IND | ENG
Ini Kata Pakar Soal Keamanan Teknologi 5G

Ilustrasi | Foto: Freepik

Ini Kata Pakar Soal Keamanan Teknologi 5G
Eman Sulaeman Diposting : Jumat, 03 Januari 2020 - 18:15 WIB

Jakarta,Cyberthreat.id- Teknologi generasi ke 5 (5G) digadang-gadang bakal memberikan experience berinternet dengan kecepatan yang maksimal dan mampu memberikan banyak manfaat bagi pengguna.

Sejumlah negara bahkan sudah mulai menerapkan teknologi ini. Di Indonesia sendiri, teknologi 5G sedang dalam tahap uji coba yang dilakukan oleh sejumlah operator telekomunikasi di Tanah Air.

Teknologi 5G diperkirakan 100 kali lebih cepat dari teknologi 4G saat ini, dengan latensi atau waktu jeda 25 kali lebih rendah, dan sebanyak satu juta perangkat didukung dalam jangkauan satu kilometer persegi.

Amin Hasbini, Head of Research Center, Global Research & Analysis (GReAT) Team, Timur Tengah, Turki dan Afrika mengatakan, fondasi yang membentuk 5G dapat dirangkum dalam lima teknologi, yaitu, gelombang milimeter, jaringan sel kecil, MIMO masif (Multiple Input Multiple Output), beamforming dan byte duplex penuh.

“Dengan peningkatan dramatis dalam jumlah dan kecepatan transfer, tentu menjadi potensi bagi perangkat yang terhubung dengan munculnya ekspansi alami dan amplifikasi ancaman,” kata Amin dalam keterangan pers, Jumat, (3 Januari 2020).

Menurut dia, berbagai evolusi, pengembangan, dan konektivitas dalam sistem 5G, juga terbuka kemungkinan berbagai ancaman yang mengiringi perkembangan teknologi 5G. Berikut kerentanan yang dapat ditimbulkan dari teknoloi 5G.

1. Kerentanan layanan dan infrastruktur Telekomunikasi

Seiring inovasi 5G menyebar luas, akan terdapat juga beberapa kekurangan dan ketidaksempurnaan yang akan muncul pada peralatan 5G, kerangka kerja pelanggan (customer framework) dan administrasi para pihak berwenang.

Kekurangan semacam itu dapat memungkinkan para pelaku kejahatan siber merusak infrastruktur telko, melumpuhkan, memata-matai atau mengalihkan lalu lintasnya.

“Negara-negara perlu mengatur kemampuan nasional dalam penanganan teknik konfirmasi objektif yang khusus mengevaluasi baik pengadopsi dan pemasok 5G, untuk mengevaluasi kekurangan yang perlu diperbaiki,” ujar Amin.

2. Masalah Keamanan dan Privasi Pengguna

Ketika berbicara tentang privasi, persoalan akan menjadi lebih kompleks. Munculnya 5G dengan jarak pendek akan berarti lebih banyak menara komunikasi sel yang digunakan untuk pusat-pusat dan bangunan komersial.

Dengan perangkat yang tepat, seseorang mungkin dapat mengumpulkan dan melacak lokasi pengguna secara akurat. Masalah lainnya adalah bahwa para penyedia layanan 5G akan memiliki akses luas ke sejumlah besar data yang dikirim oleh perangkat pengguna, sehingga dapat menunjukkan apa yang benar-benar terjadi di dalam lokasi rumah atau setidaknya menggambarkannya melalui metadata di lingkungan sekitar pengguna, sensor in-house dan parameter internal.

Data tersebut dapat mengekspos privasi, memanipulasi dan penyalahgunaan data pengguna. Penyedia layanan juga bisa saja mempertimbangkan menjual data tersebut ke perusahaan layanan lain seperti pengiklan dalam upaya untuk membuka aliran pendapatan baru. Bahkan dalam kasus yang berbeda, kerentanan dapat menyebabkan cedera.

Contohnya pada alat terapi, yang bisa diputus sambungannya sehingga tidak lagi beroperasi, menjadikannya sebagai penyebab sejumlah besar risiko dan dapat membahayakan.

“Ancaman lebih besar juga akan terjadi ketika komponen infrastruktur penting seperti air dan peralatan energi memiliki potensi risiko,” jelas Amin.

3. Perluasan Infrastruktur Kritikal dan Risikonya

5G akan membantu dalam menyebarkan komunikasi ke sejumlah besar wilayah geografis dibandingkan situasinya saat ini dan juga mendukung perangkat yang tidak dapat terhubung jaringan dengan pemantauan dan kontrol jarak jauh.

Dengan banyaknya sistem terkait dan terhubung sangat membantu konektivitas namun juga dapat mengubah infrastruktur non-kritis menjadi kritis dan karenanya memperluas sejumlah risiko.

“Masyarakat pada umumnya tertarik untuk mengadopsi kemudahan dan komunikasi tanpa henti, namun dalam kasus ancaman nyata, ketertiban umum kerap berada dalam risiko,” ungkap Amin.

4. Rencana aksi

5G akan memiliki dampak revolusioner pada telekomunikasi. karena di samping teknologi itu sendiri, 5G akan menjadi dasar untuk teknologi dan penemuan lainnya.

5G memberikan dorongan bagi jalannya pengembangan teknologi, khususnya di bidang kota-kota pintar, jaringan listrik cerdas dan fasilitas pertahanan. Ini adalah generasi berikutnya dari jaringan seluler saat ini yang menggunakan 4G LTE sekaligus membuka pita gelombang millimeter.  

5G akan dapat menyambut lebih banyak perangkat yang terhubung jaringan dan memberikan kecepatan luar biasa bagi seluruh pengguna.

Namun, seperti setiap teknologi yang signifikan, terutama ketika sedang berkembang, 5G kemungkinan akan menarik perhatian pelaku ancaman yang akan mencari peluang untuk menyerangnya.

“Contohnya kita melihat serangan DDoS skala besar, atau tantangan dalam melindungi jaringan canggih dari perangkat yang terhubung, jika kualitas perlindungan 5G umpamanya dipertimbangkan, maka apabila terjadi satu kesalahan kecil dapat menyebabkan kelumpuhan seluruh jaringan,” jelas Amin.

Perangkat Internet of Things (IoT) dan Machine to Machine (M2M) diharapkan menempati porsi lebih besar dari kapasitas jaringan. Interaksi pada seluruh perangkat dalam jaringan 5G ini kemungkinan akan memicu masalah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam desain produk dan perilaku perangkat.

Seiring dengan kekhawatiran dan tantangan semacam itu, penerapan model jaringan zero-trust dan penilaian kualitas produk secara ketat dapat membantu membangun kepercayaan antara pengguna dan penyedia teknologi.

Amin menyarankan, pemerintah dan para pemimpin industri harus bekerja sama dalam upaya membawa proyek teknologi 5G yang aman dan nyaman untuk meningkatkan layanan dan kualitas hidup bagi masyarakat di era smart city seperti sekarang ini.

Pasalnya, perangkat IoT dan M2M juga diperkirakan akan menempati bandwidth jaringan 5G. Bagaimana semua perangkat dalam jaringan 5G akan mengungkap masalah yang sebelumnya tidak diketahui dalam desain dan perilaku 5G.

Sehubungan dengan kekhawatiran semacam itu, mengadopsi model jaringan zero-trust, penilaian kualitas yang ketat dan kesesuaian aturan akan membantu membentuk hubungan baik antara para pengguna dan penyedia teknologi.

“Vendor hi-tech dan struktural pemerintahan harus bekerja sama dalam upaya mencegah eksploitasi 5G oleh para aktor ancaman dan melestarikan fitur inovatifnya demi kemajuan teknologi dan peningkatan kualitas kehidupan di era saat ini,” tutur Amin.

 

#5g   #kerentanan   #kemanan   #teknologi5g   #mimo   #iot   #m2m   #jaringan   #seranganddos

Share:




BACA JUGA
SiCat: Inovasi Alat Keamanan Siber Open Source untuk Perlindungan Optimal
Menteri Budi Arie: Penerapan IoT Tingkatkan Efisiensi Smart City
Optimalkan Layanan Publik, Kominfo Dorong Pemda Implementasikan Smart City
Huawei Ujicoba Internet Super Ngebut, Saingi Starlink Elon Musk
Kill Switch Misterius Ganggu Operasi Botnet Mozi IoT