IND | ENG
Mengapa Komisi Eropa Minta Pegawainya Tinggalkan WhatsApp?

Ilustrasi WhatsApp

Mengapa Komisi Eropa Minta Pegawainya Tinggalkan WhatsApp?
Yuswardi A. Suud Diposting : Senin, 02 Maret 2020 - 16:50 WIB

Cyberthreat.id - Komisi Uni Eropa telah meminta pegawainya untuk meninggalkan WhatsApp. Sebagai gantinya, mereka diminta menggunakan Signal, aplikasi perpesanan yang turut didukung oleh Brian Acton, salah satu pendiri WhatsApp sebelum dijual ke Facebook.

Dilansir dari Politico, himbauan tidak menggunakan WhatsApp dikeluarkan pada awal Pebruari lalu lantaran WhatsApp dinilai bermasalah dalam hal keamanan meskipun telah menggunakan enkripsi ujung ke ujung (end-to-end encryption).

Lebih lanjut, imbauan itu menyebut,"Signal telah dipilih sebagai aplikasi yang direkomendasikan untuk perpesanan publik."

Sebagai informasi, Signal adalah aplikasi pesan instan yang didirikan pada 2013 oleh aktivis pemerhati privasi. Belakangan, salah satu mantan pendiri WhatsApp, Brian Acton bergabung memperkuat barisan Signal dengan menyuntkkan dana sebesar US$ 50 juta. 

Tak hanya menyumbang dana, Acton juga menjadi Executive Chairman yayasan Signal Foundation. Misi mereka adalah menyediakan komunikasi privat Signal ke sebanyak mungkin orang.

Isu keamanan WhatsApp mencuat setelah penyelidik khusus PBB pada Januari lalu merilis bukti-bukti awal dugaan keterlibatan putra mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dalam peretasan ponsel milik orang terkaya dunia, Jeff Bezos.

Penyelidik PBB (The United Nations Human Right Council) lewat analisis digital forensik menemukan bahwa data-data terangkut keluar dari ponsel Bezos setelah mendapat pesan WhatsApp dari pangeran Saudi berupa file video yang diduga mengandung spyware.

Sebelumnya, pejabat di lingkungan PBB juga telah dilarang menggunakan WhatsApp sejak 2019 lalu.

"Pejabat resmi di PBB diinstruksikan untuk tidak menggunakan WhatsApp, ia tidak didukung sebagai sebuah mekanisme yang aman. Jadi tidak, Sekjen tidak menggunakannya," kata juru bicara PBB, Farhan Haq menjawab pertanyaan wartawan apakah Sekjen PBB Antonio Guterres menggunakan WhatsApp seperti dilansir dari Reuters, Jumat (24 Januari 2020).

Menanggapi keputusan PBB itu, WhatsApp mengatakan mereka menyediakan keamana untuk lebih dari 1,5 miliar penggunanya di seluruh dunia.

"Setiap pesan pribadi dilindungi enkripsi end-to-end untuk mencegah WhatsApp atau pihak lain melihat isi pembicaraan. Teknologi enkripsi yang kami kembangkan dengan signal dinilai sangat aman oleh pakar keamanan dan jadi yang terbaik untuk orang di dunia," kata Direktur Komunikasi WhatsApp Carl Woog.[]

#whatsapp   #signal   #enkripsi

Share:




BACA JUGA
Meta Luncurkan Enkripsi End-to-End Default untuk Chats dan Calls di Messenger
Lindungi Percakapan Sensitif, WhatsApp Luncurkan Fitur Secret Code
Fitur Baru Signal; Hanya Berbagi Nama, Tak Perlu Nomor Telepon
Fitur Baru WhatsApp: Protect IP Address in Calls
Spyware CanesSpy Ditemukan dalam Versi WhatsApp Modifikasi