IND | ENG
Gojek Klaim Lindungi Keamanan Pengguna Perempuan

Ilustrasi Gojek

Gojek Klaim Lindungi Keamanan Pengguna Perempuan
Faisal Hafis Diposting : Rabu, 11 Maret 2020 - 16:30 WIB

Jakarta, Cyberthreat.id - Menggunakan momentum Hari Perempuan Sedunia yang jatuh pada 8 Maret lalu, Gojek mengklaim berkomitmen menjaga keamanan pengguna perempuan.

SVP Transport Marketing Gojek, Monita Moerdani, menyatakan bahwa keamanan dan keselamatan adalah prioritas utama, khususnya bagi perempuan saat menggunakan layanan dari Gojek.

Secara keseluruhan, Gojek membagi perlindungan keamanan dalam tiga pilar: teknologi, proteksi, dan edukasi.

Dari pilar teknologi, Gojek memastikan keamanan perempuan saat menggunakan aplikasi, melalui serangkaian fitur yang disebut Gojek Shield.

"Prioritas tersebut kami tunjukkan dengan pemanfaatan teknologi terkini dan tercanggih, yaitu Gojek Shield untuk memberikan rasa aman saat menggunakan aplikasi Gojek," kata Monita dalam keterangan resmi yang diterima Cyberthreat.id, Rabu (11 Maret 2020).

Gojek Shield adalah semacam perisai keamanan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence). Bentuknya berupa penyamaran nomor telepon, intervensi chat jika terindikasi penipuan, dan fitur tombol darurat yang terhubung ke Unit Darurat Gojek yang siaga 24 jam memberikan pertolongan.

Sebelumnya, kasus penipuan dengan teknik rekayasa sosial (social engineering) pada platform Gojek, termasuk GoPay, melibatkan perempuan sebagai korbannya. Sebut saja, artis dan penyanyi Aura Kasih dan Maia Estianty yang rugi secara finansial setelah menjadi korban penipuan.

Seorang perempuan yang bekerja sebagai penyiar Radio Republik Indonesia (RRI) bernama Prameswara juga ikut ditipu oleh oknum kejahatan yang menyebabkan kerugian sebesar Rp 28 juta.

Dengan maraknya kasus penipuan tersebut, CEO Gojek Kevin Alluwi mengklaim bahwa Gojek Shield dapat mendeteksi jika ada upaya penipuan menggunakan metode social engineering.

Umumnya, penjahat sering meminta kode-kode tertentu via chat aplikasi ataupun panggilan telepon yang memungkinkan penjahat untuk mengetahui kode One Time Password (OTP) yang selama ini masih menjadi alat verifikasi pengguna dalam melakukan suatu transaksi.

Kini, fitur intervensi chat dapat mendeteksi hal itu. Caranya, aplikasi akan mendeteksi jika ada kata-kata tertentu di fitur chat dalam komunikasi di platform Gojek. Jika terindikasi adanya upaya penipuan, maka chat Bubble akan mengeluarkan notifikasi peringatan.

"Peringatan tersebut akan mengeluarkan kata-kata bahwa Gojek tidak akan pernah minta uang di transfer. Hanya ada 3 metode pembayaran yaitu GoPay, Pay Later, atau pembayaran tunai melalui mitra Gojek," tambah Kevin.

Dari sisi proteksi dan edukasi, Gojek meluncurkan program 'Zona Aman Bersama Gojek' dan pelatihan untuk para mitra GoRide dan GoCar.

"Kami terus berinvestasi untuk meningkatkan rasa aman, diantaranya menjadikan shelter kami sebagai ruang ramah perempuan serta melatih mitra driver kami untuk menciptakan budaya aman di ruang publik,” tegas Monita.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya mencatat ada 2.300 laporan terkait penipuan online yang mirip dengan kasus pembobolan akun Gojek Maia Estianty sepanjang 2019.

Kanit II Subdit Cyber Crime Polda Metro Jaya Polda Metro Jaya, AKBP Dhany Aryanda, mengatakan jumlah laporan penipuan online terus meningkat setiap tahun. Bahkan, penipuan online jauh lebih besar dibanding kejahatan lain.

"Kalau divisi lain rata-rata 100 kasus, kita mendapat laporan 2.300 kasus. Ini sangat ekstrem,” kata dia di Jakarta, akhir Januari lalu.[]

Editor: Yuswardi A. Suud

#gojek   #phishing   #penipuan   #socialengineering   #rekayasasosial

Share:




BACA JUGA
Gunakan Bot Telekopye Telegram, Penjahat Siber Membuat Phishing Scams Skala Besar
Otoritas Malaysia Bongkat Sindikat PhaaS 'BulletProofLink'
Gunakan Spear-phishing, Hacker Iran MuddyWater Targetkan Israel
Geng Penipu Online Bernilai Puluhan Miliar Ditangkap di Spanyol
Framework MATA yang Canggih Serang Perusahaan Minyak dan Gas