
Tangkapan layar peta persebaran virus corona nasional di Indonesia bikinan Kemenkes RI
Tangkapan layar peta persebaran virus corona nasional di Indonesia bikinan Kemenkes RI
Cyberthreat.id - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah merilis peta digital yang memperlihatkan jejak penularan virus corona dari kasus 1 hingga kasus 450 per 21 Maret 2020. Peta ini dapat diakses di covid-monitoring.kemkes.go.id
Berbeda dengan pemetaan oleh Pemprov DKI Jakarta, peta ini tidak memperlihatkan lokasi-lokasi yang pernah dikunjungi oleh mereka yang terkonfirmasi positif Covid-19. Daerah tinggal mereka yang terinfeksi hanya disebut hingga nama provinsi.
Diakses pada Minggu siang (22 Maret 2020), peta dari Kemenkes ini menunjukkan kaitan penularan antara satu kasus dengan kasus lain. Pengelompokan dibagi berdasarkan provinsi (klaster), jenis kelamin, kewarganegaraan, status kasus dan usia.
Di layar komputer, muncul angka-angka yang ketika diklik akan memperlihatkan keterkaitan dengan kasus lain.
Kasus 1, misalnya. Ketika diklik di nomor 1 muncul garis yang menunjukkan keterkaitan dengan 14 kasus lain yaitu kasus 2 (wanita), 3 (laki-laki), 4 (wanita), 5 (laki-laki), 10 (wanita), 11 (laki-laki), 12 (wanita), 13 (wanita), 21 (wanita), 26 (laki-laki), 27 (laki-laki, Provinsi Banten), 70 (laki-laki), 71 (wanita), 83 (wanita).
Tangkapan layar jejak penularan dari kasus 1
Dari 14 kasus itu, beberapa diantaranya menularkan ke kasus lain seperti kasus 11 yang menularkan ke kasus 9, kasus 83 ke kasus 20, dan kasus 71 menularkan ke kasus 40.
Kasus 20 yang awalnya terkoneksi dengan kasus 83, menularkan ke kasus 23.
Dari kasus-kasus yang terhubung ke kasus 1 itu, dua diantaranya dilaporkan meninggal dunia yaitu kasus 12 dan 11.
Sebelumnya, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah meluncurkan situs covid19.go.id yang disebut sebagai situs resmi pemerintah satu pintu untuk penanganan Covid-19. Namun, tidak diketahui pasti mengapa peta jejak penularan bikinan Kemenkes RI itu belum muncul di situs covid19.go.id.
Penularan ke Luar Jakarta
Pasien 78 yang disebut sebagai Laki-laki 34 tahun dari Kalimantan Barat, terhubung dengan kasus 46 dan 81 di Jakarta. Kasus 46 adalah laki-laki berusia 45 tahun, dan kasus 81 adalah laki-laki berusia 73 tahun. Keduanya sedang dalam perawatan di Jakarta.
Ada pun kasus 27 yang terkait dengan kasus 1, membawa virusnya ke Provinsi Banten.
Butuh Peta Jejak Lokasi Nasional
Sebelumnya, sejumlah netizen menyambut baik ketika pemerintah DKI Jakarta mengungkap jejak lokasi sebagian pasien yang dinyatakan positif Covid-19. Peta itu disebut 'Peta Kronologis dan Perkembangan Kasus Covid-19' dan bisa diakses di https://corona.jakarta.go.id/id/peta
Namun, hingga Minggu siang ini, jejak lokasi yang ditampilkan di situs DKI Jakarta itu masih 18 pasien (dari total 304 kasus positif Covid-19). Yaitu kasus 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 18, 19, 22, dan 54.
Jejak lokasi yang ditampilkan misalnya terkait pasien kasus 1 yang terinfeksi dari WN Jepang di Paloma Bistro.
Kasus 4 mengalami kontak dengan pasien positif corona di Klub Crazy Uncle, berkunjung ke Nouvelle, dan Murphy's Irish Pub.
Kasus 6 kontak dengan pasien positif corona di Klub Dansa Amigos dan di Aruba.
Namun, peta itu juga belum memperlihatkan kapan dan dalam acara apa mereka berada di sana. (Selengkapnya baca: Jakarta Buka Jejak Lokasi Corona, Waspadai Tempat-tempatnya)
Dalam peta kronologis yang memuat jejak lokasi, pengelola situs DKI Jakarta menulis,"Tidak semua kasus ditampilkan dalam peta. Ini untuk memudahkan visualisasi. Kasus yang dipilih adalah representatif dan detail terkait pribadi/personal tidak ditampilkan untuk publik"
Pengamat sosial media dari Drone Emprit, Ismail Fahmi, mengapresiasi Pemerintah DKI Jakarta yang mulai membuka sebagian data lokasi. Langkah itu, kata dia, perlu dilanjutkan di level nasional dengan memperlihatkan jejak lokasi pasien yang terinfeksi di satu platform. Tidak seperti sekarang, peta persebaran Covid-19 nasional hanya menampilkan data hingga nama provinsi.
"Dengan begitu, warga bisa mengantisipasi apakah dirinya punya kemungkinan terjangkit atau tidak," kata Ismail Fahmi kepada Cyberthreat.id.
"Tidak perlu detail nama orang, karena penting juga menjaga privasi korban. Yang paling penting adalah data lokasi, kapan, dan dimana," tambahnya Fahmi.
Fahmi memahami mengapa pemerintah sampai sekarang belum terbuka sepenuhnya soal data lokasi. Selain agar tidak membuat panik, mungkin pemerintah berpikir bisa merugikan pemilik bisnis jika data lokasiya diunggap.
"Tapi dalam kondisi sekarang dimana eksponensialnya luar biasa dan sudah menyebar kemana-mana, data tracing lokasi ini penting dan bisa jadi alert bagi orang-orang."
"Dikasih data jejak lokasi, kemudian beritahu orang-orang apa yang harus dilakukan. Untuk hal spesifik seperti ini, mestinya bisa dibuka karena untuk menyelamatkan publik yang lebih banyak. Dengan begitu orang punya panduan saat melakukan social distancing seperti yang disarankan pemerintah. Kalau tidak dikasih tahu, bisa-bisa memperluas penyebarannya," kata Fahmi.
Menurut Fahmi, langkah itu telah dilakukan Korea Selatan dan Singapura dan terbukti ampuh menekan persebaran virus corona di sana.
Namun begitu, Fahmi mengingatkan, yang harus dijaga jangan sampai ketahuan identitas lengkap pasiennya seperti yang terjadi dengan pasien kasus 1 dan 2 ketika pertama kali kasus itu terungkap.
"Semua ini demi menyelamatkan nyawa banyak orang. Ketika dia keluar, artinya dia kan membahayakan orang lain," kata Fahmi.[]
Update:
Share: