
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Cyberthreat.id – Subex, perusahaan penyedia keamanan dan manajemen penipuan siber asal Bengaluru, India, menyebutkan, sepanjang 2019 Amerika Serikat menjadi negara paling banyak ditargetkan oleh penjahat siber. Namun, pada kuartal kedua 2019 selamat tiga bulan (April, Mei, Juni), serangan siber yang terjadi ke India justru melampuai AS.
“Sepanjang tahun lalu, India selalu berada di peringkat lima teratas negara yang ditargetkan serangan siber,” demikian tulis Subex dalam laporan survei bertajuk “The Global Threat Landscape Report 2019” (PDF) yang dirilis 27 Februari lalu.
Dikutip dari The Print, pada 3 Maret lalu, laporan tersebut menyebutkan, secara keseluruhan, serangan dunia maya yang menargetkan India pada 2019 diduga berasal dari Slovenia, Ukraina, Republik Ceko, China, dan Meksiko.
Sekitar 74.988 serangan siber yang menargetkan India berasal diduga dari Slovenia. Lalu, diikuti oleh Ukraina 55.772 serangan, Republik Ceko 53.609 serangan, China 50.000 serangan, dan Meksiko 35. 201 serangan.
Sektor yang paling umum ditargetkan di India ialah infrastruktur kritis, perbankan dan lembaga keuangan, smart city, sektor pertahanan, smart home devices, dan sektor manufaktur.
“Infrastruktur penting dalam industri minyak dan gas adalah yang paling ditargetkan,” kata Prayukth K.V, Kepala Pemasaran Subex untuk solusi Internet of Things (IoT).
Sumber: Subex
Laporan itu menyebutkan, serangan yang menargetkan India dilakukan melalui botnet untuk menyuntikkan malware ke perangkat korban. Dengan begitu, memungkinkan para penyerang dapat mengendalikan botnet . Selanjutnya, mereka mengambil kendali perangkat, mengumpulkan informasi perangkat, dan bahkan secara jarak jauh membuat perangkat korban melakukan tugas tertentu, seperti mengirim informasi kembali ke orang yang mengendalikan botnet.
Botnet adalah perangkat lunak yang memiliki kemampuan komputasi dan dapat dihubungkan satu sama lain melalui internet, misalnya komputer, drone, dan ponsel pintar.
Prayukth mengatakan, meski serangan dapat ditelusuri ke lokasi fisik tertentu, tapi tidak dapat dipastikan siapa yang mengendalikan botnet.
Botnet yang secara fisik terletak di satu negara dapat disewakan kepada klien di negara lain dengan harga murah. Oleh karena itu, tidak dapat dipastikan lokasi yang teridentifikasi tersebut merupakan dalang utama, bisa saja orang lain dari negara lain, kata dia.
Menurut laporan itu, serangan siber China yang menargetkan India cenderung dialihkan melalui negara-negara lain, seperti Vietnam atau Filipina.
Namun, Prayukth mengatakan, pada paruh kedua 2019, terlacak beberapa serangan siber dari empat wilayah baru di China untuk pertama kalinya. “Tidak ada upaya untuk menyembunyikan serangan yang berasal dari lokasi-lokasi ini di China. Kami belum dapat memahami mengapa para penyerang tidak berusaha menutupi jejak mereka," kata dia.
Subex menambahkan, tujuan dari serangan siber dalam banyak kasus bukan untuk menyebabkan kerusakan langsung, tetapi untuk tetap berada di sistem komputer korban dalam jangka panjang, mempelajari keamanan yang digunakan dalam jaringan komputer, dan kemudian mengumpulkan informasi dari kepentingan strategis.[]
Redaktur: Andi Nugroho
Share: