IND | ENG
Kerugian Transaksi Online Sehari Bisa Capai Rp 1 Triliun

Foto: Freepik

DEMONSTRASI 22 MEI
Kerugian Transaksi Online Sehari Bisa Capai Rp 1 Triliun
Arif Rahman Diposting : Kamis, 23 Mei 2019 - 00:40 WIB

Jakarta, Cyberthreat.id - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, memperkirakan kerugian transaksi online akibat aksi demonstrasi 22 Mei bisa mencapai Rp 1 triliun sehari.

Kerugian, kata dia, dimulai sejak pemerintah membatasi arus informasi di media sosial dan aplikasi percakapan pribadi WhatsApp pada Rabu(22/05/2019) siang. Ini belum termasuk koneksi internet yang juga dikabarkan bermasalah. 

Jika pembatasan itu lebih dari 24 jam, kerugian berpotensi makin besar. Ia mengingatkan kebutuhan jelang perayaan Hari Raya Idul Fitri meningkat sehingga transaksi online menjadi solusi masyarakat.

"Kalau perkiraan saya kerugian bisa sampai Rp 1 Triliun dalam satu hari," kata Bima kepada Cyberthreat.id, Rabu (22/05/2019).

Kalkulasi kerugian menurut Bima mengacu kepada transaksi pada saat Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 12 Desember 2018. Ketika itu, menurut catatannya, perputaran uang mencapai Rp 4 Triliun dalam 4 hari. 

Besaran transaksi jelang lebaran bisa jadi lebih besar karena melibatkan akun-akun media sosial yang berjualan online. Sedangkan pada saat Harbolnas yang dihitung hanya e-commerce atau marketplace saja.

"Kalau di Harbolnas kemarin 4 hari hanya dari beberapa e-commerce, sedangkan aksi demo 22 Mei ini transaksi online diikuti e-commerce hingga pemilik akun-akun medsos di Facebook dan Instagram," ujarnya. 

Pembatasan medsos menurut Bima memang ada plus minusnya. Di satu sisi pemerintah berkepentingan menjaga keamanan nasional dengan menyetop arus informasi liar, sedangkan di sisi lain semakin banyak masyarakat menggantungkan kehidupan kepada ekonomi digital.

Pemerintah, ujar Bima, selaku pemegang kebijakan blokir harus bisa melakukan filtering konten. Kominfo selaku regulator bisa mengaktifkan mesin Artificial Intelligence (AI) yang lebih canggih untuk mendeteksi mana data yang berupa transaksi serta mana yang informasi liar.

"Menteri Rudiantara ngomong kalau upload dan download harus jelas. Kalau mengirim bukti transaksi pakai foto atau gambar kan. Kalau di blokir bagaimana?"

Bima berharap aksi demonstrasi 22 Mei tidak berlangsung sampai berhari-hari. Pemerintah, kata dia, harus mengambil langkah strategis dan efektif karena potensi ekonomi masyarakat hidup dan terus meningkat setiap Lebaran.

"Menghindari kerusuhan meluas memang betul pemblokiran, tapi dampaknya ke aktifitas ekonomi digital juga. Harapan saya blokir ini cuma temporer 24 jam saja."

#demontrasi   #aksi22mei   #blokir   #media   #sosial   #whatsapp   #kominfo   #indef

Share:




BACA JUGA