
Sejumlah calon penumpang menunggu kereta sambil bermain ponselnya di ruang tunggu di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (29/5/2019). Foto: Cyberthreat.id | Andi Nugroho
Sejumlah calon penumpang menunggu kereta sambil bermain ponselnya di ruang tunggu di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (29/5/2019). Foto: Cyberthreat.id | Andi Nugroho
Jakarta, Cybertrheat.id – Arus pemudik Idul Fitri 1440 Hijriah/2019 dari Jakarta dan sekitarnya dengan tujuan ke berbagai daerah mulai terlihat sejak Kamis (30/5/2019).
Selain menjaga diri dan berhati-hati selama perjalanan, ada hal penting lain yang patut diperhatikan pemudik, yaitu keamanan berinternet.
Kebutuhan internet para pemudik cukup tinggi tiap tahun; biasanya trafik tinggi terjadi menjelang Idul Fitri. Sebelumnya, Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika (PPI) Kementerian Kominfo, Ahmad Ramli, mengatakan telah mendorong operator telekomunikasi meningkatkan kualitas layanan internet di jalur mudik.
"Kita selalu prediksi saat momen mudik lebaran, rata-rata penggunaan data (internet) naik 50-60 persen," kata Ramli seperti dikutip dari situs Kominfo.go.id.
Ramli mengatakan, pemerintah telah meminta operator untuk menyiapkan segala dukungan infrastruktur agar tidak terjadi blank spot atau tidak ada sinyal. “Karena pemudik itu sangat butuh, apalagi kalau macet mesti berkomunikasi dengan keluarga,” tutur dia.
Berita Terkait:
Sepanjang perjalanan mudik di sejumlah tempat, mulai bandara, terminal, stasiun, pelabuhan, rumah makan, dan tempat peristirahatan (rest area), tersedia fasilitas wi-fi publik gratis.
Dengan koneksi tersebut, tak menutup kemungkinan pemudik juga memakainya untuk berbagai hal, salah satunya transaksi keuangan melalui mobile banking; terlebih baru saja menerima tunjangan hari raya (THR).
Peneliti keamanan siber Vaksincom, Alfons Tanujaya, mengingatkan kepada para pemudik untuk tidak sembarangan memakai wi-fi publik yang tersedia selama perjalanan mudik. Yang umum terjadi, kata dia, pemudik cenderung abai terhadap faktor keamanan saat mengakses wi-fi gratis.
“Jangan pernah menggunakan wi-fi gratis untuk transaksi (perbankan) dan log-in media sosial, karena itu sangat berbahaya. Bisa saja data (pengguna) itu diambil dan (peretas) membobol medsos atau akun perbankan pengguna,” ujar dia.
Berita Terkait:
Menurut dia, para pemudik harus berhati hati dan memastikan penyedia wi-fi tersebut pihak-pihak yang bertanggung jawab. Padahal, ancaman siber saat terkoneksi wi-fi publik sangatlah terbuka lebar. Momen-momen besar seperti mudik saat ini sangat memungkinkan dimanfaatkan pejahat siber.
“Secara prinsip, bahaya wi-fi publik mirip dengan bahaya VPN abal-abal. Dan, ini sering terlupakan oleh pengguna layanan (wi-fi publik) ini,” ujar Alfons saat dihubungi Cyberthreat.id, Jumat (31/5/2019).
Alfons menjelaskan, bahaya yang mengintai pengguna wi-fi publik gratis, antara lain pencurian data, penyebaran virus, malware, spyware hingga merekam data informasi pengguna (profiling) untuk kepentingan perusahaan tertentu.
Secara teknis, kata dia, ketika perangkat terkoneksi wi-fi pubik, semua data yang masuk dan keluar dari perangkat pengguna akan terekam melalui router; melalui jaringan router itulah biasanya penjahat siber akan mengambil data milik pengguna.
Alfons pun menyarankan pengguna untuk selalu mengggunakan pengamanan khusus dengan VPN, tetapi bukan VPN gratis yang tidak jelas keamanannya. Ia menyarankan untuk memakai aplikasi VPN 1.1.1.1 buatan CloudFlare.
Aplikasi VPN 1.1.1.1, menurut dia, mengenkripsi semua data pengguna yang masuk dan keluar saat menggunakan wi-fi publik, sehingga sulit penjahat siber melakukan pencurian atau penyadapan data.
“Jangan gunakan VPN abal-abal karena itu sangat berbahaya,” ujar dia.
Sementara itu, Manajer Senior Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasional (Daop) I, Eva Chairunisa, mengatakan, baik di stasiun jarak jauh maupun stasiun KRL Commuterline di Jakarta saat ini telah tersedia wi-fi publik sehingga bisa dimanfaatkan para pemudik.
Sejak tahun lalu, PT KAI menggandeng vendor, MacroAd, untuk penyediaan fasilitas wi-fi gratis tersebut. Bahkan, di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, PT KAI juga menyediakan areal coworking atau ruangan kerja berbagi yang dilengkapi jaringan internet sendiri, bukan dari vendor.
Untuk keamanan jaringan internet, Eva mengatakan, khusus jaringan yang disedikan PT KAI bisa dipastikan aman. Sementara, untuk wi-fi publik yang disediakan vendor, dirinya tak bisa menjelaskan lebih lanjut.
“Untuk wi-fi gratis di peron-peron itu kan disediakan oleh vendor kami, MacroAd. Jadi, soal keamanannya bisa langsung ditanyakan kepada mereka saja,” ujar Eva saat ditemui di Stasiun Gambir, Kamis (30/5/2019).
Menyangkut koneksi lambat, Eva mengatakan, bisa saja karena jumlah pengguna begitu tinggi. “Kalau (koneksi) lambat bisa jadi karena banyak request masuk dari pengguna,” kata dia.
Redaktur: Andi Nugroho
Share: