IND | ENG
YouTube Diuntungkan Iklan Video Covid-19 yang Menyesatkan

Ilustrasi | Foto: freepik.com

YouTube Diuntungkan Iklan Video Covid-19 yang Menyesatkan
Tenri Gobel Diposting : Minggu, 05 April 2020 - 18:10 WIB

Cyberthreat.id – YouTube mendapat untung dari sejumlah iklan video yang mempromosikan solusi penyembuhan penyakit virus corona (Covid-19). Padahal, konten video tersebut belum terbukti kebenarannya.

Perusahaan media sosial milik Google itu menjalankan iklan-iklan video yang mendorong obat herbal, musik meditatif, dan suplemen tanpa resep.

“YouTube telah mengizinkan beberapa penjaja disinformasi tentang virus corona untuk mendapatkan uang dari iklan,” demikian laporan terbaru Tech Transperancy Project, organisasi riset nirlaba juga pengawas kebijakan di bidang teknologi, seperti dikutip dari The Guardian, Jumat (3 April 2020).

Setidaknya tujuh video yang mempromosikan informasi yang masih diragukan validitasnya. Misalnya, iklan video berjudul “10 Herbs That Kill Viruses and Clear Mucus from Your Lungs.”

“Video ini tidak menyebutkan virus corona secara khusus, tapi muncul dalam pencarian YouTube untuk kata kunci coronavirus home remedy,” tulis TTP.

Sementara itu, iklan Quibi—startup streaming video yang didukung The Walt Disney Company, NBCUniversal, Viacom, dan Sony Pictures Entertainment—menampilkan klaim bahwa air minum dapat mencegah infeksi virus corona.

Ada pula iklan platform belajar daring (e-learning) mengklaim bahwa membakar dupa, memakan buah Amla, dan daun Neem akan mencegah virus corona.

Ada pula iklan banner untuk Facebook muncul di video YouTube yang berjanji meningkatkan sistem kekebalan penonton—juga untuk melawan virus corona—melalui musik yang “meningkatkan [efek positif] kognitif dengan menggunakan gelombang theta yang halus, tapi kuat.”

“Iklan itu muncul saat Facebook berusaha melawan informasi yang salah tentang kesehatan pada platformnya sendiri,” tulis TTP.

Empat video dihapus

Setelah dihubungi oleh The Guardian, YouTube menghapus empat video yang dipermasalahkan karena termasuk kategori disinformasi tentang Covid-19.

Namun, tiga video lain masih ada karena dinilai tidak mempromosikan informasi yang salah secara langsung, tetapi menawarkan tips kesehatan, menurut juru bicara YouTube.

“Kami berkomitmen untuk memberikan informasi yang tepat waktu dan bermanfaat pada saat yang kritis ini, termasuk meningkatkan konten otoritatif, mengurangi penyebaran informasi yang berbahaya dan menunjukkan panel informasi, serta menggunakan data WHO untuk membantu memerangi kesalahan informasi,” kata juru bicara itu.

YouTube mengklaim telah menghapus ribuan video terkait konten virus corona yang menyesatkan dan berbahaya dalam beberapa pekan terakhir.

"Sejak awal pandemi, kami telah melihat peningkatan besar informasi yang salah pada platform online," kata Megan Lamberth, peneliti Center for New American Security, sebuah lembaga think tank yang berbasis di Washington DC.

Lamberth menyadari bahwa perusahaan media sosial memang telah berupaya merespons banjirnya informasi salah yang ada di platormnya, “Tetapi, dalam banyak kasus, upaya moderasi (pengurangan) mereka belum memadai," kata dia.

TikTok, misalnya, bermitra dengan WHO untuk memberikan informasi akurat kepada pengguna dan telah menafikan semua video menggunakan tagar #coronavirus dengan informasi akurat tentang pandemi. Facebook juga telah menghapus konten terkait solusi penyembuhan Covid-19 yang belum terbukti kebenarannya.

“Pandemi global telah menciptakan situasi yang matang untuk penyebaran obat palsu,” kata Lisa Fazio, profesor psikologi Universitas Vanderbilt, yang juga mempelajari tentang hoaks dan bagaimana penyebarannya.

Kebijakan keliru

YouTube awalnya melarang monetisasi video tentang Covid-19 di bawah kebijakan "sensitive events" yang melarang iklan video mengenai konflik bersenjata, aksi teroris, dan krisis kesehatan global.

Namun, pada 11 Maret lalu, YouTube justru meralat kebijakan tesebut dan “memastikan organisasi dan pencipta berita dapat terus memproduksi video berkualitas secara berkelanjutan”.

Hal itu yang kemudian mengaktifkan iklan video virus corona untuk “sejumlah saluran”. Lalu, pada 2 April lalu, memperluas monetisasi konten yang menyebutkan atau menampilkan Covid-19 untuk semua pembuat dan organisasi berita.

Dengan mengubah kebijakan tersebut, menurut TTP, YouTube justru, “Dapat mendorong informasi yang keliru sebagai sarana menghasilkan laba.”

Selain itu, “YouTube juga telah membuat disinformasi menguntungkan bagi beberapa pembuat konten yang tidak bermoral..." TTP menambahkan.[]

Redaktur: Andi Nugroho

#covid-19   #viruscorona   #iklanyoutube   #youtube   #hoaks   #disinformasi   #TechTransperancyProject

Share:




BACA JUGA
Jaga Kondusifitas, Menko Polhukam Imbau Media Cegah Sebar Hoaks
Menteri Budi Arie Apresiasi Kolaborasi Perkuat Transformasi Digital Pemerintahan
Butuh Informasi Pemilu? Menteri Budi Arie: Buka pemiludamaipedia!
Agar Tak Jadi Korban Hoaks, Menkominfo: Gampang, Ingat BAS!
Menkominfo Imbau Platform Digital Aktif Tekan Sebaran Konten Negatif PemiluĀ