
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Cyberthreat.id – Emsisoft, perusahaan perangkat lunak keamanan asal Selandia Baru, mengumumkan dalam laporan terbarunya, bahwa ransomware menjadi tren ancaman siber tahun ini.
Ransomware harus menjadi perhatian pemerintah untuk meningkatkan keamanan jaringan dan perangkat. Analisis Emsisoft juga mendasarkan pada catatan serangan ransomware di sejumlah pemerintah kota di Amerika Serikat beberapa waktu lalu.
"Perkembangan ini meningkatkan ancaman ransomware ke tingkat krisis dan bahwa pemerintah harus segera bertindak untuk meningkatkan keamanan mereka dan mengurangi risiko. Jika tidak, kemungkinan insiden serupa juga akan menghasilkan informasi yang sangat sensitif yang oleh pemerintah dicuri dicuri dan bocor,” ujar Emsisoft.
Sejak Januari hingga November 2019, menurut Emsisoft, sebanyak 948 lembaga terdiri atas kantor pemerintah (103), lembaga pendidikan (86), dan penyedia layanan kesehatan (759) di AS diserang ransomware. Menurut catatan Emsisoft, potensi kerugian dari serangan bisa melebihi US$ 7,5 miliar.
Akibat dari serangan itu:
CTO Emsisoft Fabian Wosa bersyukur serangan ransomware ke lembaga medis tak menyebabkan adanya pasien yang meninggal.
Ia menilai kejadian itu sebagai sebuah “keberuntungan” di tahun 2019. Namun, ia khawatir kejadian itu akan berulang pada tahun 2020. Maka, “Pemerintah dan sektor kesehatan dan pendidikan harus melakukan yang lebih baik," ujar dia seperti dikutip dari Infosecurity Magazine, Kamis (12 Desember 2019).
Mengapa ransomware terjadi?
Insiden ransomware meningkat tajam pada tahun 2019, menurut Emsisoft, karena kelemahan keamanan institusi. Di sis lain, mekanisme serangan semakin canggih yang dirancang khusus untuk mengeksploitasi kelemahan tersebut.
Faktor lain adalah kantor-kantor pemerintah cenderung:
Menurut Emsisoft, kejadian yang menimpa lembaga pemerintahan di AS karena hanya sebagian kecil dari mereka melakukan audit keamanan.
Sebuah laporan penelitian 2019 oleh University of Maryland terhadap lembaga pemerintahan menyebutkan:
“Penelitian kami menunjukkan bahwa sebagian besar pemerintah kota Amerika melakukan pekerjaan yang buruk dalam mempraktikkan keamanan siber,” tulis peneliti dalam laporannya.
Laporan itu ditulis oleh Donald F. Norris, Laura Mateczun, Anupam Joshi, dan Tim Finin
Menurut peneliti, pemkot-pemkot harus membangun budaya cybersecurity di seluruh organisasinya untuk melindungi informasi warga negara dan mempertahankan pemberian layanan berkelanjutan.
Share: