IND | ENG
Eric Yuan, Sang Miliarder di Balik Aplikasi Zoom

Pendiri Zoom Video Communication Inc. Eric Yuan | Foto: Yitzi Weiner

Eric Yuan, Sang Miliarder di Balik Aplikasi Zoom
Andi Nugroho Diposting : Senin, 06 April 2020 - 13:51 WIB

Cyberthreat.id – Di saat sebagian bisnis lain terpukul karena wabah virus corona (Covid-19), Zoom justru tumbuh secara eskponensial pada Maret lalu dibandingkan Desember 2019.

Aplikasi telekonferensi video menjadi pilihan orang-orang untuk bekerja jarak jauh—salah satu cara menghambat penyebaran virus corona—dan Zoom menjadi primadona di antara aplikasi lain karena simpel dan gratis.

Situasi itu, tentu, menjadi berkah bagi Eric Yuan, sang pendiri platform. Bloomberg Billionaires Index memperkirakan kekayaan Eric mencapai US$ 7,5 miliar (sekitar Rp 124 triliun) dan bergabung bersama bos Amazon Inc Jeff Bezos, Pendiri Microsoft Bill Gates dkk dalam “three comma club”–sebutan untuk orang-orang dengan kekayaan lebih dari US$ 1 miliar di bank.

Glasdoor, situs web yang fokus mengulas tentang pekerjaan, memberinya penghargaan sebagai Big Company CEO of The Year pada 2018.

Zoom sekarang bernilai $ 35 miliar dan memiliki lebih dari 30.000 klien korporat, termasuk Samsung, Uber, Walmart, dan Capital One. Yuan kini berada di peringkat 192 dalam daftar 500 orang terkaya di dunia versi Bloomberg. Sebelum 2020, ia bahkan tidak ada dalam daftar. Untuk mencapai posisi itu, Yuan memiliki motto: kerja keras dan tetap rendah hati.

Yuan lahir di Provinsi Shandong, China dari orangtua yang berprofesi sebagai insinyur pertambangan.

Yuan memiliki gelar sarjana matematika terapan dan gelar master dalam bidang teknik. Ia menghabiskan empat tahun bekerja di Jepang setelah lulus, tetapi terinspirasi untuk pindah ke Lembah Silikon, California untuk bekerja pada startup internet. Ini lantaran ia terinspirasi dengan ceramah Bill Gates bahwa gelombang masa depan adalah dunia “dot-com”.

Ditolak masuk AS

Namun, tak mudah bagi Yuan masuk ke Amerika Serikat. Ada delapan kali permohonan visanya ditolak oleh Imigrasi AS sebelum akhirnya Yuan pindah ke California pada 1997. “Saya mengajukan permohonan berulang kali selama dua tahun,” kata Yuan.

Barulah, pada permohonan kesembilan ia diterima. Namun, penolakan itu menjadi catatan sejarah yang tampaknya paling menarik—mungkin juga epik—karena seorang lelaki muda, usia 27 tahun saat itu, justru kini menjadi “penolong” masyarakat Paman Sam. Melalui Zoom, orang-orang AS bisa bertemu muka di ruang-ruang digital selama Covid-19 mewabah. Ya, butuh 23 tahun untuk sampai titik kesuksesan tersebut.

Awal-awal datang di AS, Yuan yang memiliki kemampuan sedikit bahasa Inggris lebih banyak fokus pada pekerjaan. Ia bekerja di platform konferensi video WebEx yang hanya memiliki selusin karyawan. "Selama beberapa tahun pertama, saya hanya menulis kode dan saya sangat sibuk," kata Yuan. Bermain pick-up soccer  atau futsal adalah satu-satunya hobi Yuan selama waktu itu.


Berita Terkait:


Bermula dari Cisco

Ketika Cisco membeli WebEx pada 2007, Yuan kemudian ditunjuk sebagai wakil presiden bidang teknik di perusahaan peralatan telekomunikasi Cisco Systems—raksasa perusahaan teknologi informasi.

Karena sering bertemu dengan pelanggan WebEx, ia menyerap sejumlah pengalaman pengguna. Ternyata, ada masalah ketidakpuasan dengan platform. Ia pun terinspirasi untuk mengembangkan platform sendiri. Jadilah, pada Juni 2011, ia menciptakan Zoom, solusi komunikasi video yang lebih simpel untuk dipakai di mana pun situasinya, baik kereta, kampus, maupun kantor.

“Saya pertama kali membayangkan Zoom ketika saya masih mahasiswa baru di perguruan tinggi di China,” kata Yuan.

Namun, jika ia rindu dengan pacarnya—kini sebagai istrinya yang memberikan dua anak—dirinya harus naik kereta selama 10 jam untuk sampai di kampus kekasihnya itu.

“Saya hanya bisa melihat dia dua kali setahun,” kata Yuan. “Saya masih muda saat itu, 18 atau 19 tahun, dan saya pikir itu akan menjadi fantastis jika di masa depan ada perangkat di mana saya bisa mengklik tombol dan melihatnya dan berbicara dengannya."

Lamunan itu akhirnya menjadi dasar untuk Zoom.

Pengalaman itu memberi ide Yuan untuk memasukkan komunikasi video ke sistem konferensi berbasis telepon seperti Cisco. Yuan memberi Cisco berupa sistem konferensi video yang baru dan ramah smartphone pada 2011. Namun, ide atau aspirasi Yuan ditolak bosnya, ia meninggalkan Cisco untuk mendirikan Zoom.

"Cisco lebih fokus pada jejaring sosial, mencoba membuat perusahaan Facebook," kata Yuan, kini tinggal di Saratoga, California.

“Cisco membuat kesalahan. Tiga tahun setelah saya pergi, mereka menyadari apa yang saya katakan benar. ”

Lebih dari 40 rekan insinyur mengikuti Yuan di perusahaan rintisan (startup) Zoom Video Communication Inc. Ia meluncurkan Zoom pada 2012. “Lima tahun kemudian, kami telah menyelenggarakan lebih dari 20 miliar menit risalah rapat dalam setahun dan basis pelanggan kami mencakup seperti dari perusahaan kelompok Fortune 500 dan 90 persen dari 200 universitas AS ternama,” kata dia.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menggunakan aplikasi Zoom dalam rapat kabinetnya selama wabah Covid-19 melanda Inggris. | Foto: 10 Downing Street


Pinjam uang

Meski Yuang adalah mantan wakil presiden bidang teknis di WebEx yang dimiliki Cisco System, tak mudah baginya mendapatkan investor untuk proyek Zoom. Ia ditolak berkali-kali.

Bahkan, istrinya pun sempat cemas dan mempertanyakan mengapa ia pergi dari Cisco. “Saya mengatakan kepadanya, 'Saya tahu ini perjalanan yang panjang dan sangat sulit, tetapi jika saya tidak mencobanya, saya akan menyesalinya’,” kata Yuan.

Namun, dalam kamus hidupnya, tak ada ungkapan patah arang. Yuan mengubah screensaver di komputernya dengan tulisan: It can’t be done’ and kept working, tutur Santi Subotovsky, mitra di Zoom Investor Emergence Capital.

Ia pun meminjam uang dari teman dan keluarga untuk usahanya itu. “Mereka (investor) pikir pasar sudah sangat ramai, game is over,” kata dia menceritakan penolakan investor.

Sebagai pendiri aplikasi, Yuan juga sekaligus pengguna. Ia menggunakan Zoom untuk hampir semua pertemuan dan mencoba membatasi perjalanan bisnis. "Pelanggan selalu berkata, 'Eric, kami akan menjadi pelanggan Anda yang sangat penting, Anda harus mengunjungi kami’,” kata Yuan.

“Aku berkata, 'Baiklah, aku akan mengunjungi kamu, tapi mari kita mengunjungi Zoom terlebih dulu’,” Yuan menambahkan.

Protokol privasi dan keamanan

Beberapa pekan belakangan, Zoom mendapat sorotan tajam terkait keamanan dan privasi. Apalagi Kejaksaan Agung New York sampai berkirim surat kepada perusahaan pada pekan lalu untuk menanyakan apakah Zoom menerapkan protokol keamanan tambahan atau tidak.

Sebab, dalam beberapa kejadian, Zoom dipakai orang-orang iseng untuk berbuat rusuh dan mengganggu pertemuan daring kampus atau sekolah. Pesan pornografi, rasis, dan ancaman jiwa muncul dalam aksi yang disebut “zoombombing” tersebut.

“Zoom sangat memperhatikan privasi, keamanan, dan kepercayaan penggunanya,” kata Zoom dalam pernyataan menjawab surat jaksa agung itu.

“Selama pandemi COVID-19, kami bekerja sepanjang waktu untuk memastikan bahwa rumah sakit, universitas, sekolah, dan bisnis lainnya di seluruh dunia dapat tetap terhubung dan beroperasi. Kami menghargai keterlibatan Jaksa Agung New York dalam masalah ini dan dengan senang hati memberikan informasi yang diminta kepadanya."

Yuan juga meminta maaf atas masalah itu.

“Kami tidak merancang produk dengan prediksi, bahwa dalam hitungan pekan, setiap orang di dunia tiba-tiba akan bekerja, belajar, dan bersosialisasi dari rumah," kata dia.


Berita Terkait:


“Kami menyadari bahwa kami telah kehilangan harapan privasi dan keamanan komunitas dan kami sendiri. Untuk itu, saya sangat menyesal, dan saya ingin membagikan apa yang kami lakukan tentang itu,” ia menambahkan.

Sejak kritikan bermunculan, mulai 5 April 2020, Zoom mengubah kebijakan platform. Mereka mengaktifkan secara otomatis kata sandi dan ruang tunggu untuk setiap kali pertemuan dilakukan. Seseorang harus masuk dengan kata sandi sebelum mengikuti rapat daring.

Selain itu, Yuan juga telah meminta bantuan ahli dari luar, termasuk mengadakan program bug bounty (sayembara berhadiah penemuan kerentanan pada aplikasi) yang ditawarkan kepada para peretas (hacker) topi putih.

Pengalaman Yuan menyangkut keamanan siber pernah juga dialaminya di awal-awal Zoom berdiri. Ia sempat dituding melakukan “penipuan” melalui email.

Awalnya, ia mambalas secara pribadi surat elektronik (email) kepada setiap pelanggan yang membatalkan layanannya. “Seorang pelanggan menjawab catatan saya dan menuduh saya mengirim email yang dibuat secara otomatis "meniru" CEO—katanya Zoom adalah perusahaan yang tidak jujur!” cerita Yuan.

“Saya menulis kembali bahwa email itu memang dari saya. Orang itu masih tidak percaya kepada saya, jadi saya menulis kembali dan menawarkan untuk bertemu dengannya pada panggilan Zoom. Saat itu juga membuktikan bahwa saya yang menulis email. Panggilan daring itu tidak pernah terjadi, tetapi orang itu berhenti menuduh Zoom tidak jujur!” tutur Yuan.

Yuan kini berusia 50 tahun. Namun, kekayaan yang dimiliki saat ini, ia anggap tak berdampak besar bagi dirinya. “Jika saya berusia 25, mungkin saya akan sangat bersemangat. Tetapi, hal-hal itu tidak berdampak pada saya. Uang tidak akan memberi saya kebahagiaan,” kata dia.

Ia kini justru mendorong agar orang-orang untuk beradaptasi dengan pekerjaan jarak jauh. "Milenial tumbuh dengan kesadaran bahwa mereka dapat menyelesaikan pekerjaan tanpa harus pergi ke kantor," kata Yuan.

Ia memperikan dalam 10 tahun mendatang, ketika para milenial itu menjadi pemimpin di masing-masing pekerjaannya, “Pekerjaan jarak jauh itu akan menjadi sangat umum. Virus corona hanyalah katalisator. Cepat atau lambat ini akan menjadi normal karena dunia bukan milik kita lagi, itu milik generasi muda,” kata Yuan.[]


Sumber: artikel ini bersumber dari Business Insider Singapore yang terbit pada Rabu (1 April 2020) dan artikel dari pendiri Authority Magazine Yitzi Weiner bertajuk The Inspiring Backstory of Eric S. Yuan, Founder and CEO of Zoom yang diunggah di blognya.

#ericyuan   #zoom   #zoombombing   #telekonferensivideo   #webex   #ciscosystem

Share:




BACA JUGA
Rusia Larang Penggunaan Aplikasi Perpesanan Asing di Instansi Pemerintah
Empat Isu Keamanan Siber yang Perlu Diantisipasi pada 2023
Peretas Rusia FIN11 Manfaatkan Zoom Untuk Lakukan Kampanye Phising
Cara Memutar Musik di Rapat Zoom
Zoom Bergabung Bersama Facebook, Alphabet dan Microsoft Lawan Terorisme