
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Cyberthreat.id – World Economic Forum (WEF) pekan lalu mengeluarkan laporan bertajuk “Laporan Risiko Global 2020”. Meski ancaman utama dan tertinggi masih di isu perubahan iklim dan bencana alam, pertumbuhan teknologi informasi juga menjadi perhatian.
Serangan siber (cyberattack) masuk dalam ancaman jangka pendek dan panjang. WEF memperingatkan bahwa teknologi yang muncul seperti barang-barang internet (Internet of Things/IoT), kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan komputasi kuantum dapat membawa konsekuensi terhadap serangan siber.
Dalam laporan tahunan ke-15, dibuat WEF yang bekerja sama dengan pialang asuransi dan manajemen risiko Marsh, disebutkan, pelanggaran data dan serangan siber muncul dalam lima besar risiko global yang paling mungkin terjadi pada 2018 dan 2019.
"Saya tidak akan meremehkan pentingnya risiko teknologi, meskipun laporan tahun ini memiliki pusat perhatian pada iklim," kata John Drzik, Ketua Marsh & McLennan Insights dilansir dari ZDNet pada Kamis (16 Januari 2020).
Meski serangan siber tidak masuk dalam lima besar risiko global 2020, bukan berarti ancaman keamanan siber tidak menimbulkan risiko. WEF memberikan peringatan bahwa risiko siber masih terjadi.
"Sifat digital dari teknologi 4IR (revolusi industri 4) membuat mereka secara intrinsik rentan terhadap serangan yang dapat mengambil banyak bentuk, mulai dari pencurian data dan ransomware hingga penyaluran sistem potensi konsekuensi berbahaya skala besar," tulis laporan itu.
Laporan WEF juga memperingatkan bahwa banyak vendor teknologi yang menempatkan "security-by-desain" menjadi perhatian kedua dibandingkan dengan mengeluarkan produk ke pasar.
Menurut laporan itu, sejumlah produsen produk IoT menempatkan penjualan produk di atas memastikan keamanannya. Dalam banyak kasus, perangkat IoT mengumpulkan dan berbagi data pribadi yang sangat sensitif seperti catatan medis, informasi tentang bagian dalam rumah dan tempat kerja, atau data dalam perjalanan sehari-hari.
Data-data tersebut jika tidak dikumpulkan dan disimpan dengan tepat akan berbahaya. Tak hanya itu, WEF juga memperingatkan mengenai potensi data IoT yang disalahgunakan oleh pialang data. Penyalahgunaan data dapat menyebabkan kerugian fisik dan psikologis.
Selanjutnya, kecerdasan buatan juga dirinci sebagai teknologi yang memiliki manfaat serta dapat menyebabkan masalah. Laporan tersebut mencatat risiko AI yang sudah diketahui, seperti menghasilkan disinformasi dan deepfake.
Laporan itu juga merilis peringatan inovasi lainnya yaitu dari komputasi kuantum. Memperingatkan terutama jika penjahat siber atau peretas jahat lainnya mendapatkan akses ke teknologi kuantum, “mereka dapat melakukan serangan terhadap data pribadi, infrastruktur penting dan jaringan listrik.”
"Teknologi ini benar-benar membentuk kembali industri, teknologi dan masyarakat pada umumnya, tapi kami tidak memiliki protokol di sekitarnya untuk memastikan dampak positif terhadap masyarakat," kata Mirek Dusek, Wakil Kepala Pusat Untuk Urusan Geopolitik dan Regional WEF.[]
Redaktur: Andi Nugroho
Share: