
Ilustrasi via Kumparan
Ilustrasi via Kumparan
Cyberthreat.id - Perusahaan riset pasar terbesar ketiga dunia, Ipsos, merilis hasil penelitian mengenai pola penggunaan alat pembayaran digital atau e-wallet pada Rabu (12 Februari 2020).
Salah satu indikator dalam riset itu adalah seberapa besar pengguna merasa aman menggunakan dompet digital. Riset menyasar konsumen pengguna empat pemain utama dompet digital di Indonesia adalah Gopay, Ovo, Dana, dan LinkAja.
Hasilnya, 76 persen responden mengatakan Gopay aman untuk digunakan, disusul OVO 60 persen, Dana 41 persen, dan LinkAja 34 persen.
Namun, rasa aman yang dimaksud bukanlah keamanan platform dari kemungkinan diretas atau diambil alih oleh orang lain seperti yang marak terjadi belakangan ini, melainkan rasa aman dibanding membawa uang kontan di kantong.
"Kenapa pakai dompet digital sampai sekarang? Mereka merasakan kenyamanan. kenyamanan itu apa? Kenyamanan itu enggak perlu bawa uang banyak, enggak takut bawa uang kembalian, tidak sedia uang pas, tidak takut juga kalau enggak ada cash gimana ya. Nah, hal-hal seperti itu yang ditawarkan dan membuat konsumen masih ingin menggunakan e-wallet tersebut. Terus dari keamanan sendiri merupakan hal yang membuat mereka tetap menggunakan dompet digital sampai saat ini." kata Research Director Customer Experience Ipsos Indonesia, Olivia Samosir saat memaparkan hasil riset Ipsos di Jakarta.
Ditanya Cyberthreat.id tentang keamanan platform, Olivia riset ini tidak berfokus ke sana. Namun, sebagian responden menunjukkan perhatian terhadap penipuan untuk mengambil alih akun lewat social engineering.
Menurut Olivia, definisi keamanan menurut responden adalah adanya catatan transaksi, aman dari kemungkinan kehilangan jika membawa banyak uang kontan di kantong, serta aman dari pencurian data dan kasus penipuan.
"GoPay dinilai aman karena mengakui jika memang terdapat penipuan dan diedukasi. Jadi kalau misalnya ada penipuan, nih ada penipu kayak gini dan diedukasi gimana caranya mengendalikan si penipu ini. GoPay juga mau menyelesaikan dan kasih solusi ke mereka yang kena penipuan itu, dan itu juga yang bikin rasa aman, jadi enggak sekedar aman karena memang aman datanya terlindungi ya, tapi begitu ada penipuan pun kalau memang direspon dengan baik mereka juga merasa aman gitu," tambah Olivia.
Selain itu, kata Olivia, pengguna juga merasa aman karena dengan menggunakan dompet digital akan terhindar dari kehilangan dompet yang berisi kartu-kartu identitas dan ATM. Sedangkan jika menggunakan dompet digital, pengguna merasa dompet digitalnya bisa diblokir.
"Amanlah enggak usah bawa cash, terus kalau misalnya hilang kan enggak kayak dompet semua kartu hilang, kalau ini (e-wallet) hilang tinggal diblokir aja akunnya. Jadi dua hal itu yang membuat konsumen tetap menggunakan dompet digital sampai saat ini," tambah Olivia.
Secara keseluruhan, riset itu menunjukkan GoPay mempunyai pengguna organik tertinggi dibanding OVO, Dana, dan LinkAja lantaran dinilai paling unggul dalam aspek keamanan (76%), kepraktisan (77%), inovasi (72%), layanan pelanggan (73%), serta diterima di banyak tempat (76%).
Managing Director GoPay, Budi Gandasoebrata, yang hadir dalam pemaparan itu menolak menjawab pertanyaan Cyberthreat.id tentang bagaimana GoPay menjamin keamanan platformnya. Budi meminta Cyberthreat.id bertanya kepada Griya Ratri Putri selaku Corporate Communication GoPay.
Namun, Griya juga menolak menjawabnya dengan alasan akan ada media breefing terkait keamanan platform GoPay.
"Nanti akan dibahas secara khusus soal itu," kata Griya.[]
Editor: Yuswardi A. Suud
Share: