
Deputi Bidang Identifikasi dan Deteksi BSSN, Aries Wahyu Sutikno saat memaparkan Bimbingan Teknis Honeynet Project BSSN, di Jakarta, Selasa (25 Februari 2020). | Foto: Cyberthreat.id/Faisal Hafis
Deputi Bidang Identifikasi dan Deteksi BSSN, Aries Wahyu Sutikno saat memaparkan Bimbingan Teknis Honeynet Project BSSN, di Jakarta, Selasa (25 Februari 2020). | Foto: Cyberthreat.id/Faisal Hafis
Jakarta, Cyberthreat.id – Jumlah serangan siber yang masuk ke Indonesia terdeteksi sebanyak 98.243.898 kali sepanjang tahun 2019.
Sumber serangan tertinggi berasal dari India dengan jumlah 26.460.689 kali, lalu Indonesia sebanyak 10.064.615 kali, dan Vietnam sebanyak 4.118.846 kali.
Hal itu disampaikan Deputi Bidang Identifikasi dan Deteksi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Aries Wahyu Sutikno, dalam laporan tahunan bertajuk Deteksi Serangan Siber Honeynet Tahun 2019 di Jakarta, Selasa (25 Februari 2020).
"Serangan ini termasuk isu kebocoran data penumpang Lion Air, kemudian serangan siber saat Pemilu [yang menargetkan] kepada KPU, juga lembaga pemerintah lainnya," ujar Aries.
Aries menambahkan, selama 2019, jumlah serangan malware ke Indonesia yang terdeteksi di 53 sensor Honeynet Project milik BSSN berjumlah 22.750 malware.
"Malware ini ada yang jenis lama dan ada yang jenis baru juga," ujar Aries.
Berita Terkait:
Saat ini, baru ada 53 sensor Honeynet yang terpasang di 18 provinsi, di antaranya di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi, dan Papua. Sensor tersebut dipasang di lingkup pemerintahan, Informasi Infrastruktur Kritikal Nasional (IIKN) dan lingkup akademisi.
Aris berharap saat ini kementerian dan lembaga negara juga pemerintah daerah secara mandiri bisa memasang Honeypot (sensor). Dengan begitu, BSSN bisa terbantu dalam menganalisis terjadinya serangan.
“[Apalagi] pada 2020 ini anggaran untuk pemasangan Honeypot ditiadakan, kami berharap partisipasi dari rekan-rekan, karena pemasangan Honeypot sangat berguna bagi semua stakeholder," kata dia.
Menurut Aries, pemasangan Honeypot ini sangat berguna untuk mendeteksi serangan siber dan menganalisis malware yang menyerang sistem di Indonesia.
Honeypot merupakan perangkap yang dibuat sangat mirip dengan sistem informasi yang ada dan digunakan untuk menarik peretas menyerang Honeypot tersebut. Honeypot hanya memantau serangan yang dilakukan pada alamat yang pantau.
Hal itu berbeda dengan Intrusion Detection System (IDS) yang melakukan pemantauan semua serangan siber yang masuk dalam jaringan (dari semua sumber ke semua destinasi).
Saat ini BSSN memiliki National Security Operation Center (NSOC), tapi tugas dan kewenangannya masih terbatas. NSOC hanya bisa mendeteksi dan menganalisis semua serangan dari seluruh dunia ke semua sektor di Indonesia.
Ke depan, BSSN akan berupaya melakukan penyelidikan dan penindakan kepada pihak yang melakukan serangan siber ke Indonesia.[]
Redaktur: Andi Nugroho
Share: