
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Cyberthreat.id – Malware Trojan perbankan menjadi ancaman potensial besar bagi lembaga keuangan dan pelanggannya. Laporan terbaru dari Blueliv, perusahaan intelijen ancaman siber asal Spanyol, menyebutkan, ancaman Trojan terus meningkat tiap tahun.
Blueliv membuat jajak pendapat yang dilakukan di Twitter dan diikuti 11.000 pengguna, hasilnya dimasukkan dalam laporan yang baru diluncurkan untuk sektor perbankan bertajuk “Follow the Money”.
Hampir sepertiga (31 persen) responden mengklaim Trojan perbankan adalah ancaman terbesar bagi perusahaan jasa keuangan, diikuti oleh malware mobile (28 persen), demikian menurut Infosecurity Magazine, Jumat (6 Desember 2019).
Laporan juga mengungkapkan perusahaan berhasil melacak Trickbot (283 persen) dan deteksi Dridex (130 persen) selama kuartal ketiga dan keempat 2019. Menurut Blueliv, botnet dikenal untuk mendistribusikan Trojans perbankan serta malware lainnya yang menargetkan layanan keuangan.
Melalui Jajak pendapat juga terungkap bahwa kurangnya keahlian (28 persen) adalah tantangan terbesar yang dihadapi tim keamanan teknologi informasi (TI) bank ketika mereka mencoba untuk membangun program.
CEO Blueliv Daniel Solis mengatakan, perbankan merupakan target bernilai tinggi untuk kejahatan siber. Oleh karenanya, sangat penting untuk organisasi jasa keuangan memantau apa yang terjadi baik di dalam maupun di luar jaringannya secara real-time.
“Intelijen ancaman dapat mengatasi kesenjangan keterampilan dunia maya melalui pemantauan otomatis terus-menerus yang dikombinasikan dengan sumber daya manusia untuk menyediakan konteks, pencegahan, dan investigasi ancaman yang sangat ditargetkan,” kata dia.
Redaktur: Andi Nugroho
Share: