
Wakil Menteri Pertahanan RI (Wamenhan) Sakti Wahyu Trenggono
Wakil Menteri Pertahanan RI (Wamenhan) Sakti Wahyu Trenggono
Cyberthreat.id - Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) RI, Sakti Wahyu Trenggono, mengatakan perang di masa depan akan didominasi oleh kekuatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Perang siber ini akan menggunakan konsep seperti Network Centric Warfare (NCW) dan kemampuan peperangan siber (Cyber Warfare) pada suatu platform persenjataan.
“Perang kedepan itu, memiliki banyak aset seperti pesawat tempur atau peluru kendali (missile) tidak dengan sendirinya menjamin suatu negara memiliki kekuatan daya tangkal. Tanpa diimbangi kemampuan mengeksploitasi konsep-konsep perang yang inovatif dan kreatif,” kata Trenggono di postingan blog Kemhan.go.id di Bogor, Kamis (19 Desember 2019).
Perpaduan antara teknologi dan konsep operasi perang yang inovatif merupakan pengertian paling mendasar. Dalam hal ini, perpaduan tersebut dinamakan sebagai Revolution in Military Affairs (RMA) yang bertumpu pada kecanggihan teknologi.
Menurut dia, NCW maupun Cyber Warfare harus didukung oleh sistem perpaduan antara teknologi sensor dan teknologi informasi-komunikasi yang robust (kuat). Agar dapat melakukan “Big Data Analysis” yang diperlukan dalam domain Intelligence, Surveillance, Target, Acquisition dan Reconnaissance (ISTAR).
Analisa domain ISTAR, kata dia, diperlukan untuk mengungkap informasi strategis yang dimiliki musuh atau bakal lawan (perang). Analisa tersebut diperlukan untuk mengambil keputusan dan langkah strategi khusus dalam suatu peperangan.
“Konsep Network Centric Warfare menuntut cara berpikir baru yang koheren pada semua level operasi militer. Baik dari taktis sampai strategis dimana teknologi menjadi core-nya (intinya),” ujar Trenggono.
Secara keseluruhan ‘Network Centric Warfare’ akan menjadi semacam “Internet of Things” dari medan operasi perang yang mengandalkan teknologi atau sistem manajemen komunikasi-informatika dan sensor-sensor untuk dapat meningkatkan kesadaran akan kesadaran situasional dalam peperangan.
SDM Sangat Krusial
“Saya melihat bahwa periode 2020-2024 adalah periode pemerintahan yang penting untuk menentukan arah pembangunan jangka panjang kekuatan pertahanan Indonesia 25 tahun yang akan datang. Terutama, dalam soal menguasai teknologi yang menjadi kebutuhan pertahanan di masa depan.”
Trenggono menambahkan, penyelenggaraan pertahanan negara menuntut sumber daya manusia (SDM) yang unggul, cerdas, kreatif dan inovatif. Industri pertahanan dalam negeri yang kuat harus didukung oleh kemampuan penelitian dan pengembangan (R&D) dalam negeri yang mumpuni.
“Karena itu saya mendorong semua ekosistem di industri pertahanan nasional untuk tanggap terhadap perubahan lingkungan strategis yang terjadi dan mulai berinvestasi untuk mengembangkan teknologi pertahanan yang mumpuni agar kita menjadi bangsa mandiri dan berdikari (berdiri di kaki sendiri).”
Share: