
Topeng yang diciptakan oleh peneliti Kneron. | Foto: Kneron
Topeng yang diciptakan oleh peneliti Kneron. | Foto: Kneron
Cyberthreat.id – Sejumlah negara Eropa dan Amerika Serikat, bahkan termasuk China, telah mulai menggunakan teknologi pengenalan wajah (facial recognition/FR) di ruang publik.
Teknologi tersebut secara luas diadopsi sebagai cara membantu penegak hukum atau perusahaan untuk mengawasi ruang publik atau toko ritelnya dari penjahat.
Sayangnya, teknologi pengenalan wajah itu bisa keliru. Peneliti Kneron, perusahaan penyedia solusi kecerdasan buatan (AI) asal Amerika Serikat, baru-baru ini mengeluarkan teknik yang mengelabui sistem FR. Caranya, peneliti menciptakan topeng yang dicetak dengan wajah orang yang berbeda.
Dikutip dari Business Insider Singapore, Kamis (12 Desember 2019), dengan topeng tercetak itu mereka menguji coba tablet pembayaran yang dijalankan oleh perusahaan China, Alipay dan WeChat, juga pos pemeriksaan perbatasan di China. Hasilnya, topeng itu bisa mengelabui sistem FR.
Lalu, mereka juga melakukan uji coba di Amsterdam, topeng itu juga berhasil mengelabui sistem FR di gerbang pengontrol paspor di Bandara Schipol.
Peneliti pun mengkhawatirkan dengan kondisi tersebut. Itu artinya seseorang siapa saja bisa mencetak topeng menyerupai orang lain agar bisa melewati pos pemeriksaan keamanan atau pembayaran di toko ritel.
"Penyedia teknologi harus dimintai pertanggungjawaban jika mereka tidak melindungi pengguna dengan standar tertinggi,” kata CEO Kneron Albert Liu.
Ia mengkhawatirkan kondisi di lapangan, “Ada begitu banyak perusahaan yang terlibat yang menyoroti masalah industri dengan teknologi pengenal wajah di bawah standar," kata dia.
Uniknya, teknik topeng itu juga bisa mengelabui sistem FR yang dikembangkan oleh Kneron sendiri. Namun, peneliti juga mengatakan, penggunaan topeng saat pemeriksaan juga tak mudah dilakukan karena di pos pemeriksaan juga terdapat petugas jaga.
Hanya, penelitian tersebut ingin menunjukkan, masih ada kelemahan dari sistem FR yang bisa diakali sehingga potensi deteksi FR keliru masih sangat tinggi.
Selain itu, ada pula kabar baiknya dari uji coba tersebut.
Peneliti tidak berhasil mengelabui sistem FR yang dibuat oleh Apple dan Huawei. Jadi, topeng tersebut tidak bisa menipu Face ID di perangkat Apple dan Huawei. Meski memakai topeng dengan wajah dari pemilik iPhone, orang lain atau penjahat tetap tak bisa menembus untuk membuka Face ID pada iPhone.
“Keduanya menggunakan teknologi yang lebih canggih yang dikenal sebagai pencitraan cahaya terstruktur,” tutur Liu.
Redaktur: Andi Nugroho
Share: