
Tiga dari empat tentara China yang didakwa melakukan peretasan terhadap Equifax pada 2017 | Foto: Departemen Kehakiman AS via TechCrunch
Tiga dari empat tentara China yang didakwa melakukan peretasan terhadap Equifax pada 2017 | Foto: Departemen Kehakiman AS via TechCrunch
Cyberthreat.id - Amerika Serikat (AS) menuding personel militer China terkait dengan peretasan sistem komputer Equifax dan mencuri dokumen rahasia terkait dengan perdagangan yang didalamnya terdapat 150 juta data pribadi masyarakat AS.
Empat anggota Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA), yaitu Wu Zhiyong, Wang Qian, Xu Ke, dan Liu Lei dituduh bekerja sama untuk melakukan pencurian data dan meretas Equifax. Keempat tersangka merupakan anggota Lembaga Penelitian ke-54 PLA, salah satu komponen militer China.
Berdasarkan sembilan sangkaan, keempat tersangka mengeksploitasi kerentanan dalam perangkat lunak Apache Struts Web Framework yang digunakan oleh portal sengketa online Equifax untuk mendapatkan akses tidak sah ke sistem komputer agen pelaporan kredit.
Begitu masuk, keempatnya, diduga menjalankan sekitar 9.000 pertanyaan tentang sistem Equifax dari Mei hingga Juli 2017. Dari akses ilegal tersebut mereka mendapatkan data berupa nama, tanggal lahir, dan nomor Jaminan Sosial untuk hampir setengah dari warga AS.
Untuk mempersulit pelacakan lokasi, keempat tersangka mengarahkan lalu lintas melalui sekitar 34 server yang berlokasi di hampir 20 negara dan menggunakan saluran komunikasi terenkripsi dalam jaringan Equifax. Para tersangka juga menghapus file terkompresi dan menghapus file log setiap kali mereka memasuki sistem.
Jaksa Agung William P. Barr, mengungkapkan pihaknya telah memperingatkan pemerintah China terkait dengan berbagai kasus peretasan yang melibatkan peretas dari negara china. AS, kata Barr, memiliki kemampuan untuk menghapus kerahasiaan anonimitas Internet dan menemukan peretas yang berulang kali menyerang sistem di Amerika.
"Peretasan Equifax cocok dengan pola intrusi dan pencurian komputer yang disponsori negara dan tidak dapat diterima oleh China dan warganya yang menargetkan informasi yang dapat diidentifikasi secara pribadi, rahasia dagang, dan informasi rahasia lainnya," ujar Barr.
Keempatnya dijerat dengan dua tuduhan akses tidak sah dan kerusakan yang disengaja ke komputer yang dilindungi, satu tuduhan spionase ekonomi, dan tiga tuduhan penipuan.
Redaktur: Arif Rahman
Share: