IND | ENG
Cybersecurity untuk Anak: Tumbuhkanlah Kesadaran!

Ilustrasi | Foto: freepik.com

Cybersecurity untuk Anak: Tumbuhkanlah Kesadaran!
Oktarina Paramitha Sandy Diposting : Rabu, 26 Februari 2020 - 10:50 WIB

Jakarta, Cyberthreat.id – Praktisi keamanan siber, Royke Tobing, mengatakan, pendidikan keamanan siber (cybersecurity) kepada anak-anak bisa dimulai dengan hal yang sederhana. Mulailah dari hal-hal yang membangun kesadaran anak-anak mengenai keamanan pada perangkat yang terhubung ke internet (internet of things/IoT).

Mengajari anak-anak tentang cybersecurity, kata Roy, tidak perlu sampai masuk dalam tahap pelajaran. “Karena pendidikan cybersecurity itu hanya perlu menumbuhkan awareness pada pengguna internet,” ujar Royke saat berbincang dengan Cyberthreat.id, Selasa (25 Februari 2020).

"Kalau tidak jadi profesional cybersecurity, minimal tahu bagaimana cara aman memakai semua fungsi cybersecurity yang berkaitan dengan kehidupan, seperti penggunaan handphone, email, media sosial, dan aplikasi lainnya," Royke menambahkan.

Hal-hal sederhana seperti itu, menurut dia, bisa dikategorikan sebagai “awareness training” atau literasi keamanan siber. Karena jika individu sudah punya kesadaran, tentu semuanya akan aman, tutur dia.


Berita Terkait:


Royke kemudian menyinggung soal isu cybersecurity yang lebih luas. Di Indonesia, hampir semua organisasi dan institusi, seperti rumah sakit, pembangkit listrik, dan lai-lain, menurut dia, dalam kondisi darurat cybersecurity.

Ia mencontohkan serangan phishing. Menurut Royke, seringkali individu lalai akan bahaya dari email phishing, dan justru memilih untuk membuka pesan tersebut. Padahal dalam email phising itu mengandung perangkat lunak jahat (malware) yang mungkin sangat berbahaya.

"Jadi ini bukan masalah pemerintah yang tidak capable atau tidak aman, tapi ini masalah semua organisasi di Indonesia tidak mempunyai kesadaran cybersecurity," ujar dia.


Berita Terkait:


Sederhananya, phishing adalah salah satu trik serangan siber yang menjebak korban melalui email atau SMS. Pelaku cenderung menggunakan bahasa merayu juga menyamar seolah-olah berasal dari institusi/organisasi sah. Pengguna/korban lalu diarahkan untuk mengunduh atau mengklik situs web/lampiran yang berisi malware. Biasanya, korban diarahkan untuk mengisi halaman login akun situs web yang tampak asli, tapi sebenarnya palsu. Informasi username dan password , termasuk nomor kartu kredit/debit yang telah diketikkan tersebut incaran utama dari pelaku phishing.

Royke juga menyoroti masih maraknya pengguna di Indonesia yang mengunduh aplikasi-aplikas gratis atau bajakan, padahal aplikasi tersebut rentan terhadap malware.

Serangan siber yang muncul, semakin hari akan menjadi semakin hebat dan canggih. Hari ini sudah ditutup lubang yang satu, akan muncul lubang yang lain. Makanya perlu ditumbuhkan kesadaran cybersecurity itu pada organisasi-organisasi," ujar dia.[]

Redaktur: Andi Nugroho

#kurikulumcybersecurity   #awaludintjalla   #pendidikankeamanansiber   #keamanansiber   #cybersecurity   #kurikulumpendidikandasar   #charleslim   #pratamapersadha   #coding

Share:




BACA JUGA
Seni Menjaga Identitas Non-Manusia
Indonesia Dorong Terapkan Tata Kelola AI yang Adil dan Inklusif
SiCat: Inovasi Alat Keamanan Siber Open Source untuk Perlindungan Optimal
BSSN Selenggarakan Workshop Tanggap Insiden Siber Sektor Keuangan, Perdagangan dan Pariwisata
Politeknik Siber dan Sandi Negara Gandeng KOICA Selenggarakan Program Cyber Security Vocational Center