IND | ENG
Kata Anies 283 Warga DKI Meninggal, Kenapa Data di Web Beda?

Postinga disinformasi tentang pernyataan Anies yang menyebut 283 warga DKI Jakarta meninggal.

CEK FAKTA
Kata Anies 283 Warga DKI Meninggal, Kenapa Data di Web Beda?
Yuswardi A. Suud Diposting : Selasa, 31 Maret 2020 - 10:52 WIB

Cyberthreat.id - Pernyataan Gubernur Anies Baswedan yang menyebut sejak 6-29 Maret 2020 sudah 283 orang yang dimakamkan dengan prosedur tetap (protap) Covid-19 menjadi perdebatan di sosial media dan sejumlah grup WhatsApp. Banyak yang gagal paham maksudnya.

Mereka yang mempertanyakan soal ini membandingkan dengan data di situs web corona DKI Jakarta yang menyebut korban meninggal karena Covid-19 di DKI Jakarta masih 74 orang hingga 30 Maret 2020.

Bahkan, dalam sebuah postingan yang viral di Facebook, menyebut Anies nyolong 161 jenazah. Parahnya lagi, angka 161 didapat dari pengurangan 283 jenazah yang disebut Anies, dan dikurangi dengan data kematian nasional yang berjumlah 122 orang, bukan data kematian di provonsi DKI Jakarta.

"161 mayat lagi nyolong dimana ya," bunyi narasi dalam postingan yang diunggah oleh akun Nick Ni pada Selasa, 31 Maret 2020.

Pertanyaan serupa juga mucul di sejumlah grup WhatsApp,  membandingkan datanya dengan yang tertera di situs web penanganan covid-19.




Padahal, ketika menyampaikan 283 orang dimakamkan dengan protap covid-19, Anies telah menjelaskan maksudnya. Mereka adalah orang-orang yang belum sempat dites, atau hasil tesnya belum keluar pada saat meninggal. Walau pun begitu, mereka tetap dimakamkan dengan perlakuan seperti protap korban Covid-19 untuk berjaga-jaga agar tidak menularkan ke orang lain jika ternyata nanti hasilnya positif.

Berikut pernyataan Anies yang disampaikan Senin, 30 Maret 2020.
 
"Terjadi pemulasaran dan pemakaman dengan menggunakan protap covid-19. Protapnya itu diantaranya bahwa jenazah dibungkus dengan plastik, menggunakan peti, lalu harus dimakamkan kurang dari empat jam, lalu petugasnya menggunakan APD (Alat Pelindung Diri).

Sejak tanggal 6 Maret mulai ada kejadian pertama sampai dengan tanggal 29 Maret, itu ada 283 kasus

Artinya, ini adalah mungkin mereka-mereka yang belum sempat dites, karena itu tidak bisa disebut sebagai positif, atau sudah dites tetapi belum ada hasilnya, kemudian wafat.

Ini menggambarkan bahwa situasi di Jakarta terkait dengan Covid sangat mengkhawatirkan, karena itu saya benar-benar meminta kepada seluruh masyarakat Jakarta jangan pandang angka ini sebagai angka statistik. 283 itu bukan angka statistik, itu adalah warga kita yang bulan lalu sehat."

Kasus serupa juga terjadi di Aceh. Di situs resmi covid19.go.id, pada 30 Maret 2020, Aceh tercatat dengan 5 orang positif Covid-19 dan belum ada yang meninggal.

Faktanya, beberapa hari lalu dua orang berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) meninggal sebelum hasil uji labnya keluar. Belakangan, hal uji lab salah satu dari yang meninggal menunjukkan hasilnya positif Covid-19. Sementara yang satunya lagi belum diketahui hasilnya.

Jangan lupa, bagikan informasi yang benar. []

Berita terkait:

#hoax   #corona   #sosialmedia   #dkijakarta   #aniesbaswedan

Share:




BACA JUGA
Jaga Kondusifitas, Menko Polhukam Imbau Media Cegah Sebar Hoaks
Antisipasi Deep Fake, Wamen Nezar Patria: Kominfo Lindungi Kelompok RentanĀ 
APJII DKI Jakarta Kunjungi Pusat Data MettaDC
Pengwil dan Anggota APJII DKI Jakarta Telaah Penggunaan Dana USO
Lebih Dari 4 Miliar Orang Terkena Sensor Internet Pada Tahun 2022