
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Beijing, Cyberthreat.id – Usianya masih 8 tahun. Ia mendadak populer di forum internet ketika menjadi guru koding secara online.
Ia memiliki hampir 60.000 pengikut di saluran streaming video China, Bilibili sejak Agustus 2019. Di video tersebut, ia membuat tutorial koding dan telah dilihat lebih dari 1 juta tampilan.
Bocah cerdas itu bernama Vita Zhou. Vita adalah salah satu dari sekian banyak anak di China yang belajar koding, bahkan sebelum mereka memasuki sekolah dasar, seperti diberitakan Japan Times, 13 Desember 2019.
Tren ini dipicu oleh kepercayaan orangtua bahwa keterampilan koding akan sangat penting bagi remaja China mengingat dorongan teknologi pemerintah.
“Koding tidak semudah itu, tetapi juga tidak sulit, setidaknya tidak sesulit yang Anda bayangkan,” kata Vita yang tinggal di Shanghai.
Bocah lelaki itu menggunakan salurannya untuk dengan sabar membawa murid-muridnya–sebagian besar adalah anak-anak lebih tua darinya dan dewasa muda–selangkah demi selangkah melalui aplikasi koding yang dirancang oleh Apple bernama Swift Playgrounds, sebuah aplikasi yang mengajarkan anak-anak pengkodean dasar melalui permainan interaktif.
"Ketika saya mengajar, saya belajar hal-hal baru pada saat yang sama," tutur Vita. Ia kadang sengaja membuat kesalahan untuk menunjukkan kesalahan umum yang harus dihindari saat koding.
Di salurannya, ia memberikan video pelatihan untuk anak-anak lain tentang cara membuat kode untuk kecerdasan buatan (AI). Ia pun menarik perhatian CEO Apple, Tim Cook, dan menerima ucapan selamat ulang tahun di Weibo—platform semacam Twitter di China.
Dengan bantuan ayahnya, Zhou Ziheng, Vita mendemonstrasikan cara menulis kode. Zhou saat ini bekerja sebagai penerjemah lepas buku-buku ilmiah dan teknologi. Ia mengaku mulai mengajar putranya cara menulis kode ketika Vita berusia lima tahun, dan melihat kemampuan anaknya, ia pun langsung membuat kanal belajal koding untuk membantu anak lainnya belajar.
"Saya belajar koding ketika saya masih muda. Jadi, saya selalu percaya bahwa anak saya belajar koding pada usia ini adalah sesuatu yang normal," ujar Zhou.
Gebrakan kurikulum
Ketika Vita berusia empat tahun, Zhou mulai dengan memainkan beberapa game yang berhubungan dengan koding bersama. Namun, pertengahan tahun 2019, Vita mengejutkan ayahnya dengan berhasil menulis ulang kode dalam aplikasi, yang tidak bekerja dalam sistem yang diperbarui, dan dilakukan sendirian.
"Saya menyarankan kepadanya untuk mencatat bagaimana dia menulis ulang kode-kode ini," kata Zhou.
Vita muncul sebagai “selebritas koding” ketika China meningkatkan upaya untuk menjadi pemimpin dunia dalam kecerdasan buatan pada 2030.
Menurut laporan kantor berita AFP, yang dikutip Euronews, Sabtu (4 Januari 2020), kecenderungan mengajar kaum muda untuk kode telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama ketika China berjuang untuk menutup kekurangan tenaga kerja di sektor teknologi, terutama bakat AI.
China menghadapi kekurangan 5 juta profesional AI, menurut artikel yang dikeluarkan media pemerintah, People’s Daily.
Oleh karenanya, pada November 2019, Kementerian Pendidikan China memperbarui kurikulumnya untuk memasukkan buku-buku tentang AI, data besar (big data), koding, dan komputasi kuantum.
Daftar bacaan yang direkomendasikan kepada anak-anak yaitu tentang sains, matematika, kimia, aerospace, kedokteran, dan yang paling terkenal adalah AI.
Untuk menutup kesenjangan bakat, China mempercepat pendidikan AI untuk anak-anak, di samping upaya untuk meningkatkan basis bakat dari universitas. Pada 2018, ada 96 universitas di China dengan program terkait AI, naik dari hanya 19 kampus pada 2017.
Sejumlah perusahaan AI China seperti iFlytek, SenseTime, Cloudwalk, dan DJI, telah menarik perhatian dunia karena menonjol dalam pengenalan suara, pengenalan wajah, dan teknologi drone.
Perusahaan teknologi besar China, seperti Baidu, Tencent, Alibaba dan Huawei, juga telah banyak berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan AI.
Tidak hanya China
China tidak sendirian dalam meningkatkan pendidikan AI. Pemerintah seperti Prancis, Korea Selatan, dan Amerika Serikat juga memiliki strategi untuk memperluas tenaga kerja mereka di sektor ini dengan investasi yang meningkat, meski sebagian besar berada pada tingkat post-secondary, menurut laporan UNESCO tahun 2019.
Banyak negara anggota Uni Eropa juga meninjau kurikulum mereka untuk mengintegrasikan lebih banyak pelajaran tentang pemikiran komputasi di kelas. Beberapa negara seperti Austria, Polandia dan Lithuania telah lama memberikan pendidikan ilmu komputer yang kuat di sekolah menengah, tulis AFP.
Di Shenzhen, pusat teknologi China, program AI untuk siswa di kelas 3 hingga 8 diuji coba pada 2019.
Zheng Weicheng, seorang guru matematika sekolah dasar di provinsi Fujian, berpikir bahwa mengajar AI juga memiliki manfaat yang lebih luas dengan membantu anak-anak membangun konsep ilmiah dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah mereka.
"Kaum muda yang diperlengkapi dengan baik menyebabkan negara yang kuat," kata Zheng.
Sementara itu, Manajer Umum Tongcheng Tongmei—pusat pendidikan koding—Pan Gonbo, mengatakan, bahwa pendidikan programming di China, terutama di sekolah umum sangat terlambat dibandingkan negara-negara maju. Jadi, kami mencoba mengejar kekurangan itu, kata Pan.
Di sekolah itu, anak termuda berusia 3 tahun. Untuk anak di bawah 6 tahun, sekolah menawarkan program khusus yang mencakup kegiatan seperti pembangunan Lego, yang juga menggunakan pengetahuan dan keterampilan koding.
Menurut Pan, anak-anak di 6 atau 7 sepenuhnya mampu belajar koding dalam perkembangan kognitif. “Jangan meremehkan kecepatan belajar anak-anak. Di beberapa kursus kami, mereka belajar lebih cepat daripada orang dewasa kami,” kata dia.
Ji Yingzhe, yang berusia 10 tahun, telah mempelajari bahasa koding Python selama sekitar enam bulan. Ayah Ji mengirimnya untuk belajar pemrograman karena dia menghabiskan banyak waktu bermain video game.
Ada aturan baru di rumah yang dibuat ayahnya, yaitu “Ji hanya bisa bermain game yang dia ciptakan sendiri.” Ji kini hampir selesai menulis versi sederhana dari game populer Plants vs Zombies.
Rendah hati
Pada November 2019, Vita mengikuti kompetisi koding untuk siswa sekolah dasar yang diadakan oleh Shanghai Computer Society. Dia menghabiskan dua bulan mempelajari bahasa koding C++ untuk kompetisi tersebut dengan bantuan ayahnya dan ia pun melajur ke final.
Zhou, ayah Vita, selalu mengatakan kepada anaknya, meski sudah menguasai koding, harus tetap menjadi orang yang rendah hati. "Saya mengatakan kepadanya, 'Kamu belum melakukan sesuatu yang luar biasa’," kata Zhou. "Ini hanya satu langkah pembelajaran koding."
Vita mengatakan senang hanya memiliki penggemar dan pengikut. "Koding adalah tantangan jangka panjang," kata Vita.
Redaktur: Andi Nugroho
Share: