
Ilustrasi
Ilustrasi
Cyberthreat.id - Google dilaporkan telah menghapus aplikasi Android dari Play Store yang dikembangkan oleh pemerintah Iran untuk menguji dan melacak infeksi virus corona (Covid-19).
Sebelum dikeluarkan dari Play Store, kontroversi sempat merebak. Beberapa pengguna menuduh pemerintah Iran memanfaatkan ketakutan terhadap virus corona untuk mengelabui warga dan memasang aplikasinya. Dengan begitu, menurut para penuduh, pemerintah dapat mengumpulkan nomor telepon dan data geo-lokasi.
Media teknologi ZDnet meminta seorang peneliti malware Android di ESET untuk meninjau apakah aplikasi tersebut memang sejenis spyware yang dapat digunakan untuk memata-matai orang.
Hasilnya, peneliti bernama Lukas Stefanko mengatakan tdak ada indikasi ke arah sana.
"Berdasarkan analisis APK aplikasi, aplikasi tersebut bukan Trojan atau spyware jahat," kata Stefanko seperti dikutip dari ZDnet.com, Selasa (10 Maret 2020).
Sebelumnya, Google memang mengumumkan bahwa mereka menolak aplikasi pihak ketiga yang terkait virus corona. Yang diterima hanya aplikasi yang berasal dari lembaga resmi seperti organisasi kesehatan atau institusi pemerintah.
Lantas, kenapa aplikasi dari pemerintah Iran ditolak? Sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari Google. ZDnet mencoba menghubungi seorang juru bicara Google, namun tidak ada tangggapan. Diduga, aplikasi itu kemungkinan besar ditolak karena klaim dapat mendeteksi infeksi virus corona dianggap menyesatkan oleh Google.
Cara Kerja Aplikasi AC19
Aplikasi yang bernama AC19 itu dirilis minggu lalu dan tersedia melalui situs web khusus, Play Store resm, dan toko aplikasi pihak ketiga lainnya.
Aplikasi ini dirilis ketika Iran berada di tengah krisis kesehatan, di mana Iran termasuk dalam tiga besar negara yang terkena dampak virus corona setelah China dan Italia.
Setelah dirilis, Kementerian Kesehatan Iran mengirim pesan SMS massal ke warga Iran untuk menginstal aplikasi dan memeriksa potensi terinfeksi Covid-19.
Setelah diinstal, aplikasi akan meminta pengguna mendaftarkan nomor telepon dan menjawab serangkaian pertanyaan terkait gejala virus corona.
Idenya adalah untuk melihat kemungkinan apakah pengguna mengalami gejala-gejala yang sama dengan orang yang terinfeksi corona. Dengan begitu, orang-orang tak perlu antri ke rumah sakit untuk memeriksakan diri.
Namun, kecurigaan bahwa aplikasi itu digunakan untuk memata-matai pengguna muncul lantaran aplikasi juga meminta akses detail lokasi secara real-time.
Terkoneksi ke Pengembang Aplikasi yang Mencurigakan
Meskipun pengguna bisa memilih mengizinkan memberi akses ke data lokasi atau tidak, kecurigaan muncul lantaran aplikasi itu dikembangkan oleh perusahaan yang sebelumnya membuat aplikas lain untuk pemerintah Iran.
Perusahaan, bernama Smart Land Strategy, sebelumnya membangun dua klon Telegram bernama Gold Telegram dan HotGram. Kedua aplikasi telah dihapus dari Play Store dengan tuduhan diam-diam mengumpulkan data pengguna, dan laporan saat itu mengklaim aplikasi itu dikembangkan atas perintah agen intelijen Iran.
Meskipun Stefanko mengatakan aplikasi meminta akses data lokasi sama seperti aplikasi Android lainnya, aktivis pro-demokrasi Iran mengatakan bisa saja penambahan malware disusupkan dalam pembaruan berikutnya.
Menteri Teknologi Informasi dan Komunikasi Iran MJ Azari Jahromi, dalam sebuah cuitan di Twitter mengatakan pemerintahnya telah mengumpulkan data lokasi lebih dari empat juta warga Iran dengan menggunakan aplikasi itu. []
Share: