IND | ENG
Iran Kembangkan Pertahanan Menangkal Serangan Virus Stuxnet

Menteri Komunikasi dan Teknologi Informasi Iran Mohammad Javad Azari-Jahromi. Foto: tehrantimes.com

Iran Kembangkan Pertahanan Menangkal Serangan Virus Stuxnet
Andi Nugroho Diposting : Selasa, 21 Mei 2019 - 13:53 WIB

Teheran, Cyberthreat.id – Iran dikabarkan tengah mengembangkan firewall untuk menangkal serangan siber dari virus Stuxnet.

“Ilmuwan Universitas Iran telah mengembangkan firewall untuk sistem otomasi industri guna menetralisasi sabotase industri, seperti yang disebabkan serangan Stuxnet dalam jaringan listrik. Dan, itu (firewall) telah berhasil diuji coba,” kata Menteri Komunikasi dan Teknologi Informasi Iran Mohammad Javad Azari-Jahromi kepada kantor berita IRNA, seperti dikutip dari Sputniknews, Kamis (16/5/2019) yang diakses Selasa (21/5/2019).

Pada November 2018, Iran menuding bahwa peretas asal Amerika Serikat dan Israel telah menciptakan virus Stuxnet versi baru untuk merusak infrastruktur komunikasi Iran. Namun, pemerintah Iran menyatakan telah menggagalkan serangan itu.

Menurut pemerintah Iran, pada Juni 2009 Stuxnet melakukan serangan di pusat nuklir di Fasilitas Pengayaan Natanz Uranium Iran. Akibat dari serangan itu, terjadi kerusakan serius dan diduga menurunkan 30 persen kapasitas operasional mereka.

Menurut The Time of Israel, virus Stuxnet ditemukan pada 2010 dan mulai tersebar bahwa virus dikembangkan oleh intelijen AS dan Israel untuk menyabotase program nuklir Iran. Namun, tidak ada negara yang bertanggung jawab baik atas penciptaan maupun serangan virus itu.

Serangan Indonesia

Pada 2010, seperti diberitakan Kompas.com pada 4 Oktober 2010, Indonesia juga pernah mendapatkan serangan Stuxnet. Saat itu menurut laporan Kaspersky Lab, Stuxnet ditemukan oleh perusahaan keamanan asal Belarusia, Virusblokada, pada Juni 2010. Berdasarkan geografis serangan Stuxnet selain Iran dan Indonesia, India juga termasuk menjadi sasaran.

“Negara yang paling rentan adalah India dengan jumlah serangan mencapai 86.258 unit komputer, lalu Indonesia di posisi kedua dengan korban 34.138 unit,” tutur Kaspersky.

Menurut Kaspersky, Stuxnet mengarah pada Simatic WinCC SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition) yang digunakan sebagai sistem pengendali industri dan bertugas untuk mengawasi dan mengendalikan industri. Sistem tersebut digunakan secara luas pada pengilangan minyak, pembangkit tenaga listrik, sistem komunikasi yang besar, bandara, perkapalan, dan bahkan instalasi militer.

“Analis mengatakan, penyerang menyebarkan Stuxnet melalui thumb USB thumb drive karena banyak sistem SCADA tak terhubung ke internet, tapi memiliki port USB,” demikian seperti dikutip dari Antaranews, 28 September 2010.

Kaspersky Lab saat itu menduga serangan ke Iran bukanlah penjahat siber biasa, tapi sengaja mereka melakukan itu untuk sabotase. Mikka Hypponen, kepala penelitian perusahaan cybersecurity F-Secure di Finlandia, menduga kuat bahwa virus itu disponsori oleh suatu negara karena karakteristik Stuxnet yang begitu kompleks. “Jelas ini dilakukan oleh kelompok dengan dukungan teknologi dan keuangan yang serius,” kata dia dikutip dari Antaranews.

#stuxnet   #hacker   #virus   #iran

Share:




BACA JUGA
Microsoft Ungkap Aktivitas Peretas Rusia Midnight Blizzard
Penjahat Siber Persenjatai Alat SSH-Snake Sumber Terbuka untuk Serangan Jaringan
Peretas China Beroperasi Tanpa Terdeteksi di Infrastruktur Kritis AS selama Setengah Dekade
Google Cloud Mengatasi Kelemahan Eskalasi Hak Istimewa yang Berdampak pada Layanan Kubernetes
Serangan siber di Rumah Sakit Ganggu Pencatatan Rekam Medis dan Layanan UGD