
Bank Sbanken yang berkantor pusat di Bergen, Norwegia menawari bocah 13 tahun itu untuk bekerja pada musim panas nanti. Foto: brandingsource.blogspot.com
Bank Sbanken yang berkantor pusat di Bergen, Norwegia menawari bocah 13 tahun itu untuk bekerja pada musim panas nanti. Foto: brandingsource.blogspot.com
Oslo, Cyberthreat.id – Seorang siswa berusia 13 tahun dari Bergen, sebuah kota terbesar kedua di Norwegia, menjadi perhatian publik setempat setelah mengungkapkan kebocoran sekitar 35.000 informasi pribadi siswa dan karyawan sekolah di kota itu.
Akibat dari pernyataan itu, kepolisian setempat malah menyita komputer miliknya itu dan mengklaim bahwa dirinya dianggap merusak reputasi kota.
Namun, seperti dikutip dari The Nordic Page, yang diakses Minggu (12/5/2019), setelah kejadian itu, bocah cilik yang tak disebutkan namanya itu justru ditawari untuk pekerjaan musim panas (summer job) di sebuah perusahaan perbankan online, Sbanken, juga berkantor pusat di Bergen.
"Tampak jelas bahwa dia memiliki talenta dengan keahliannya, kami investasi besar untuk hal ini," kata Direktur Digital Sbnaken Christoffer Hernæs mengomentari bakat si bocah tersebut. Hernæs mengatakan sengaja menawari remaja itu pekerjaan untuk mengembangkan keahliannya.
Menurut dia, keamanan data seperti halnya perlombaan senjata. Saat ini, bisnis digital secara aktif mencari talenta-talenta yang bisa menemukan lubang dalam sistem keamanan data.
Sangat penting, kata dia, perbankan menciptakan sistem keamanan data yang tinggi. "Bagi kami yang bekerja dalam keamanan data, ada ‘perlombaan senjata’ antara mereka yang ingin melindungi dan mereka yang tidak memiliki niat seperti itu," kata Hernæs seperti dikutip dari NRK, salah satu media juga jaringan radio berpusat di Oslo.
"Untuk berjaga-jaga terhadap mereka yang menyerang sistem kami, kami harus berpikir seperti penjahat," ia menambahkan.
Sebetulnya, kejadian yang dialami bocah 13 tahun itu pernah terjadi sebelumnya. Pada 2003, Thomas Tjøstheim, mahasiswa Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) di Universitas Bergen menemukan kesalahan dalam sistem login dan konfirmasi online di sebuah bank.
Dalam pertemuan dengan bank tersebut, mahasiswa pascasarjana itu menyerahkan dokumentasi yang memperlihatkan layanan login yang rentan.
"Saya mungkin dipandang sebagai penjahat. Namun, pandangan itu berubah ketika saya jelaskan mengapa dan apa yang saya lakukan itu bagian dari studi," kata Thomas.
Setelah pertemuan itu, bank tersebut akhirnya memperbaiki sistem login-nya. Pada 2011, Thomas akhirnya direkrut oleh bank tersebut untuk bertanggung jawab atas sistem login dan konfirmasi online yang pernah diretasnya. Ia pun kini menjabat sebagai pengembang konsep di bank tersebut.
Bagaimana nasib bocah itu?
Hernæs mengatakan bahwa anak tersebut akan diterima untuk bekerja selama dua pekan selama musim panas.
"Kebutuhan menumbuhkan bakat untuk keamanan data sangatlah bagus dan perusahaan harus merangkul mereka yang menguji sistem komputer kami dengan rasa terima kasih," kata Hernæs.
Kepada NRK, ayah dari anak itu mengaku sangat senang kali dan tawaran pekerjaan itu adalah sesuatu yang luar biasa. Ia mengaku anaknya tak sabar untuk memulai pekerjaan tersebut.
"Rencana, dia menerjemahkan ke dalam kode bahasa yang ia bisa. Kami terkesan bahwa kita memiliki perusahaan yang komitmen dalam pengembangan produk digital baru dan berani berinvestasi di masa muda," kata ayahnya itu.
Direktur ICT Norwegia, Torgeir Waterhouse, juga pakar teknologi informasi di Norwegia, menyambut baik apa yang dilakukan Sbanken. Dengan kondisi tingkat keamanan digital di Norwegia yang ia khawatirkan, ide Sbanken merekrut anak tersebut adalah penting. Kenapa? “(Karena) untuk mencari dan berkolaborasi dengan peretas dalam mengungkap kesalahan dalam sistem TI,” ujar Waterhouse.
"Merawat anak-anak muda yang menemukan celah dalam solusi TI adalah jalan yang harus dilakukan dan kami (dalam kondisi) terlalu buruk saat ini. Mereka (anak-anak muda) lebih memiliki pendekatan yang sama sekali berbeda karena mereka tumbuh dengan teknologi," Waterhouse menjelaskan.
Share: