
Pemeriksaan Satelit Nusantara Dua oleh tim China Great Wall Industry Corporation di China Academy of Space Technology (CAST) Facility di Beijing, China sebelum diluncurkan beberapa waktu lalu. | Foto: ANTARA/HO
Pemeriksaan Satelit Nusantara Dua oleh tim China Great Wall Industry Corporation di China Academy of Space Technology (CAST) Facility di Beijing, China sebelum diluncurkan beberapa waktu lalu. | Foto: ANTARA/HO
Jakarta, Cyberthreat.id – PT Palapa Satelit Nusa Sejahtera (PSNS) menyatakan bahwa Satelit Nusantara Dua yang diluncurkan Kamis (9 April 2020) gagal meluncur ke orbit Bumi.
Satelit tersebut sebetulnya telah meluncur dari Xichang Satellite Launch Center di Xichang, China pada pukul 19.46 waktu setempat, demikian siaran pers dari PT Palapa Satelit Nusa Sejahtera pada Kamis malam.
Namun, setelah proses lift off berjalan baik, “Terjadi anomali ketika memasuki tahap pelepasan roket tingkat tiga, sehingga satelit tidak bisa mencapai orbit yang ditetapkan,” perusahaan menjelaskan.
Presiden Direktur PT Palapa Satelit Nusa Sejahtera Johanes Indri Trijatmodjo mengatakan, “Nusantara Dua telah dilindungi oleh asuransi yang sepenuhnya memberikan perlindungan atas risiko peluncuran dan operasional satelit,” tutur dia.
Sekadar diketahui, PSNS merupakan perusahaan yang dibentuk PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), Indosat Ooredoo, dan PT Pintar Nusantara Sejahtera (Pintar) pada 15 Mei 2017.
Perusahaan dibentuk untuk melanjutkan warisan satelit Palapa-D di 113 Bujur Timur (BT) dengan tampilan serta tantangan yang sangat baru.
Untuk mewujudkan visi tersebut, PSNS menandatangani perjanjian pembelian satelit dengan China Great Wall Industry Corporation yang kemudian diberi nama Satelit Nusantara Dua (SND).
SND merupakan satelit seri kedua untuk memberikan layanan internet broadband dan broadcasting berkualitas tinggi untuk masyarakat Indonesia. Saat diluncurkan satelit ini berbobot 5.550 kilogram dan bobot roket peluncurannya 425.800 kg.
Dengan kapasitas 20 x 36 MHz transponder C-band FSS dan 9.5 gigabits per detik (Gbps) HTS, satelit dapat mencakup wilayah di seluruh Indonesia, Asia Pasifik hingga Australia untuk transponder C-band dan HTS (High Throughput Satellit).
Satelit dengan masa hidup hingga 15 tahun mendatang itu memiliki teknologi yang sama dengan pendahulunya, satelit Nusantara Satu, yakni membawa Classic Fixed Satellite Service di C-band dan HTS di Ku-band.
Dengan demikian, satelit menjadi lebih efisien, tapi tetap memiliki nilai tambah pada keandalan tautan. Satelit tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk VSAT, broadcast, broadband, backbone, serta backhaul, demikian tulis Antaranews.com, 1 April lalu.[]
Share: