
Ilustrasi
Ilustrasi
Cyberthreat.id - Jaringan internet di sebagaian wilayah Iran dilaporkan padam pada Sabtu (8 Februari 2020). Perwakilan Pemerintah menyebut infrastruktur telekomunikasi negara itu diserang menggunakan Distributed Denial of Service (DDoS). Ada pun organisasi pemantau keamanan siber dan tata kelola internet global, NetBlocks, menyebut pemerintah segera mengaktifkan mekanisme pertahanan siber untuk menormalkan situasi.
"Dikonfirmasi: Internet mati di sebagian #Iran mulai pukul 11:45 waktu setempat, data jaringan real-time (langsung) menunjukkan konektivitas nasional turun menjadi 75% setelah pihak berwenang dilaporkan mengaktifkan mekanisme isolasi Digital Fortress," tulis NetBlocks dalam cuitannya di Twitter baru-baru ini.
Melansir Forbes, "Digital Fortress" (Benteng Digital) juga dikenal sebagai DEZHFA. Ini adalah sebuah mekanisme pertahanan siber dan perisai dunia maya milik Iran.
Juru bicara Perusahaan Infrastruktur Telekomunikasi Iran yang berafiliasi dengan kementerian TIK atau ICT (Information Communication Technology) Iran, Sadjad Bonabi, dalam cuitannya di Twitter Bonabi mengatakan terlah terjadi serangan DDoS pada infrastruktur komunikasinya.
"Pada jam 9.30 hari ini, karena serangan Distributed Denial of Service (DDoS), internet menghambat beberapa operator tetap (telepon kabel) dan seluler selama satu jam," kata Bonabi dalam cuitannya, Sabtu (8 Februari 2020).
Namun, berdasarkan data dari observatorium internet NetBlocks, operator telepon di Iran butuh waktu sekitar tujuh jam untuk menormalkan kembali konektivitas internet di negara itu.
Menurut laporan NetBlocks, aktivasi DEZHFA yang dilakukan oleh otoritas Iran dilakukan untuk mengusir serangan siber pada infrastruktur negara tersebut. Bonabi menambahkan,"(serangan itu) sekarang sedang dinormalisasi dengan intervensi DEZHFA Shield dan upaya mitra infrastruktur komunikasinya," ujarnya.
Meskipun tidak dijelaskan siapa penyerang dibalik insiden ini, Bonabi menjelaskan bahwa tidak ada bukti bahwa serangan itu dilakukan oleh kelompok ataupun individu yang disponsori oleh suatu negara.
"Tidak ada tanda sponsor negara dalam serangan yang telah terdeteksi. Sumber dan tujuan serangan sangat terdistribusi. Sumber IP (Internet Protocol) palsu dari Asia Timur dan Amerika Utara digunakan dalam serangan DDoS," kata Bonabi seperti dikutip Financial Tribune.
Ini bukan pertama kali Iran mengalami serangan siber. Pada Desember lalu, pemerintah mengatakan telah menggagalkan "serangan siber yang sangat teroganisir" yang menargetkan infrastruktur e-govenment milik pemerintah.
Menteri Telekomunikasi Mohammad Javad Azari Jahromi menggambarkan serangan itu sebagai "sangat besar" dan "disponsori negara."
Sebelumnya, pada akhir September 2019, sektor energi negeri para Mullah itu "waspada penuh" terhadap ancaman serangan fisik dan siber, beberapa hari setelah Iran membantah laporan media bahwa instalasi minyaknya terganggu oleh serangan siber.
Pada November 2019, otoritas Iran memberlakukan pemadaman internet hampir menyeluruh ketika kekerasan jalanan meletus selama demonstrasi yang memprotes kenaikan harga BBM. Pemadaman internet dilakukan untuk membendung penyebarluasan video aksi demonstrasi atau tindak kekerasan yang terjadi saat demonstrasi berlangsung.[]
Editor: Yuswardi A. Suud
Share: