
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Miramar, Cyberthreat.id – The Centre for Facial Restoration Inc. (TCFFR), sebuah klinik bedah wajah di Florida, Amerika Serikat, diserang geng ransomware. Sejauh ini, perusahaan belum membeberkan jenis ransomware yang dipakai tersebut.
Penyerang meminta sejumlah uang tebusan (ransom) jika data informasi pribadi para pasien tidak dibocorkan ke publik. Serangan siber tersebut menghantam klinik pada November 2019, tulis Inforsecurity Magazine, Jumat (10 Januari 2020).
Para peretas menuntut pembayaran uang tebusan dari pendiri perusahaan TCFFR, Richard Davis. Jika tidak dituruti, penyerang mengancam untuk membocorkan data pasien.
Istilah ransomware berasal dari dua gabungan kata: ransom (tebusan) dan software (perangkat lunak). Ransomware bagian dari keluarga malware atau malicious software (perangkat lunak jahat) yang digunakan penjahat siber untuk meminta uang tebusan.
Berita Terkait:
Setelah komputer atau jaringan terinfeksi ransomware, kode jahat yang disusupkan bekerja dengan memblokir akses ke sistem, atau mengenkripsi data pada sistem itu.
Barulah, penjahat dunia maya menuntut agar para korban membayar tebusan untuk mendapatkan kembali akses ke komputer atau data mereka.
Serangan ransomware menjadi metode yang paling disukai penjahat siber untuk mengeruk uang dalam beberapa tahun terakhir, terutama di lembaga pemerintahan.
Berita Terkait:
Data pasien
Richard Davis mengatakan, dirinya mendapatkan kiriman pesan anonim dari penjahat siber yang mengatakan telah melanggar server perusahaan. Pesan itu datang pada 8 November 2019.
“Peretas mengklaim memiliki data pasien lengkap yang dapat dipublikasikan atau diperdagangkan ke pihak ketiga,” ujar Richard.
Data yang dikompromikan kemungkinan besar, termasuk SIM, paspor, alamat rumah, alamat e-mail, nomor telepon, foto pasien, dan tanda terima pembayaran kartu kredit.
Penjahat tersebut selain meneror bos klinik kesehatan, juga menyerang sejumlah pasien dengan meminta uang tebusan. Sekitar 15 hingga 20 pasien dikabarkan telah mengalami teror pemerasan.
Berita Terkait:
Namun, Richard enggan mengungkapkan berapa nilai uang tebusan yang diminta peretas. Ia menduga jumlah pasien yang terkena dampak serangan siber tersebut sekitar 3.500 orang baik pelanggan lama maupun terbaru.
Richard mengatakan, telah melaporkan insiden siber itu ke Pusat Kejahatan Siber FBI pada 12 dan 14 November 2019.
Ia menginformasikan bahwa invesitgasi sedang berlangsung dan mengarahkan pasien yang menerima ancaman agar mengajukan gugatannya secara online di www.ic3.gov.
Semenjak serangan tersebut, kata Richard, perusahaan memasang hard disk baru, firewall, dan perangkat lunak pendeteksi virus/malware untuk mencegah insiden serupa terjadi.[]
Redaktur: Andi Nugroho
Share: