
Ilustrasi
Ilustrasi
Cyberthreat.id - Penjahat siber atau orang-orang jahat kerap memanfaatkan foto-foto telanjang dalam aksi pemerasannya. Modus itu sampai berkembang hingga menyebarkan malware dan Ransomware. Aksi para kriminal siber seperti itu dikenal dengan sebutan “sextortion” atau pemerasan seksual. Semuanya dimulai ketika seseorang mengambil foto Anda yang merupakan konsumsi pribadi saja.
Hal tersebut bisa terjadi saat ponsel Anda dicuri atau mantan pacar memutuskan berbagi foto telanjang itu untuk menguasai korban. Atau bisa jadi seseorang membobol komputer di rumah dan menjalankan program webcam untuk mengambil foto tanpa sepengetahuan Anda.
Foto-foto yang dimiliki/dicuri oleh penjahat siber ini dimanfaatkan dalam aksi penipuan siber yang dapat menimpa siapa saja. Modusnya bisa dalam bentuk pemerasan agar korban membayar. Taktik terbaru adalah para penjahat cyber sengaja menanam malware dalam lampiran yang menampilkan foto-foto telanjang tersebut.
Berikut tips melindungi diri, anak-anak dan keluarga agar terhindar dari kampanye sextortion yang dikutip Cyberthreat.id dari beberapa sumber:
1. Ingatlah, siapapun dapat berpura-pura/berperan menjadi seseorang saat di dunia maya. Video dan foto bukan bukti bahwa seseorang adalah orang yang sebenarnya atau mereka klaim. Gambar dapat diubah atau dicuri.
2. Jangan pernah membuka lampiran dari siapa pun yang tidak Anda kenal. Kampanye sextortion juga memanfaatkan lampiran (foto telanjang) sebagai tempat menanam malware yang dapat menginfeksi pengguna dan dikirim via e-mail.
3. Sadarilah bahwa apapun yang dilakukan secara online membuka peluang berbagi informasi yang bakal tersedia untuk orang lain. Selektif tentang apa yang Anda bagikan secara online. Jangan kirim gambar diri Anda yang Anda ingin simpan secara pribadi kepada siapapun, tidak peduli siapa mereka.
4. Amankan komputer Anda dari hacker. Anda dapat menjaga agar firewall komputer terus menyala. Meng-install dan memperbarui perangkat antivirus dan teknologi anti-spyware. Menjaga sistem operasi komputer Anda agar update dan selalu diperbarui.
5. Matikan perangkat elektronik dan kamera saat Anda tidak menggunakannya. Hal ini meminimalkan kemampuan seorang hacker mengaktifkan akses dari jarak jauh.
6. Pastikan aplikasi dan pengaturan privasi situs jejaring sosial diatur ke tingkat yang paling ketat. Jika akun media sosial Anda terbuka untuk semua orang, pemangsa mungkin dapat mengetahui banyak informasi tentang Anda.
7. Bersedia meminta bantuan. Jika Anda menerima pesan atau permintaan online yang tampaknya tidak benar, blokir pengirim, laporkan perilaku tersebut ke administrator situs atau bertanya kepada orang dewasa. Intinya, jika Anda telah menjadi korban online, segera beri tahu seseorang.
8. Orang tua harus meninjau dan menyetujui semua aplikasi yang diunduh ke perangkat elektronik dan secara teratur memonitor konten semua aplikasi dan platform jejaring sosial yang digunakan oleh anak-anak mereka.
9. Orang tua harus menyimpan komputer yang digunakan oleh anak-anak di lokasi sentral rumah dan menggunakan kontrol orang tua. Orang tua harus hadir dan terlibat ketika anak-anak berkomunikasi melalui webcam.
10. Orang tua dan guru harus mendiskusikan keamanan Internet dengan anak-anak mereka. Orang tua harus memberikan pengertian kepada anak-anak bahwa mereka harus memberi tahu orang dewasa jika ada yang mengancam atau meminta mereka untuk melakukan tindakan seksual atau gambar yang eksplisit secara seksual. []
Redaktur: Arif Rahman
Share: