IND | ENG
Aktivitas Rumah Pengguna Google di Indonesia Bertambah 15%

Aktivitas di Rumah Pengguna Google Indonesia Bertambah 15% | Ilustrasi foto: ANTARA/Natisha Andarningtyas

Aktivitas Rumah Pengguna Google di Indonesia Bertambah 15%
Yuswardi A. Suud Diposting : Sabtu, 04 April 2020 - 16:35 WIB

Cybethreat.id - Sejauh mana seruan pemerintah agar masyarakat tetap bertahan di rumah selama wabah Covid-19 dipatuhi di Indonesia? Data Google ini barangkali bisa memberi gambaran meski tidak mewakili keseluruhan populasi di Indonesia.

Pada Jumat (3 April 2020) Google merilis data yang disebut sebagai Covid-19 Community Mobility Reports. Data ini memberi gambaran tentang perubahan aktivitas orang-orang sebelum dan sesudah wabah Covid-19 kian menggila. Sejauh ini ada 113 negara termasuk Indonesia yang dibuatkan laporannya dan akan terus diperbaharui.

Batasan garis tengahnya adalah periode 3 Januari - 6 Februari 2020. Artinya, perubahan dihitung sejak 7 Februari dan seterusnya. Sedangkan batas akhirnya adalah 2-3 hari sebelum data itu dirilis, merujuk kepada waktu yang dibutuhkan Google untuk membuat laporan itu.

Untuk Indonesia, aktivitas pengguna Google di perumahan bertambah 15 persen dari sebelumnya. Sebaliknya, terjadi pengurangan 15 persen untuk aktivitas di tempat kerja. (Klik di sini untuk mengunduh laporan tentang Indonesia).

Pengurangan aktivitas yang cukup besar terjadi di transportasi massal seperti busway, stasiun kereta api atau MRT, yaitu sebesar 54 persen. Disusul aktivitas di ruang publik seperti taman, plaza atau pantai sebesar 52 persen.

Sedangkan untuk kategori ritel dan rekreasi (tempat seperti restoran, kafe, pusat perbelanjaan, taman, hiburan, museum, perpustakaan dan bioskop) berkurang hingga 47 persen.

Sementara untuk kategori groseri dan farmasi (tempat-tempat seperti pasar grosir, gudang makanan, pasar petani, toko makanan khusus, toko obat dan apotek) berkurang 27 persen.

Google menggarisbawahi, peghitungan dibuat berdasarkan data pengguna Google yang mengaktifkan Riwayat Lokasi (Location History) di ponsel mereka (tentu saja jika koneksi internetnya tidak mati). Artinya, mereka yang mematikan fitur lokasi di ponselnya, tidak termasuk dalam hitungan. Dengan begitu, kata Google, bisa jadi tidak mewakili populasi masyarakat yang lebih luas.

Disebutkan, akurasi lokasi dan pengelompokan tempat bervariasi dari satu wilayah ke wilayah.

"Jadi kami tidak akan merekomendasikan data ini untuk membandingkan perubahan antar negara, atau antar karakteristik wilayah yang berbeda (misal: daerah pedesaan versus perkotaan)," tulis Google.

Perusahaan mengatakan tidak mempublikasikan "jumlah absolut kunjungan" sebagai langkah privasi, dan menambahkan "untuk melindungi privasi orang, tidak ada informasi yang dapat diidentifikasi secara pribadi, seperti lokasi individu, kontak atau pergerakan."[]

#corona   #google   #socialdistancing   #covid19

Share:




BACA JUGA
Google Mulai Blokir Sideloading Aplikasi Android yang Berpotensi Berbahaya di Singapura
Google Penuhi Gugatan Privasi Rp77,6 Triliun Atas Pelacakan Pengguna dalam Icognito Mode
Malware Menggunakan Eksploitasi MultiLogin Google untuk Pertahankan Akses Meski Kata Sandi Direset
Google Cloud Mengatasi Kelemahan Eskalasi Hak Istimewa yang Berdampak pada Layanan Kubernetes
Penting: Kerentanan Zero-Day Chrome Terbaru yang Dieksploitasi di Alam Liar – Upadate-ASAP