IND | ENG
Terapan AI di Dunia Kesehatan Indonesia Mulai Marak

Ilustrasi

Terapan AI di Dunia Kesehatan Indonesia Mulai Marak
Faisal Hafis Diposting : Jumat, 21 Februari 2020 - 11:13 WIB

Jakarta, Cyberthreat.id - Chief Product Officer (CPO) Halodoc, Alfonsius P. Timboel mengatakan implementasi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan untuk sektor kesehatan mulai marak dipraktekkan di Indonesia. Terutama oleh startup atau layanan kesehatan yang menggunakan data, aplikasi, dan komputerisasi dalam mengambil keputusan dan mendiagnosa pasien.

"Contoh kasus diluar sana yang lagi trending, Computer Vision. Itu bisa memprediksi dan mendeteksi apakah suatu orang itu punya cancer (kanker). atau tidak," kata Alfonsius kepada wartawan di Jakarta, Kamis (20 Februari 2020).

"Jadi, mereka (dokter) analize dari data x-ray dan scanning lainnya. Dari data tersebut mereka bisa identifikasi seseorang jika ada anomali dari data itu. Misalnya orang ini kemungkinan sakit ini dan kemudian direkomendasikan sesuatu oleh AI."

Halodoc adalah salah satu startup yang memberikan solusi untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat Indonesia secara online. Tentu saja mereka wajib mengembangkan dan menggunakan AI dalam layanannya. Menurut Alfonsius, Halodoc bahkan sudah menerapkan AI untuk melindungi para dokternya.

Fitur untuk melindungi dokter itu disebut Not Safe Forward. Karena faktanya AI memang bisa disalahgunakan oleh manusia yang menjalankannya.

"Not Safe Forward, dimana kita bisa memilah gambar-gambar tidak senonoh yang dokter terima dari suatu percakapan konsultasi. Kalau dokter kandungan, kulit atau kelamin wajar menerima foto tersebut, tetapi kalau saya dokter gigi kenapa saya harus menerima gambar itu, jadi dokter (yang tidak sesuai) kalau menerima foto tersebut langsung di blurry (oleh AI)," tuturnya.

Fitur lainnya adalah Hubungi Dokter yang membantu pasien untuk konsultasi tentang kesehatan dengan dokter umum maupun dokter spesialis. Halodoc telah bekerjasama dengan sekitar 20 ribu dokter umum dan spesialis yang telah memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) dan Surat Izin Praktek (SIP) dari Konsili Kedokteran Indonesia (KKI)

Konsultasi dengan dokter bisa melalui berbalas pesan (chat), telepon, ataupun telepon tatap muka (video call). Untuk saat ini, Halodoc tidak mengenakan biaya konsultasi dokter untuk pengguna. Waktu konsultasi dengan dokter  yang diberikan adalah 60 menit per sesi.

Kemudian, ujar Alfonsius, penerapan AI yang lainnya terdapat saat konsultasi antara pasien dan dokternya. Fitur AI ini dapat memberitahu Halodoc terkait apakah konsultasinya sesuai atau tidak.

"Supaya konsultasi kita lebih baik, maka kita implementasi AI, dimana kita bisa melihat dokter ini untuk konsultasi sesuatu, ternyata konsultasinya kurang bagus karena suatu hal. Kemudian, kita akan memberikan feedback ke dokter agar lebih baik pelayanannya."

Artinya, kata dia, AI dengan platform akan mengetahui apakah pernyataan dari dokter benar atau tidak dan jawabannya 'nyambung' atau tidak dengan keluhan para pasiennya.

Halodoc juga menggunakan AI dalam Triase atau proses screening secara cepat terhadap pasien. Melalui proses ini, seseorang dapat didiagnosa hanya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.

Redaktur: Arif Rahman

#Ai   #aplikasi   #startup   #data   #sektorkesehatan   #infrastrukturkritis   #halodoc   #dokter   #komputerisasi

Share:




BACA JUGA
Demokratisasi AI dan Privasi
Pemerintah Dorong Industri Pusat Data Indonesia Go Global
Indonesia Dorong Terapkan Tata Kelola AI yang Adil dan Inklusif
Microsoft Merilis PyRIT - Alat Red Teaming untuk AI Generatif
Startup Bukti Nyata Hilirisasi Digital