
Situs web buatan Louis Lugas yang menunjukkan jejaring riwayat pasien Covid-19 di Indonesia yang dirilis pertama kali pada 14 Maret 2020. | Foto: tangkapan layar Cyberthreat.id
Situs web buatan Louis Lugas yang menunjukkan jejaring riwayat pasien Covid-19 di Indonesia yang dirilis pertama kali pada 14 Maret 2020. | Foto: tangkapan layar Cyberthreat.id
Jakarta, Cyberthreat.id – Situs web milik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang menampilkan jejaring riwayat pasien Covid-19 di Indonesia tak bisa diakses pada pukul 19.30 WIB, Minggu (22 Maret 2020).
Cyberthreat.id terakhir masih bisa mengakses situs web http://covid-monitoring.kemkes.go.id pada pukul 15.00 WIB. Situs web ini menampilkan data digital yang mirip dengan peta interaktif buatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang beralamat berikut ini: https://corona.jakarta.go.id/id/peta.
Hanya yang membedakan dari data digital milik Kemkes RI ialah memetakan riwayat seluruh pasien Covid-19 di Indonesia. Sementara, data digital DKI Jakarta hanya meriwayatkan pasien yang ada di Jakarta.
Di situs web tersebut tersebut terpampang total kasus, pasien dalam perawatan, pasien sembuh, dan pasien meninggal. Ada lima kategori yang ditampilkan oleh pemerintah dalam situs tersebut, antara lain kewarganegaraan, usia, jenis kelamin, klaster, dan status.
Dari data yang ada bisa terlacak bagaimana riwayat Pasien 1 yang terinfeksi virus SARS-Cov-2. Ia melakukan kontak sebelumnya dengan warga negara Jepang atau Pasien 10. Anda bisa lihat jejaknya seperti berikut ini:
Sementara itu, di Twitter, seorang pengguna menuding bahwa Kemkes RI telah mengambil kode pemrograman miliknya untuk membuat situs web http://covid-monitoring.kemkes.go.id.
Dalam cuitannya, pengguna yang mengaku dirinya bernama Louis Lugas (@handjobservice) mengatakan:
“Update 21 Maret 2020, sudah 450 kasus yang terungkap. Pagi-pagi dibikin kaget sama http://covid-monitoring.kemkes.go.id yang udah copas punya saya :"). Tapi sepertinya @KemenkesRI rada sadar kalo mau pake kode saya harus lengkap datanya. Alhasil ((hampir)) semua sekarang ada usia & gender.”
Bahkan, ia menampilkan basis data khusus di Jakarta yang tumpang tinding, serta meminta agar Kemkes melengkapi informasi sejumlah pasien yang tidak disebutkan dalam penomoran.
“@KemenkesRI lengkapi juga data rumah sakit dan asal penularan, sajikan data dalam bentuk tabel, agar mudah dibaca oleh banyak oran. (peneliti, awam, jurnalis). Makanya jangan asal copy kode orang,” tulis dia.
Di linimasanya, jauh-jauh hari, tampak bahwa Louis memang ingin membuat sebuah situs web yang mudah dipahami publik tentang Covid-19. Ia mengatakan niatnya pada cuitannya pada tanggal 11 Maret 2020. Ia juga melampirkan alamat situs web yang ia buat dan dipublikasikan di GitHub Pages: https://louislugas.github.io/covid_19/index.html.
“Terinspirasi dari laporan Reuters Graphic yang sederhana, jelas, & responsif di segala platform, saya coba buat berdasarkan artikel Indepth Tirto di awal minggu ini. Semoga turut membantu menjelaskan, terutama mengenai kasus 01 & 02 Covid-19 di Jakarta,” tutur dia.
Barulah pada tanggal 15 Maret, ia merilis situs web terkait jejaring riwayat pasien Covid-19 dengan data per 14 Maret (saat itu diumumkan kasus telah mencapai 96 orang). Situs webnya juga dipublikasi di GitHub Pages dengan alamat: https://louislugas.github.io/covid_19_cluster/index.html.
“Akhirnya bisa dirilis, dengan data terakhir 14 Maret 2020, 96 kasus. Data akan terus diupdate secara berkala. Mobile friendly, sudah color-coded, tapi belum sanggup memberi legenda. Jika memungkinkan akan terus dilengkapi fiturnya. Semoga informatif,” tulis dia.
Berita Terkait:
Adakah yang beda?
Jika melihat pemetaan jejaring riwayat pasien buatan Luis, harus diakui bahwa situs web buatannya lebih enak dilihat dan detail. Selain itu, situs web ini juga mendukung di tampilan seluler.
Yang menarik adalah soal identifikasi Pasien 76 yaitu Menteri Perhubungan Budi Karya Samadi. Pada pemberitaan sebelumnya, Cyberthreat.id menulis bahwa data Pasien 76 tertulis perempuan, padahal BKS adalah laki-laki. Selebihnya hanya berisi status, usia, dan wilayah.
Disebutkan pada situs web Kemkes, bahwa Pasien 76 tercatat sebagai seorang perempuan berusia 58 tahun dan warga DKI Jakarta. Pasien 76 ini berdiri sendiri atau tidak ada garis riwayat kontak dengan pasien lain. Sejauh ini belum diketahui di mana letak kesalahan data ini. Apakah kesalahan di data yang diinput pengelola situs web atau dari pihak RSPAD Gatot Soebroto yang salah menyebut nomor kasus Menhub Budi Sumadi.
Sementara, yang disajikan Louis lebih detail, bahkan disajikan keterangan riwayat rangkaian kerja Menhub. Berikut tangkapan layarnya:
Tak perlu untuk memahami bahasa coding, publik yang ketika melihat situs web Kemkes dan Louis pasti akan mengatakan mirip sekali. Jika tak menelusuri lebih lanjut, publik bisa menilai apa yang dibuat Louis adalah copy paste dari pemerintah atau pembuatnya adalah orang yang sama. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya, Louis menuding Kemkes mengambil kode pemrogramannnya.
Di situs web Louis tersedia pengelompokkan berdasarkan provinsi, usia, jenis kelamin, rumah sakit, kewarganegaraan, dan status. Pengunjung bisa langsung memilih kategori mana yang ingin dicari.
Jika kita memilih kategori “rumah sakit”, data berupa angka-angka (merujuk pada Pasien 1 hingga Pasein 450 (saat diakses baru menyajikan pembaruan data per 21 Maret) akan menyala warna-warni sesuai legenda yang dicantumkan. Selain itu, pengunjung juga akan melihat ke mana jalur atau garis interaksi pasien di satu rumah sakit dengan pasien di rumah sakit lain.
Sejauh ini, Cyberthreat.id belum mendapatkan balasan dari Louis yang dikontan lewat Twitter-nya. Begitu pula, Kemkes juga belum memberikan respons ketika dihubungi baik melalui telepon maupun pesan WhatsApp.[]
Update:
Share: