IND | ENG
Alibaba Hadapi 2,2 Miliar Serangan Siber Selama 11.11

Ilustrasi

Alibaba Hadapi 2,2 Miliar Serangan Siber Selama 11.11
Faisal Hafis Diposting : Sabtu, 30 November 2019 - 19:51 WIB

Cyberthreat.id - Raksasa e-commerca dunia Alibaba Group telah mengumumkan keuntungan 158,31 miliar yuan atau setara dengan Rp 323 triliun dalam 9 jam pertama gelaran pesta belanja online tahunan bertajuk Single's Day pada Senin (11 November 2019).

Dibalik keutungan dan kemeriahan gelaran 11.11, Alibaba Group ternyata menghadapi 2,2 miliar serangan siber yang ditujukan ke Alibaba. Pihak Alibaba sendiri mengerahkan lebih dari 3 ribu spesialis dan ahli cybersecurity untuk menangkis serangan. Kemudian Alibaba juga menggunakan 1.258 model algoritma yang bekerja 24 jam non-stop.

Chief Risk Officer Alibaba, Jessie Zheng mengatakan, 2,2 miliar serangan siber pada gelaran ini mencakup beberapa kelas ancaman siber yang luas seperti; serangan pada arus jaringan dan serangan yang sifatnya memaksa dari hacker.

"Dengan adanya serangan tersebut, matriks atau algoritma terkait ancaman siber pada Alibaba jauh lebih kompleks dari sekedar serangan DDoS atau ancaman siber lainnya," ujar Zheng dilansir cpomagazine.com, Rabu (27 November 2019).

Menurut Zheng, serangan siber seperti DDoS merupakan ancaman yang rutin atau sering ditujukan ke Alibaba Group. Dengan adanya algoritma yang lebih kompleks serangan-serangan siber seperti DDoS dan lainnya mudah untuk ditangani.

Faktanya, dilansir chargedretail.co.uk, Alibaba Group berhasil menggagalkan 300 juta upaya peretasan setiap harinya.

Dan untuk menggagalkan 2,2 miliar serangan siber pada gelaran Singles'Day merupakan sebuah pencapaian tersendiri bagi Alibaba. Jika, dibandingkan dengan hari biasanya yang hanya menggagalkan 300 juta upaya peretasan, angka tersebut naik 7 kali lipat.

Founder Alibaba Group, Jack Ma mengatakan, Alipay telah memproses lebih dari 50 miliar USD transaksi per harinya. Alipay juga telah digunakan oleh hampir 1 miliar pengguna di seluruh dunia.

"Sejauh ini Alipay belum kehilangan satu sen pun dari hasil peretasan. Saya bangga akan hal itu," ujar Jack Ma pada Forbes Global CEO Conference, Oktober lalu.

Alibaba Intelligence

Salah satu kunci utama Alibaba dapat menangani ancaman siber secara masif adalah penggunaan Artificial Intelligent dan Machine Learning untuk menemukan pola-pola yang mencurigakan dan aktivitas jahat lainnya. Alibaba menyebutnya sebagai Alibaba Intelligence (Kecerdasan Alibaba).

Kami, lanjut Jack Ma, mengajarkan mesin itu semua cara bagaimana sesorang berbuat curang. Dan mesin akan mengingat, belajar, mengamati ratusan juta cara-cara curang.

"Jadi ketika kecurangan dimulai, mesin akan mengetahui bahwa ada yang curang. Dengan cara ini kami melindungi semua teknologi," kata dia.

Artificial Intelligence dan Machine Learning yang digarap Alibaba diklaim berhasil mengenali lebih dari 1 juta cara curang. Ini merupakan angka yang menakjubkan dan fantastis.

Tetapi, untuk mencapai mesin tersebut diperlukannya data yang sangat banyak agar mesin tersebut dapat mempelajarinya. Karena, seperti yang diketahui bahwa AI sangat bergantung pada ketersediaan data.

Jika, semakin banyak datanya, ketepatan AI untuk menghasilkan output yang diinginkan akan semakin akurat. Semakin banyak data untuk dipelajari, semakin baik mereka mempelajari ancaman siber.

Menurut Jack Ma, salah satu alasan mengapa algoritma AI yang digarap Alibaba sangat sukses adalah karena mesin itu dilatih hanya untuk menanggapi fakta dan tidak membiarkan emosi, bias atau dugaan kontekstual mengambil alih.

"Sebuah mesin hanya peduli apakah anda melakukan hal-hal baik atau buruk. Saya sekarang lebih mudah mempercayai mesin daripada mempercayai manusia untuk melindungi perusahaan, hanya karena seberapa efektif mereka di tempat risiko siber," ujar Jack Ma.

#Alibabaintelligence   #ai   #bigdata   #Analytics   #cybersecurity   #cyberthreat   #cloud   #IoT   #cyberattack   #Alipay   #transaksielektronik   #ekonomidigital   #machinelearning   #11.11

Share:




BACA JUGA
Demokratisasi AI dan Privasi
Luncurkan Markas Aceh, Wamen Nezar Dorong Lahirnya Start Up Digital Baru
Wujudkan Visi Indonesia Digital 2045, Pemerintah Dorong Riset Ekonomi Digital
Ekonomi Digital Ciptakan 3,7 Juta Pekerjaan Tambahan pada 2025
Hacker China Targetkan Tibet dengan Rantai Pasokan, Serangan Watering-Hole