
Microsoft Edge | Foto: Windows Central
Microsoft Edge | Foto: Windows Central
Cyberthreat.id – Anda memakai Microsoft Edge? Saya yakin mayoritas dari Anda menjawab: tidak.
Dirilis sejak 17 Maret 2015, Edge adalah peramban web (web browser) default yang dikenalkan Microsoft untuk Windows 10, sekaligus menggeser posisi Internet Explorer yang telah uzur.
Edge—kompatibel di telepon pintar Android dan iOS—datang dengan tampilan lebih menarik untuk menggaet pasar lain yang lebih dulu “dikuasai” oleh Google Chrome atau Mozilla Firefox. Tahun lalu, Edge mulai menjelajah di macOS, yang sebelumnya lebih akrab dengan peramban bawaan: Safari.
Sebetulnya, masih banyak browser lain yang tersedia di pasar, seperti Brave, Tor, Chromium, Opera, Samsung Internet, UC Browser, Vivaldi, dan sebagainya.
Namun, mayoritas pengguna di Indonesia lebih akrab dengan tiga peramban, seperti Chrome, Firefox, atau Safari. Bahkan, pengakses Cyberthreat.id juga tak jauh-jauh dari ketiganya, termasuk Edge meski persentasenya cukup sedikit.
Awal pekan ini, 30 Maret 2020, raksasa teknologi yang didirikan Bill Gates itu merilis pembaruan fitur pada Edge. Yang menarik, Microsoft mulai konsen terhadap sisi keamanan dan privasi pengguna.
Ada tiga fitur yang konsen dalam keamanan dan privasi, yaotu Password Monitor, mode inPrivate, dan pencegahan pelacakan (tracking prevention).
Wakil Presiden Perusahaan Microsoft Edge, Liat Ben-Zur, mengatakan, dunia kini berubah pada “tingkat yang luar biasa”. Hal yang disoroti saat ini ialah informasi daring (online) apa yang dapat dipercaya.
“Kami khawatir tentang keamanan data pribadi kami, identitas kami, dan keamanan anak-anak kami secara online,” kata dia di blog perusahaan.
“Di Microsoft, kami mulai mempertanyakan status quo browser. Mungkin sudah waktunya mengharapkan [peramban] lebih dari web,” ia menegaskan.
Itulah salah satu alasan Microsoft membuat pembaruan-pembaruan untuk perambannya. Tahun lalu, perusahaan menginteropeksi kembali Edge berdasarkan mesin Chromium. Ini untuk memastikan kecepatan, kinerja, dan kompatibilitas situs web dengan situs dan ekstensi yang dipakai pengguna.
“Tapi, kami percaya itu tidak cukup,” kata dia.
“Sudah waktunya untuk mengharapkan lebih banyak dari browser kami, kontrol lebih besar atas data kita...” ia menuturkan.
Ada sembilan fitur baru di Edge, antara lain collections (mengatur penjelajahan), vertical tabs, smart copy, tracking prevention, password monitor, inPrivate mode, immersive reader, 4K and dolby audio, dan give with Bing.
Dalam tulisan ini, hanya tiga yang ingin kami bahas.
Pertama, password monitor.
Ben-Zur mengatakan, tiap tahun jutaan kredensial pribadi daring terekspose karena pelanggaran data dan biasanya berakhir di forum web gelap (dark web).
Fitur password monitor, kata dia, membantu pengguna menjaga akun daring pengguna aman dari peretas. “Saat diaktifkan, fitur ini memberitahu Anda jika kredensial yang Anda simpan ke pengisian otomatis terdeteksi di web gelap,” tutur Ben Zur.
Jika Edge mengungkap kecocokan nama pengguna dan kata sandi yang tersimpan, pengguna akan menerima pemberitahuan dari dalam peramban. Melalui dasbor di “Pengaturan”, pengguna dapat melihat daftar semua kredensial yang bocor dan dialihkan ke situs web masing-masing untuk mengubah kata sandi. Setelah kata sandi diubah, simpan kredensial baru untuk diisi ulang otomatis.
Kedua, mode inPrivate
Fitur ini, secara otomatis, menghapus riwayat, kuki (cookies), dan data situs saat sesi penjelajahan berakhir. Edge akan segera menawarkan pencarian InPrivate bawaan dengan Bing sehingga ketika seseorang menjelajah dalam mode InPrivate, pencarian tidak terikat dengan orang atau akun mereka. Pencarian InPrivate sekarang tersedia di saluran Insider dan akan segera diluncurkan ke saluran Stable.
Ketiga, tracking prevention
Ben-Zur mengatakan, bagi banyak orang, bahkan anak-anak, iklan hasil personalisasi yang mengikuti di web terkadang terasa mengganggu. Untuk itu, Edge menghadirkan fitur pencegahan pelacakan (tracking prevention).
“Ini dirancang untuk melindungi Anda dari pelacakan situs web yang tidak Anda akses langsung, sehingga memberi Anda lebih banyak kontrol atas apa yang Anda lihat dan apa yang tidak dilihat,” kata dia.
Pada ponsel atau komputer desktop, pengguna dapat memilih tiga pengaturan: dasar (basic), seimbang (balanced), dan ketat (strict); ini untuk menyesuaikan jenis pelacak pihak ketiga yang diblokir di browser. “Ini dimaksudkan untuk membantu orang lebih memahami dan mengelola siapa yang melacak mereka secara online,” kata Ben-Zur.[]
Share: