telekonferensi video, menyatakan, pelanggan akan diberi pilihan untuk merutekan lalu lintas rapat virtualnya ke pusat data (data center) yang diinginkan.
Namun, pemilihan pusat data mana yang diinginkan hanya berlaku bagi pelanggan berbayar dan mulai berlaku pada 18 April mendatang.
"Saat ini, pusat data kami dikelompokkan ke dalam wilayah ini: Amerika Serikat, Kanada, Eropa, India, Australia, China, Amerika Latin, dan Jepang/Hong Kong," kata Chief Technology Officer (CTO) Zoom, Brendan Ittelson di blog perusahaan, Senin (13 April 2020).
Menurut Ittelson, fitur tersebut memberi pelanggan untuk mengontrol lebih besar atas data dan interaksinya dengan jaringan global Zoom.
“Sebagai pengingat, server rapat di China selalu ditinjau secara geografis dengan tujuan untuk memastikan bahwa data rapat pengguna di luar China, tetap berada di luar China,” tutur dia. (Baca: Enkripsi End-To-End-nya Dikritik, Zoom Minta Maaf)
Sementara itu, ia juga mengatakan, “Pada 3 April, kami telah menghapus semua tunneling server HTTPS kami di China untuk mencegah koneksi yang tidak sengaja melalui China,” Ittelson menegaskan.
Pengguna gratis
Untuk pengguna Zoom gratis, Ittelson mengatakan, lalu lintas rapat mereka akan dikunci ke pusat data dalam wilayah default, di mana akun pengguna tersebut disediakan. Dan, ini hanya berlaku untuk sebagian besar pengguna di Amerika Serikat.
Sementara, untuk pengguna yang berbasis di China, “Jika admin akun Anda belum memilih pusat data China sebelum 25 April, akun Anda tidak akan dapat terhubung ke pusat data China daratan kami untuk transit data,” ia menambahkan.
Selanjutnya, “Untuk data pengguna gratis di luar China tidak akan pernah dialihkan ke China,” ujar dia.
Pada awal April lalu, Citizen Lab, sebuah kelompok penelitian di Universitas Toronto, menemukan Zoom memiliki kunci enkripsi yang bisa disimpan di server China, bahkan untuk pengguna di luar China.
Menurut Citizen Lab, dengan perutean tersebut berpotensi risiko terhadap keamanan dan privasi, ”mengingat Zoom mungkin secara hukum berkewajiban untuk mengungkapkan kunci ini kepada pihak berwenang di China," kata laporan itu seperti dikutip dari ZDNet. (Baca: Peneliti Ungkap Kunci Enkripsi Zoom Dikirim ke Server China)
Menanggapi itu, Zoom mengatakan ada kekeliruan konfigurasi server sehingga perutean diarahkan otomatis ke China. CEO Zoom Eric Yuan pun meminta maaf atas hal itu dan segera memperbaiki kesalahan tersebut. (Baca: Kunci Enkripsi ke Server China, CEO: Kami Salah Langkah)
Awal bulan ini, Zoom mengatakan akan menghabiskan 90 hari untuk meningkatkan keamanan produknya. (Baca: Perkuat Sekuriti, Zoom Minta Bantuan Eks Keamanan Facebook)
Share: